Nasi Jamblang, Kisah Lahirmu Unik (2)

Share:
Oleh: SURYANA-----

Sejak pertama kali nasi jamblang diciptakan oleh pendirinya, Ny Zaena (almh), tahun 1932, nasi jamblang menjadi makanan semua kalangan. Warga keturunan juga doyan makan nasi jamblang. Mereka rela nongkrong di emperan jalan hanya sekadar makan nasi jamblang. Bagi mereka, makan nasi jamblang bukan sekedar menjiwai kultur Cirebon, namun menjadi sebuah gengsi.

Namun dari sekian banyak warung (kedai) nasi jamblang, satu pun tidak ada yang asli. Mereka hanya menjadi pelestari makanan khas Cirebon ini. Penerus nasi jamblang ini sudah berhenti sejak 1992 lalu. Dulunya, nasi jamblang yang paling enak dan asli, hanya berumur 60 tahun pada masa jayanya, yakni sejak 1932 hingga  1992, di Utara Pasar Jamblang, Desa Kasugengan Lor, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon. Kecamatan Depok dulunya bernama Kecamatan Plumbon.

Sebagai pencetus pembuatan (pendiri) pertama kali warung nasi jamblang ini adalah Ny Zaena dan suaminya Kafrawi. Suami isteri ini menjadi bandar dan memiliki ratusan pengeber sejak zaman Belanda, Jepang, dan Republik. Dari tangan Zaena dan Kafrawi ini nasi jamblang dijual dengan cara digendong dan dipikul pengebernya sepanjang 15 Km. Mereka berjalan kaki ke pelabuhan, mendatangi TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) atau buruh pelabuhan menjajakan nasi jamblang.

Satu bungkus nasi jamblang dijual seharga setalen  (Rp0,25), perbandingan sekarang sekitar Rp250. Namun saat ini nasi jamblang dijual per bungkusnya Rp10.000 beserta lauk-pauknya. Cukup untuk mengganjal perut yang sedang lapar.

Mengolah nasi jamblang tidak semudah yang kita duga, sebab berasnya harus kualitas nomor satu dan dicuci sampai bersih. Setelah itu dimasak dengan menggunakan kayu bakar. Kayu sebagai bahan bakarnya dipilih yang paling bagus, seperti kayu nangka, kayu jenjeng, dan kayu kruwing.

Kayu bakar ini mengeluarkan aroma wangi terhadap hasil masakannya. Setelah matang, nasi dikipas sampai dingin dan dibungkus daun jati. Nasi ini tidak akan basi meski disimpan tiga hari. Kepalan nasi ini tidak pecah meski dilempar ke tembok, dan nasi ini terasa pulen jika dimakan.

Memasak lauk-pauknya juga harus dengan kayu bakar yang sama, begitu pun memasak air minum (teh) karena aromanya sangat wangi dan khas. Bumbu untuk memasak lauk-pauknya seperti daging, paru, otak, sayur tahu, tempe dan tahu goreng, sate kentang, cemplung, ikan asin (panjelan), dan sambel goreng cabe yang tidak pedas diolah sangat istimewa dan butuh waktu satu hari.

Memasak nasi jamblang dan lauk-pauknya cukup lama hingga harus empuk, bahkan akan terasa tidak anyir (amis). Seluruh keluarga besar Ny Zaena waktu itu ikut terlibat dalam pengolahan nasi jamblang, sesuai job masing-masing. Namun dampak dari memasak nasi jamblang ini, rata-rata keturunan Ny Zaena matanya terganggu akibat asap dari pembakaran kayu bakar. "Keturunan Nenek Zaena hampir rata-rata bermata minus, pake kacamata (bolor), dan ini menjadi ciri khas keturunan pencetus nasi jamblang," kata Yoyon Suharyono, cucu Zaena.

Sejak Zaena meninggal dunia pada 1956, bandar nasi jamblang diteruskan tiga puterinya, Ny Catut lebih dikenal dengan Mimi Atuk, Ny Samiri (Mimi Sang), dan Ny Rohani (Mimi Rok). Mimi Sang dan Mimi Rok berjualan di sebelah Utara  Pasar Jamblang, meneruskan tempat aslinya (rumah pusaka), sedangkan Mimi Atuk berjualan di sebelah Selatan Pasar Jamblang. Usaha Mimi Rok dan Mimi Atuk bangkrut pada 1976, yang masih aktif dari keluarga Mimi Sang, adalah Hj
Iin Maini (Ang Iin).

Ang Iin ini dalam usaha melestarikan nasi jamblang dibantu empat anaknya, Budi Hanafi, Doddy Tamboni, Dayung Fraseto, dan Wiwin Yunita Windirani. Masa kejayaan nasi jamblang ini kemudian berakhir pada 1992, penyebabnya kecapean. "Karena mengolah masakan ini butuh waktu lama agar rasanya enak dan hygienis. Tapi lama-lama kelelahan dan tidak sanggup diteruskan. Akhirnya bandar nasi jamblang ini berakhir pada 1992," tambah Yoyon yang didampingi Doddy Tamboni, buyut Zaena.

Namun demikian, keluarga besar mereka masih menyimpan resep keturunan nasi jamblang yang kini dipegang Hj Iin Maini (Ang Iin). Resep ini merupakan pusaka wasiat leluhur nasi Jamblang. Sayangnya, tidak ada yang mau meneruskan pengolahan nasi jamblang sesuai resep tersebut, karena tidak satu pun yang sanggup melakukannya.

Ny Iin Maini tidak lagi aktif berjualan nasi jamblang, namun ia sering diminta pejabat negara dan daerah untuk memasak nasi jamblang demi keperluan pesta pernikahan dan resepsi kenegaraan lainnya. "Hanya dialah yang punya resep aslinya, sehingga masakannya menjadi sangat fundamental," kata Yoyon.(BERSAMBUNG)

No comments