WAGUB UU RUZHANUL ULUM: DI JABAR HARUS DIUTAMAKAN SISTEM EKONOMI SYARIAH



KUNINGAN - Calon wakil gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menegaskan, jika terpilih menjadi pemimpin di Jabar bersama Ridwan Kamil, dirinya siap menggalakan perekonomian syariah di Jawa Barat.

Seperti diketahui, Uu sendiri merupaka tokoh di kawasan Priangan Timur yang paling awal mengenalkan panji-panji ekonomi syariah. Pada tahun 1993, Uu ikut terlibat dalam Dompet Dhuafa Republika, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil, dan menjadi pengurus Forum Ekonomi Syariah Priangan Timur.

Tidak hanya itu, Uu juga terlibat aktif mendirikan lembaga keuangan mikro berbasis syariah (Baitul Maal wa Tamwil/BMT). BMT ini, pada masa jayanya, menjamur di prlbagai daerah dan disambut anatusias para pelaku ekonomi serta masyarakat lantaran korespondensinya dengan konsep syariah.

“Para pelaku ekonomi diuntungkan dengan BMT-BMT ini karen di Jawa Barat banyak penduduk muslim. Merkea tahu ada lembaga-lembaga keuangan yang haram, maka dulu BMT jumlahnya banyak dan sangat diminati,” kata Uu Ruzhanul Ulum di Pasar Subang, Kabupaten Kuningan, Rabu (30/5/2018).

Seiring berjalannya waktu, BMT-BMT yang menjadi penggerak perekonomian syariah lambat laun habis ditelan zaman. Salah satu faktor kemunduran popularitas BMT dipicu minimnya sokongan pemerintah dan persaingan antarlembaga keuangan.

“Kalau kami terpilih, kami akan menggelorakan ekonomi syariah dengan menghidupkan lagi BMT dan lembaga ekonomi dan keuangan syariah lainnya. Kami akan mengembangkan ekonomi Jabar dan mendukung pelaku ekonomi, salah satunya mendorong ekonomi syariah,” papar bupati Tasikmalaya dua periode itu.

Uu menjelaskan tiga jenis sistem ekonomi yang berkembang di dunia, yakni ekonomi sosialis, ekonomi liberal, dan ekonomi syariah. Ekonomi liberal dianggap telah gagal menciptakan kesetimbangan dan kerap dilanda krisis struktural. Ekonomi syariah, dipandang bisa menjadi alternatif di tengah kebuntuan ekonomi liberal.

Uu menguraikan perbedaan ekonomi syariah dengan kedua jenis ekonomi lain, di antaranya terletak pada perihal akad yang harus dilakuan di muka, jenis usaha yang wajib halal, penanggungan bersama beban kerugian, serta tak membolehkan bunga.

“Harus dicatat Islam tidak akan membuat aturan kecuali untuk kemaslahatan, dan Rasul tidak akan melarang terhadap sesuatu kecuali kalau sesuatu itu dilaksanakan akan membuat kemudaratan. Maka sudah sebaiknya kita mencontoh apa yang diajarkan Islam tentang ekonomi syariah,” kata Uu.(isur/rls)

No comments

Powered by Blogger.