BANDUNG - Grand Final Top Model Batik Jawa Barat hasil kerja keras Himpunan
Model Agensi (HMA) Jawa Barat, menampilkan para finalis dari 20 kota di Jawa
Barat dan Banten. Setelah diseleksi lebih ketat, terpilih 250 peserta untuk
dicari pemenang utamanya. Sejak Minggu pagi (1/7/2018) para peserta bersaing ketat, hingga malam harinya ditentukan para juara yang memperebutkan Piala Bergilir Disparbud Jabar.
Event bergengsi ini digelar HMA di Krakatau Ballroom Hotel Horison Jln Pelajar Pejuang Bandung, Minggu (1/7/2018). Ini merupakan Grand Launching HMA Jawa Barat paling besar sepanjang sejarah Top Model Batik di Indonesia.
Event bergengsi ini digelar HMA di Krakatau Ballroom Hotel Horison Jln Pelajar Pejuang Bandung, Minggu (1/7/2018). Ini merupakan Grand Launching HMA Jawa Barat paling besar sepanjang sejarah Top Model Batik di Indonesia.
Event ini digelar untuk membangun
batik Jawa Barat lebih mendunia. Terbukti, para model di ajang ini mengenakan
batik berbagai model dan corak. Revi berharap ajang ini menjadi agenda tahunan
untuk memperebutkan Piala bergilir dari Disparbud Jawa Barat.
Legenda Putri Parahyangan Jawa
Barat tahun 1985 ini bangga dengan kedatangan peserta dari Kota Bandung, Kota
Tasikmalaya, Cirebon, dan Banten. Menurutnya, ini kemajuan paling pesat dalam
dunia modeling.
Obsesinya, para model di Jawa
Barat lebih maju seperti tahun 80-an. Sejak tahun 2000 khususnya di Kota
Bandung, dunia fashion kurang mendapat dukungan media, pemerintah, maupun pihak
lainnya.
“Saya sebagai senior di dunia
model beserta teman-teman lainnya di ajang ini ingin memajukan para model
generasi muda agar lebih maju seperti di tahun 80-an,” kata Revi Lantika sambil
berharap agar pemerintah men-support kegiatan HMA.
“Kami juga berharap Disparbud
Jawa Barat memberi bimbingan dan masukan agar HMA bisa lebih berkolaborasi
dalam hal kebudayaan," kata Revi. Kendalanya hanya soal sulitnya menyatukan
agensi se-Jawa Barat.
Setiap Agensi memiki standar
masing-masing dan belum disupport pemerintah. Namun selama 10 bulan mendekati
28 Agensi yang ada di Jawa Barat, akhirnya mereka kompak dan dapat terkumpul
dalam satu event bergengsi ini.
Juri Sandy Harun
Dewan Juri Grand Final Top Model
Batik Jabar 2018 yang juga model senior Sandy Harun berharap, di tahun ini terdapat
model asal Bandung dan Jawa Barat yang go
internasional.
“Saya melihat model di sini
kreatif dari segi busana, dan saya takjub melihat batik dapat dimodifikasi
sedemikian rupa oleh para model,” ungkap Sandy Harun.
Jika dunia fashion di Jawa Barat
turun, maka seluruh daerah akan melihat. Kata Sandy Harun, “saya lihat ada
peserta dari Kuningan yang tingginya sekitar 178 hingga 180 cm, mengalahkan
tinggi badan model di tahun 80-an, sehingga kami sebagai Dewan Juri bingung
menentukan juaranya".
Kali ini Sandy Harun harus
mengakui kiblat dunia model tidak selalu harus Jakarta, karena saat ini Bandung
dan Jawa Barat tidak kalah bagus.
Sistem penilaian untuk Top Model
di ajang Grand Final Top Model Batik Jabar 2018 dilihat dari cara berjalan di catwalk,
model mampu menguasai panggung, make up dan busana di atas panggung.(isur)
No comments
Post a Comment