[VIDEO] PARA GURU SMAN 2 BANDUNG BERLATIH INKLUSIF DI SARIATER SUBANG




Di ketinggian 800 meter DPL dengan suhu rata-rata 26 derajat celcius, Sariater Subang 9-10 Mei 2018, puluhan guru SMA Negeri 2 Bandung mengikuti pelatihan pendidikan inklusif. Dipandu seorang motivator kawakan Asep Mulyana, dihadiri pemateri utama Ketua Pokja Pendidikan Inklusif Doktor Hidayat, dan kepala SMA Negeri 2 Bandung Yanyan Supriatna RS. Para guru berbagai program studi ini antusias mengikuti pelatihan yang disertai games2 menarik.
VO.
Selama ini masih ada sekolah umum yang  enggan  menerima siswa berkebutuhan khusus. Masih terbatasnya jumlah sekolah inklusi dan anak disabilitas dianggap merepotkan dan harus diberikan perhatian ekstramenjadi dalih yang acapkali digunakan.

Pihak Dinas Pendidikan Jawa Barat meminta semua SMA dan SMK tidak boleh m enolak, sepanjang anak penyandang disabilitas mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum. Persoalan yang muncul, bagaimana mungkinsekolah akan menerima siswa disabilitas jika para guru dan seluruh elemen sekolah belum memahami pendidikan inklusif.

Kata Doktor Hidayat, inklusif tidak ansih disabilitas, tetapi education for all, pendidikan untuk semua, bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetapi menyatu jadi satu. Bukti bahwa inklusif mencakup  semuanya, dalam pelatihan dan workshop di Dayang Sumbi Sariater Subang ini, juga melibatkan pihak Tata Usaha sekolah. Mereka juga harus memahami pendidikan inklusif di sekolahnya.

Dari 65 guru yang diundang, 61 hadir dan empat diantaranya sedang melaks anakan tugas luar dan alasan sakit. Sebagian besar para guru dilibatkan dalam pembahasan, diskusi, dan memberikan analisa terkaitpendidikan inklusif. Muncul persoalan paling krusial dalam pelatihan dan workshop ini, yakni implementasi di sekolah mereka.

Mampukan mereka mengajar dan membawa suasana keberagaman menjadi inklusifitas? Inilah yang akan mereka bawa nanti di sistem pengajaran dan pembauran di sekolah. Paling penting dari inklusif ini pemerintah sudah mengeluarkan UU No 8 Tahun 2016 tentang disabilitas. Amanat UU, Tugas berat para guru, tidak hanya mendidik siswa cerdas, tetapi mendidik anak berkebutuhan khusus. Di pundak para pendidik inilah generasi bangsa kita akanditentukan nasibnya.

SB: Adit Suganda (Ketua Pelaksana Pelatihan &  Workshop Pendidikan Inklusif)

Rancangan pimpinan SMAN 2 Bandung, para guru ha rus mampu  mengimplementasikan hasil workshop di sekolah. Bagi Kepala SMAN 2 Bandung Yanyan Supriatna, pendidikan inklusif lebih menohok pada perhatian guru kepadasiswa secara individu. Lebih detail dan fokus.

SB: Yanyan Supriatna RS, SPd (Kepala SMAN 2 Bandung)

Para guru tidak usah khawatir, negara hadir untuk menjamin kesetaraan, pemberda yaan, perlindungan hukum dan rehabilitasi sosial bagi para penyandang disabilitas. Pemberian penanganan atau pelayanan parapenyandang disabilitas didukung semua pihak, baik Pemerintah Pusat maupun Pemda serta partisipasi masyarakat.

SB: Asep Mulyana ali as Asmul (Motivator PelatihanPendidikan Inklusif)

Selama ini, SLB menjadi ruang belaj ar bagi para anakdisa bilitas. Namun, sejak 2003, pemerintah merintis peluang bagi penyandang disabilitas agar dapat belajar di sekolah reguler bersama anak normal lainnya. Sistem tersebut dikenal dengan "Pendidikan Inklusi" atau "Sekolah Inklusi". Inilah pelajaran berharga dari Ketua PokjaPendiidkan Inklusif Doktor Hidayat.


SB: Dr. Hidayat, DPL S.Ed, M.Si (Ketua Pokja Pendidikan Inklusif)

Bentuk latihan mengetahui inklusif, masing-masingguru mendapat satu kartu gold dan  satu kartu silver. Gold berpredikat emas, hebat, terhormat, juara, dan silver berarti sangat baik dan teladan. Ada satu guruyang mendapat 14 kartu yang diberikan rekan2 guru lainnya. 

Pada sesi penerapan inklusi. Sebagian guru ditutup matanya saat jamuan makan siang. Satu rekannya bertindak sebagai pelayan bagi guru yang ditutup matanya dengan kain hitam. Maknanya, beginilah cara memahamipentingnya pendidikan inklusif.

SB: Ratih Sirnawati (Guru Fisika SMAN 2 Bandung)
SB: Munar (Guru Biologi SMAN 2 Bandung) -- RALAT NAMA DI VIDEO TERTULIS MUNAN SEHARUSNYA MUNAR --

Puluhan guru ini dibagi kedalam 6 kelompok. Di sesi terakhir pelatihan, mereka menyampaikan konklusi dan tanggapan mengenai hakekat pendidikan inklusif yang mesti diterapkan di sekolahnya.

Isur Suryana Melaporkan

No comments

Powered by Blogger.