[VIDEO] GURU INKLUSIF ITU PANDAI MEMODIFIKASI KURIKULUM || WORKSHOP DAN SOSIALISASI DI SDN 1 CIBINGBIN KAB. KUNINGAN

Share:


Tiga hari di Kecamatan Cibingbin Kab Kuningan, pakar  ahli pendidikan inklusif doktor Hidayat menemukan beberapa hal baru. Terutama saat workshop dan sosialisasi peningkatan kapasitas guru di SDN 1 Cibingbin Kab Kuningan. Ini adalah program Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Kementerian Pendidikan Nasional.

Hal baru itu antara lain menemukan pertanyaan yang berkaitan dengan penggunaan kurikulum bagi siswa berkebutuhan khusus. Dalam pendidikan inklusif, guru dituntut mampu memodifikasi kurikulum, tidak memaksakan anak atau siswa berkebutuhan khusus mengikuti keinginan guru. Dalam prinsip Pendidikan inklusif, guru melayani siswa sesuai kebutuhan mereka.

Banyak yang unik saat Doktor Hidayat memberikan materi workshop di SDN 1 Cibingbin. Di sini selain lokasinya berada di perbatasan Jawa Tengah, juga kreativitas para guru sangat bervariasi dan kritis. Para peserta workshop ini berasal dari SDN 1 dan 7 Cibingbin, SDN 2 Citenjo, SDN 1 Ciangir, SDN Cisaat, SDN Sukaharja, SDN 2 Sukamaju, dan SDN 2 Sindang Jawa. Seluruhnya berjumlah 32 peserta.

Dalam pemaparan ilmiah mengenai pendidikan inklusif,  Doktor Hidayat merasa sangat tersanjung dan puas. Karena para peserta sangat cepat memahami persoalan inklusif. Workshop ini dihadiri Kepala SDN 1 Cibingbin Syarip Hidayat, dan plt UPTD Pendidikan Cibingbin Didi Budiman.

SB: Didi Budiman, S.Pd (Plt. UPTD Pendidikan Cibingbin)

Paling penting dari workshop ini adalah pengertian dan pemahaman guru terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Menurut kepala SDN 1 Cibingbin Syarip Hidayat, guru ketika di kelas tidak boleh menekan murid, pelajarannya harus diterima secara happy, enak dan bisa diterima dengan baik. Itulah hakekat pendidikan inklusif.

SB: Syarip Hidayat, S.Pd, MM (Kepala SDN 1 Cibingbin Kab. Kuningan)

Simak juga pendapat Hj. Aan Ratnengsih Kepala SDN Sukamaju 2 Cibingbin Kuningan yang ikut jadi peserta dalam workshop ini. 

SB: Hj. Aan Ratnengsih, S.Pd, M.Si (peserta)

Sekolah yang dijadikan tempat workshop itu dibangun  dengan maksud untuk mencetak generasi yang inklusif. SDN 1 Cibingbin dihuni 127 murid yang dibagi kedalam 6 kelas. Di sini terdapat 9 kelas yang biasa dipakai belajar-mengajar. Dua toilet murid dan 1 toilet guru. Guru pengajarnya ada 6 orang ditambah 5 guru honorer, 1 penjaga, dan dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Seperti sekolah lainnya, di sini juga ada 2 kantin sekolah.

SB: Yayan Harianto, S.Pd, MM (Guru SDN 1 Cibingbin Kab. Kuningan)

Bagi Doktor Hidayat, kecerdasan guru adalah pandai memodifikasi kurtilas sesuai kebutuhan murid berkebutuhan khusus. Kurtilas bukanlah barang baku, Tugas guru dan kepala sekolah adalah inovasi. Inklusif juga mengandung makna agar guru pandai menyesuaikan kurikulum dengan kondisi murid. Rumuskan pembelajaran inklusif dalam kurikulum.   

SB: Dr. Hidayat, Dpl, S.Ed, M.Si (Pakar Ahli Pendidikan Inklusif)

Diujung pertemuan, doktor Hidayat menawarkan lima  pelabelan bagi siswa atau peserta didik, yakni Anak Disabilitas, Anak Berkebutuhan Khusus, Anak Autis, Anak Inklusif dan Anak Cacat. Atas kesepakatan bersama sesuai UU No 8 tahun 2016 tentang Disabilitas, label yang dipakai cukup dua, yakni Anak Disabilitas dan Anak Berkebutuhan Khusus. Sehingga peserta langsung membuang tiga label lainnya ke dalam kotak sampah.

Isur Suryana melaporkan ....

No comments