INILAH ALASAN EKA SANTOSA MEMILIH PARTAI BERKARYA HINGGA MERACIK TRISAKTI & TRILOGI DI ERA MILENIA


Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung Kab. Tasikmalaya, KH Abun Bunyamin Ilyas Ruhiyat (Penerus KH Ilyas Ruhiyat) bersorban putih, berpose bersama keluarga besar Eka Santosa
------------------------

Berikut ini kalimat langsung Ketua DPW Partai Berkarya Jawa Barat, Eka Santosa, alasan dirinya memilih Partai Berkarya:

Saya merasa seorang nasionalis dan pemikiran politik saya banyak diilhami oleh ajaran Bung Karno. Produk ajaran Bung Karno kristalisasinya Pancasila sebagai ideologi bangsa dan penjabarannya dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang diwujudkan dan diatur  dalam UUD 1945.

Pikiran saya pada waktu itu bergabung dengan gerakan politik Ibu Megawati (Ketum DPP PDI Perjuangan) karena keyakinan tersebut. Tetapi di luar dugaan dan perhitungan politik saya, ketika Ibu Megawati berkuasa dan terpilih menjadi presiden, beliau  membiarkan UUD 1945  diamandemen  bahkan menyetujuinya.

Yang paling saya kecewa adalah ketika beliau menyetujui pemilihan langsung untuk presiden dan kepala daerah. Yah.... hasilnya seperti ini sekarang .... syarat menjadi presiden pun tidak lagi harus orang Indonesia asli. itulah sebenarnya alasan yang paling mendasar kenapa saya menghindar dan melepaskan diri dari gerbong Ibu Megawati.

Sekarang muncul sebuah gagasan dan kemauan untuk kembali ke UUD 1945, yang dimotori oleh putra Pak Harto melalui gerbong Partai Berkarya. Itulah sebabnya kenapa saya bergabung dan bersedia menjadi salah satu motor penggeraknya.

Saya meyakini untuk masa depan indonesia yang sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, harus mensinergikan pemikiran dan kekuatan Bung Karno dan Jenderal Besar Soeharto.  Mensinergikan Tri Sakti Bung Karno dengan Trilogi Pembangunan Pak Harto adalah solusi untuk terjaganya NKRI dan terciptanya kesejahteraan rakyat serta terjaminnya rasa aman dan damai di bumi pertiwi yang kita cintai.
------------------------

PANCASILA DALAM PANDANGAN NAHDLATUL ULAMA

Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama Sukarejo, Situbondo, 16 Rabiul Awwal 1404 H (21 Desember 1983) sebagaimana dikukuhkan dalam Muktamar ke-27 NU di Situbondo tahun 1984 tentang hubungan Pancasila dengan Islam:

1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia.

4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.(*)
-------------------------

Eka Santosa juga menyampaikan butir-butir pemikiran itu dalam pidatonya di Cipasung, saat bertemu para alim ulama di sana, pada hari kedua idul fitri 1439 H. Dimulai dari pandangsan NU terhadap Pancasila waktu Mukhtammar di Situ bondo.

"Sekarang saatnya kita membentengi lagi Ideologi negara, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika dengan mensinergikan Tri Sakti Bung Karno dan Trilogi Pembangunan Pak Harto.   Ini disambut baik oleh semua yang hadir di Pesantren Cipasung, bahkan pidato KH Abun Bunyamin Ilyas Ruhiyat dimulai dari empat Pilar Kebangsaan. Pondok Pesantren Cipasung menerima dan menanti kehadiran Mas Tommy (Hutomo Mandala Putra, Ketum DPP Partai Berkarya, red) dan keluarga cendana di Cipasung, Tasikmalaya," papar Eka Santosa.(isur)

No comments

Powered by Blogger.