[VIDEO] SMPN 1 CILIMUS KUNINGAN JADI MODEL MUTAKHIR SEKOLAH INKLUSIF || PRAKARSA MOMON SUKIMAN SANG KEPALA SEKOLAH

Share:


Ini perjalanan Pakar Ahli Pendidikan inklusif Doktor Hidayat ke wilayah Timur Jawa Barat, dalam sosialisasi dan peningkatan kapasitas guru pendidikan inklusif, tepat memasuki Kab. Kuningan. Program ini dicanangkan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Layanan Khusus, PKLK. Jumat 31 Agustus 2018, tiba di SMP Negeri 1 Cilimus, Doktor Hidayat menemukan model sekolah yang sudah menerapkan prilaku inklusif.

Haji Momon Sukiman, kepala SMP Negeri 1 Cilimus, menerapkan pendidikan inklusif sejak 2 tahun lalu. Keberagaman di sekolah yang dihuni 992 siswa dan 65 guru itu, benar-benar diterapkan. Semua penghuni kampus asri ini menunjukan pembauran yang harmonis, terstruktur, sistematis dan masif.

Kebersamaan, kekompakan, kebersihan, dan kedisiplinan, menjadi model sekolah yang diidolakan masyarakat saat ini. Momon Sukiman membuat perubahan yang cukup signifikan. Mulai dari kebersihan, kedisiplinan, kejujuran, hingga ketaatan, semuanya terbina dengan sangat rapi. Toilet di sini sangat bersih.

Di area sekolah ini tidak ada sampah. Di kelas siswa belajar sangat tekun. Saat istirahat siswa antri membeli makanan yang terbungkus rapi dan sehat. Kantin di sini sangat higienis dan siswa memberi contoh antrean sangat disiplin dan cara makan Islami. Lihat cara mereka makan. Kebersamaan dan perbedaan pun menjadi sangat inklusif, berbaur dan mereka sangat hormat kepada gurunya.

Sementara di aula sekolah ini terhimpun 40 peserta para guru dari delapan sekolah, yakni dari SMP Negeri 1 dan 3 Cilimus, SDN 1, 2, 3 dan 4 Bojong, SDN 1 dan 2 Cilimus.  Mereka antusias menyimak dan ikut aktif dalam pembelajaran tentang Pendidikan Inklusif ini.

Tiga hari di SMP Negeri 1 Cilimus, Doktor Hidayat selain menemukan pemahaman para guru tentang pendidikan inklusif, juga menemukan banyak hal baru. Antara lain muncul pertanyaan cara guru memberikan penilaian dalam keberagaman siswa. Menurutnya, penilaian tidak harus berdasarkan angka dan kehendak guru, tetapi berdasarkan kualitas dan kebutuhan siswa inklusif.

SB: Dr. Hidayat, Dpl, S.E.D, M.Si (Pakar Ahli Pendidikan Inklusif)

Apa yang dialami Hj. Nurmayanti SPd ini. Ia mengajar di SMP Negeri 1 Cilimus sudah menerapkan inklusif dalam tiga tahun terakhir. Pemahamannya makin kuat mengenai Pendidikan Inklusif setelah menyimak materi yang disampaikan Doktor Hidayat.

SB: Ny. Nurmayanti, S.Pd (Guru SMP Negeri 1 Cilimus Kab. Kuningan)

Pendidikan inklusif sama maknanya dengan pendidikan untuk semua meski bertaut dengan keberagaman. Komitmen aktif harus dibuat untuk menghilangkan kesenjangan pendidikan. Kelompok-kelompok tidak boleh terancam diskriminasi dalam mengakses kesempatan belajar. Dedeh Sobariyah guru SDN 1 Cilimus Kuningan, mengakui kebersamaan dari keberagaman itu penting diterapkan dalam pendidikan inklusif, setelah dirinya mendapat pelajaran dari Doktor Hidayat.

SB: Dedeh Sobariyah (Guru SDN 1 Cilimus Kab. Kuningan)

Sosialisasi ini menjadi bekal bagi para guru untuk menerapkan pendidikan inklusif di sekolah masing-masing mulai dari SD  hingga SMP di Kab. Kuningan.

SB: Agus Iskandar, S.Pd (Guru BK SMPN 1 Cilimus Kab. Kuningan)

Ini menjadi kebahagiaan Kepala SMP Negeri 1 Cilimus Kuningan, Haji Momon Sukiman M.MPd. Sekolahnya yang dibangun dari keberagaman dan niat yang tulus membuahkan inklusivitas yang paling kompeten se-Kab. Kuningan.

SB: H. Momon Sukiman, M.M.Pd (Kepala SMPN 1 Cilimus Kab. Kuningan)

Solat Jumat bersama pun menjadi salah satu kebiasaan yang membudaya. Ini pendidikan yang membangun kompetensi kepribadian, mantap dan stabil melahirkan kedewasaan. Itulah hakekat Pendidikan Inklusif yang sebagiannya sudah dijalankan oleh sekolah ini.

Isur Suryana melaporkan ...

No comments