Kebiasaan Eka Santosa Ngangon Bebek di Kampung Halaman



Selama masa libur Lebaran Haji (Idul Adha 1438 H) tahun 2017, Ketua Umum gerakan Hejo Eka Santosa dan sekeluarga menghabiskan waktu menikmati suasana pedesaan di Kampung di kawasan Singaparna, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat.  Suasana pedesaan yang begitu nyaman dan alami dengan hawanya yang sejuk serta suasana kehidupan masyarakat pedesaan tradisional yang begitu kalem dan ramah membuat Eka Santosa ingin berlama-lama dan enggan meninggalkan daerah berjuluk Kota Santri itu.

Seperti umumnya masyarakat pedesaan di Indonesia, masih banyak penduduk setempat yang menggantungkan kehidupannya pada alam dengan cara bertani dan beternak. Tanahnya yang subur selayaknya membuat kehidupan masyarakat setempat tidak berkekurangan.

Salah satu pemandangan yang menarik perhatian adalah kebiasaan masyarakat ngangon atau menggembalakan ternak bebek. Eka Santosa mengenang masa kecilnya yang suka ngangon bebek. Ia membayangkan, pada suatu hari ketika sedang melewati sebuah jalan di pedesaan itu, mengamati sepasang suami istri yang sedang ngangon sekawanan ternak bebek.

Saat berjalan, kawanan ternak bebek memperlihatkan sebuah pola yang unik. Secara bergerombol berjalan beriringan membentuk formasi menyerupai segitiga dengan salah satu di antara mereka berada di bagian paling depan sebagai pemimpin barisan

Selama perjalanan masing-masing bebek dalam formasi tersebut tetap berada di tempatnya dan tidak seekor pun di antara mereka yang berusaha mendahului bebek lain di depannya.

Pemandangan ini mengingatkan Eka Santosa pada ungkapan sinis yang kerap kita dengar terkait etika buruk saat mengantre di depan kasir atau di tempat lain. Sambil mengatakan, “Bebek saja bisa antre!”

Tentu saja ungkapan ini tidak enak didengar, namun kita dapat belajar banyak nilai positif dari pola iring-iringan kawanan ternak bebek berkenaan dengan budaya antre.  Menurut Eka Santosa, ada makna terdalam pada watak ternak bebek.

1. Penghargaan dan penghormatan terhadap hak orang lain
Ketika kita sedang berada dalam antrean kita belajar menghargai dan menghormati hak orang lain yang lebih dulu dari kita. Selain itu kita juga belajar mengendalikan sifat egois serta rasa ingin didahulukan yang ada dalam diri kita.

2. Pengelolaan waktu dan disiplin diri
Bila kita ingin berada di bagian depan antrean, kita harus belajar mendisiplinkan diri soal waktu serta sikap antisipatif dengan cara datang lebih awal.

3. Kesabaran
Bila kita berada di antrean paling belakang, kita melatih diri dan belajar bersabar menunggu giliran. Kesabaran merupakan kualitas karakter yang tidak tumbuh begitu saja dalam diri kita. Upaya diri kita diperlukan melatih kesabaran. Salah satu caranya dengan tetap berada di tempat kita saat kita sedang berada dalam antrean.

4. Sopan santun, etika, dan budaya rasa malu
Ketika kita berada dalam antrean, kita belajar mengembangkan budaya rasa malu saat kita secara tidak etis hendak mendahului dan menyerobot barisan. Jika kepentingan kita benar-benar mendesak, paling tidak kita dapat meminta izin secara sopan dan beralasan untuk didahulukan, kepada orang lain yang berada di depan kita.
   
5. Tanggung jawab dan sikap konsekuen pribadi
Budaya antre mengajari kita bertanggungjawab dan menerima konsekuensi dari keterlambatan yang mengharuskan kita berada di bagian belakang.

6. Sosialisasi dan interaksi
Kita dapat menggunakan kesempatan saat berada dalam antrean untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya bertegur sapa dan mengobrol bersama mereka. Hal ini juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi rasa bosan ketika kita sedang menunggu dalam antrean panjang.

Hal-hal yang berkenaan dengan budaya antre yang baik tidak terbatas pada poin-poin yang Eka Santosa sebutkan tadi. Banyak aspek lainnya yang dapat digali guna meningkatkan nilai anutan serta kualitas pribadi kita. Budaya antre yang baik dimulai dari keluarga, dan pada akhirnya akan menjadi cerminan tingkat kemajuan peradaban masyarakat kita. 

Hasil dari mempelajari watak dan tabiat bebek, Eka Santosa kemudian melihat segunduk jerami kering yang di atasnya ternyata puluhan telur bebek. Wow, mereka para bebek itu juga memberi manfaat dari doyan berhubungan badan. Bagi bebek, banyak mereproduksi diri akan menghasilkan banyak telur, dan telur itulah yang menghidupi sepasang suami istri penggembala bebek yang Eka Santosa ceritakan dalam renungannya. Hidup Bebek ... (isur)

No comments

Powered by Blogger.