Tersingkir dari UIN Bandung Dedi Bidik Hakim Agung

Share:



BANDUNG - Tanggal 6 Mei 2015, kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati  (UIN SGD) Bandung, segera menentukan rektor terpilih. Sementara Rektor non-aktif Prof Dedi Ismatullah memilih mundur dari pencalonan rektor dan membidik posisi hakim agung.



Hasil pemantauan, situasi politik di kampus Islami yang pernah digoyang isu foto bugil mahasiwinya itu kini mulai memanas. Status pejabat pengganti sementara (Pgs) rektor UIN Bandung Prof Muhtar Solihin juga mulai digoyang isu tidak sedap. Pasalnya, pembentukan panitia pemilihan rektor yang digagas Pgs diduga tidak sah alias ilegal.



Belakangan tersiar kabar bahwa Dedi Ismatullah yang dipecat Menteri Agama kembali akan menduduki posisi rektor, karena putusan sela sidang di PTUN Jakarta memenangkan posisi dirinya.



Alhasil hak Dedi jika dirinya harus kembali menduduki tahta rektorat. Sementara seluruh kebijakan Pgs dianggap tidak sah. "Termasuk kebijakan surat menyurat, program, sistem dan lain-lain," kata Dedi Ismatullah saat dikonfirmasi, Senin (27/4).



Namun demikian, Dedi tidak kepincut kembali ke posisi rektor, karena baginya posisi itu kini tidak menunjukan dirinya memiliki harkat martabat yang tinggi. Justru pengakuannya menduduki kembali rektor UIN sama dengan jalan di tempat, bahkan terkesan mundur.



Dedi sudah cukup menjabat rektor satu periode, itu pun karena Dedi mengaku sudah dibuking sejumlah perguruan tinggi lainnya sebagai dosen kehormatan maupun dosen ahli. Posisi guru besar dan anggota senat di
UIN Bandung pun masih dia sandang.



"Saya sudah cukup puas dengan jabatan satu periode, sekarang harus diteruskan oleh adik-adik saya yang belum pernah menjabat rektor," tandas Dedi. Meski menganggapnya tidak sah, namun Dedi tidak mempersoalkan kebijakan yang dikeluarkan Pgs rektor sekarang. Dedi menginginkan prosesi pemilihan rektor nanti berjalan mulus tanpa rintangan.



Dedi mengaku memiliki masa depan lebih bagus ketimbang hari ini, karena posisi hakim agung segera dia jabat. Dia juga pernah menjadi hakim adhok yang derajatnya sangat tinggi dibanding sekadar seorang rektor UIN. "Insya Alloh saya ingin jadi hakim agung, dan sekarang sedang mengupayakan ke finalisasi prosesnya," ungkap Dedi Ismatullah.



Kepala Biro Umum UIN Bandung, Jaenudin, saat dikonfirmasi di kantornya mengaku tidak gentar berhadapan dengan pihak rektor non-aktif yang memenangkan PTUN. Karena baginya kemenangan PTUN belum final, masih
berstatus putusan sela.



"Masih panjang cerita, artinya itu bukan sebuah kemenangan di sidang PTUN, bisa jadi besok berubah," kata Jaenudin. Dia termasuk satu dari belasan pejabat UIN Bandung yang diturunkan pangkatnya oleh rektor semasa Dedi Ismatullah.



Sedangkan Pgs Rektor UIN Bandung Prof Muhtar Solihin memilih hati-hati dalam bertindak. Selain dirinya sebagai pengganti sementara rektor UIN Bandung, dia juga akan mencalonkan dirinya pada pemilihan rektor yang pendaftaranya akan ditutup 30 April nanti.



"Pa Dedi Ismatullah tidak bisa berkiprah lagi pada posisi rektor, kan SK menteri sudah menunjuk saya sebagai pejabat pengganti. Artinya, kebijakan soal pembentukan panitia pemilihan rektor itu bagaimana saya. Dan itu sah secara hukum maupun akademik," papar Muhtar.



Dirinya berharap prosesi pemilihan berjalan baik, dia pun jika terpilih akan bersedia mengemban amanat akademik dan menhendaki UIN Bandung semakin baik, terbebas dari halangan dan rintangan. Sistem pun menurutnya akan dirobah dengan pola baru. "Doakan agar UIN Bandung mampu mendidik calon orang-orang hebat," kata Muhtar sambil berharap dirinya terpilih menjadi rektor.



Hingga awal pekan ini, panitia pemilihan yang sekretariatnya didirikan di kawasan kampus UIN Bandung, masih belum ramai. Belum ada riak-riak kegiatan para calon yang mendaftar. Para kandidat yang dibicarakan dan membidik posisi rektor itu sesuai statuta persyaratan sudah tersiar.



Mereka semuanya ada 12 kandidat, namun belum tentu seluruhnya mendaftarkan diri dalam pemilihan rektror UIN Bandung kai ini. Di antara mereka ialah Prof Muhtar Solihin, Prof Ali Ramdani,  Prof Mahmud, dan sederet guru besar lainnya yang memenuhi persyaratan.(Isur)

No comments