Aher Diperiksa Kasus Korupsi Stadion Gedebage

Share:
Foto: Radar Sukabumi

Oleh : SURYANA

PULUHAN media massa di Jakarta baik cetak, elektronik maupun media online, Jumat 15 Mei 2015 ramai memberitakan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yang diperiksa Bareskrim Mabes Polri. Begitu gencarnya media memberitakan keterlibatan Aher (panggilan akrab Ahmad Heryawan) dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Stadion Utama Gelora Bandung Lautan Api, Gedebade Bandung, sehingga mata masyarakat menyoroti Aher dengan berbagai persepsi.

Negara ini menganut asas praduga tak bersalah, Aher hanya sebagai saksi. Dan dalam pengakuannya kepada sejumlah media, Aher sebagai gubernur Jawa Barat sangat diperlukan keterangannya terkait anggaran yang dipakai untuk pembangunan stadion Gedebage itu. Provinsi justru yang memberikan bantuan anggaran kepada proyek itu, tetapi yang menggunakannya tentu saja Kota Bandung, waktu itu walikotanya dijabat Dada Rosada.

Menarik memang, apakah persepsi masyarakat mengarah kepada Aher tersangka, atau Aher hanya saksi? Itulah pekerjaan polisi yang dengan sangat hati-hati mengusut kasus dugaan korupsi itu. Proyeknya cukup besar, Stadion Utama Gelora Bandung Lautan Api di Gedebage itu menghabiskan anggaran Rp1,1 triliun. Sangat fantastis.

Aher terbilang pejabat yang sangat tegar, lagipula dia merasa sangat perlu memberikan keterangan kepada polisi terkait kasus tersebut. Dalam keterangannya kepada sejumlah media, Aher dengan lantang menyatakan siap diperiksa menjadi saksi jika Tim Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Mabes Polri perlu keterangan darinya. Itulah Aher, pria kelahiran Sukabumi tahun 1966 itu terkenal gubernur yang memiliki segudang prestasi dan penghargaan dari pemerintah pusat. Meski 10 jam diperiksa polisi, dirinya tetap tegar.

Berikut ucapan Aher sesaat sebelum dirinya diperiksa penyidik Mabes Polri. "Enggak masalah, no problem (jadi saksi). Dimintai keterangan, kan bantuannya memang dari provinsi. Jadi wajar saja ada keterangan dari gubernur, bantuan dari provinsi," ucap Aher seperti yang saya kutip dari berita AntaraNews.com Jumat (15/5/2015).

Asyiknya lagi, Aher melawan sinyalemen tudingan atas dirinya bahwa gubernur selaku pemberi anggaran tidak harus bertanggung jawab jika yang melakukan kesalahan adalah pengguna anggaran. Banyak orang yang mengakui Aher itu pejabat yang cukup cerdas dan tenang menghadapi pemeriksaan tersebut. Andai saja situasi ini dialami oleh orang yang jarang gerhadapan dengan masalah besar, tentu saja akan bergetar, lemas, mulut pun tidak punya jawaban.

Salah seorang pengamat hukum dari Bandung Erdi Djati Soemantri, SH menilai tingkat kesalahan seorang pejabat terletak pada hasil pemeriksaan hingga penyidikan petugas. Kemudian sebelum ada proses persidangan dan majelis hakim mengetuk palu keputusan, maka kesalahan seseorang belum diketahui secara terbuka hukum.

“Kita lihat saja apakah Aher hanya sebagai saksi atau berstatus lain. Hanya penyidik polisi yang akan menentukan hasilnya sesuai keterlibatannya. Kita harus praduga tak bersalah. Masyarakat tidak bisa melontarkan vonis sosial,” kata Erdi saat dihubungi via telepon, Jumat. Hanya saja, seorang pejabat yang diperiksa aparat hukum biasanya langsung ternoda. Apalagi Aher punya hasrat untuk manggung di Pemilu 2019 nanti, kasus ini diduga akan menghambat langkah dirinya ke pusat.

Bisa saja pemeriksaan itu hanya sebagai saksi yang justru keterangan sang pejabat sekaliber Aher akan membuka tabir kejahatan pihak lain di megaproyek itu. Pemprov Jawa Barat jika dilihat dari fungsinya sebagai pihak yang memberi bantuan anggaran untuk pembangunan stadion di Kecamatan Gedebage Kota Bandung itu. Sehingga jelas pemprov Jabar bukan sebagai pengguna anggaran. Yang bertanggung jawab atas kasus tersebut adalah si pengguna anggaran.

Asyik juga jawaban Aher saat menjelaskan bagian ini. Berikut ini kalimat Aher yang sangat menentukan status dirinya dalam pemeriksaan di Mabes Polri: "Kalau yang salah itu yang di bawah, terus gubernur yang bertanggung jawab, maka semua gubernur bisa masuk penjara. Enak banget, yang pencairan gubernur, yang menggunakan di bawah, ketika ada pertanggungjawaban, yang disalahkan malah gubernur, semuanya akan kena".  

Kasus ini sangat menyedot perhatian publik, sebab selain Jawa Barat menjadi tuan rumah PON (Pekan Olahraga Nasional) ke-19 tahun 2016 nanti, juga stadion tersebut akan menjadi tempat upacara pembukaannya.

Banyak pihak berharap kasus ini tidak mengotori pesta akbar PON ke-19. Sebab jargon Aher di banyak tempat yang sering dia lontarkan yakni sukses pelaksanaan maupun sukses administrasi. Artinya, PON ke-19 nanti tidak menyisakan masalah tindak pidana korupsi.  PON ke-19 tidak berakhir di meja hijau, atau di hotel prodeo.

Bagi orang yang tidak suka Aher, kasus ini membawa kegembiraan tersendiri. Apalagi biasanya kalau pejabat diperiksa sebagai saksi, ujung-ujungnya terjerat juga. Tetapi kebanyakan masyarakat Jawa Barat tidak berharap demikian. Sebab, keterangan Aher akan sangat memperkuat posisi Sekretaris Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung YAS sebagai tersangka dalam kasus ini. YAS sudah dinyatakan tersangka sebelum Aher diperiksa sebagai saksi.(*)

No comments