[VIDEO] WORKSHOP PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI GURU DI SMPN 2 JAPARA KUNINGAN, DAHSYAT

Share:


Empat hal yang diharapkan dari workshop dan sosialisasi peningkatan kapasitas guru di SMP Negeri 2 Japara Kab. Kuningan. 1) Sekolah dapat memahami kebijakan pendidikan inklusif, 2) sekolah dapat melaksanakan program pendidikan inklusif, 3) guru memahami karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus, dan 4) guru dapat mengembangkan pembelajaran serta penilaian pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Program yang dinaungi Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) itu, seluruhnya diikuti 41 peserta yang digelar sejak 6 hingga 8 September 2018 lalu di aula SMP Negeri 2 Japara Kab. Kuningan.

Tentu saja tidak sekedar ilmu pengetahuan tentang pendidikan inklusif yang diterapkan, pakar ahli pendidikan inklusif Doktor Hidayat juga menyuguhkan sejumlah permainan menarik yang menyedot animo perhatian peserta. Permainan ini tentu sangat menunjang pemahaman guru mengenai pendidikan inklusif.

SB: Dr. Hidayat, Dpl, S.Ed, M.Si (Pakar Ahli Pendidikan Inklusif)

Kepala SMP Negeri 2 Japara Dede Dahyo, mengapresiasi pemateri yang membuat peserta workshop dan sosialisasi ini sangat membahana. Tentu saja tidak ngantuk dan pikiran kembali segar. 

SB: Dede Dahyo, S.Pd, M.Si (Kepala SMP Negeri 2 Japara Kab. Kuningan)

Hampir di sejumlah daerah yang dikunjungi Doktor Hidayat, para guru memahami pendidikan inklusif lebih menohok pada persoalan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Namun setelah dijelaskan lebih detail, para guru kemudian memahami pendidikan inklusif secara gamblang. Berikut penuturan saah satu guru di Japara Kuningan.

SB: Wartinah, S.Pd SD (Guru SD Negeri 2 Cengal Kab. Kuningan)

Selain memberikan materi pendidikan inklusif, Doktor Hidayat juga mendapat informasi detail mengenai keabsahan SMP Negeri 2 Japara Kuningan. Empat blok bangunan dengan luas area 1,2 ha itu dihuni 379 siswa dan 32 guru maupun tenaga administrasi. Para siswa terbagi kedalam 3 rombongan belajar untuk kelas VII, 5 rombongan belajar untuk kelas VIII, dan 5 rombongan belajar untuk kelas IX.

Pihak manajemen sekolah masih mengeluhkan soal keabsahan tanah yang digunakan sebagai hak sewa dari desa oleh pemda Kuningan. Sehingga, pengelola SMP Negeri 2 Japara tentu saja masih mengaku butuh bantuan sarana maupun prasarana memadai.

SB: Jubeb, S.Pd, MM (Wakil Kepsek SMP Negeri 2 Japara Kab. Kuningan)

Meski kondisi sekolah masih seperti ini, namun perkembangan IT di sini cukup memadai dan dikerjakan para guru tenaga ahli profesional. Tempat boleh di kampung, tetapi mereka ini tidak kampungan, justru melek teknologi dan selalu bersikap kritis terhadap persoalan pembelajaran. Para siswanya juga memiliki kamonesan soal seni seprti degung dan calung. Atas kepemimpinan Dede Dahyo dan para pendekar pendidikan itu, SMP Negeri 2 Japara Kuningan, layak dijadikan model Pendidikan Inklusif.

Isur Suryana melaporkan ..

No comments