PEREDARAN NARKOBA TERBESAR TERJADI DI PELABUHAN LAUT | SISWANDI AKAN TERUS MEMBERANTAS NARKOBA SAMPAI AKAR-AKARNYA

Share:

  
BRIGJEN POL (PURN) Drs. SISWANDI, Ketua Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN), komitmen untuk memberanras narkoba hingga ke akar-akarnya. Komitmen itu ia nyatakan dalam berbagai kesempatan di ruang publik maupun di media massa, tidak terkecuali di media lokal. Medio Senin 25 Februari 2019 Siswandi diwawancarai tim redaksi Koran "Kabar Cirebon" (KC).  Inilah keterangan lengkap Siswandi yang dimuat Headline di koran KC  halaman 1, edisi Rabu 27 Februari 2019. Kami lengkapi dengan sejumlah foto terkait yang tidak dimuat di koran KC.
--------------------------- 


KEDAWUNG, (KC).- Peredaran gelap narkoba harus diberantas hingga ke akar-akarnya. Hal ini perlu kerjasama semua pihak termasuk masyarakat untuk bersama-sama memeranginya. Demikian diungkapkan Ketua Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) Pusat, Brigjen Pol (P) Drs Siswandi.

Menurutnya, dampak luas yang diakibatkan penyalahgunaan narkoba tidak hanya dari sisi jumlah korban yang terus meningkat. Akan tetapi, kata Siswandi, juga dampak sistemik dari penggunaan narkoba tidak pada tempatnya yang mengakibatkan rusaknya generasi muda. Dikhawatirkan dampak narkoba ke depan akan mengancam kedaulatan negara.

“Gagasan ini sebenarnya telah digaungkan lama sejak pada Hari Anti Narkotika International (HUT HANI) tahun 2006 lalu. Jadi, negara tidak boleh kalah melawan penjahat apalagi sindikat narkotika. Oleh karenanya, perang terhadap narkotika setara dengan perang melawan korupsi dan  terorisme.

Sebab, fakta akibat kejahatan narkotika setiap hari 50 anak Indonesia meninggal dunia,” kata Siswandi yang juga mantan perwira tinggi Mabes Polri tersebut, saat di Cirebon, Selasa (26/2/2019). Menurutnya, hingga saat ini pihaknya pun “siap perang” untuk Narkoba. Lantaran Presiden RI saat ini dan yang akan datang memiliki komitmen sama untuk menjadikan Indonesia Bersih Narkoba.

Bahkan menurut Siswandi di wilayah Cirebon juga masuk pada kawasan zona merah jalur perlintasan peredaran gelap narkoba berdasarkan catatan, kata Siswandi, wilayah Cirebon telah masuk pada urutan ke-8 di Jawa Barat yang peredarannya sangat signifikan. Oleh karenanya, perlu penanganan yang sistematis dalam memberikan formula guna mengantisipasinya.

"Bayangkan saja, pelabuhan yang terbuka antar negara dan dijaga ketat oleh pihak berwenang saja bisa kecolongan apalagi Pelabuhan Cirebon yang notabene masih banyak jalan tikus dalam laju Perhubungannya masih minim. Data ini kami pegang dan tentu menjadi kewaspadaan bersama," ungkapnya.

Sehingga kata Siswandi, permasalahan ini tentu harus menjadi pemikiran bersama. Bahkan fakta yang terkumpul dari lapangan, bahwa terungkap maraknya peredaran narkoba di Indonesia tidak lepas berbagai unsur. Menurutnya, faktor dan unsur yang memudahkan barang haram tersebut beredar dan berkembang dari berbagai aspek.

Peluang tersebut menjadi faktor kunci yang mendorong sindikat narkoba internasional menjadikan Indonesia sebagai pangsa dengan populasi 230 juta jiwa katanya.

 
Siswandi menambahkan, faktor geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menyebabkan banyak celah yang memudahkan sindikat narkotika internasional masuk ke wilayah nusantara. Caranya lewat 3 pintu masuk yang tersedia darat, laut, dan udara dengan komposisi terbanyak lewat laut, disusul darat dan udara.

Selain itu murahnya harga kurir yang menyebabkan penyelundupan narkoba di Indonesia turut melibatkan WNI sebagai kurir, sehingga kebanyakan akibat masalah ekonomi yang menderanya. "Celakanya, upah yang mereka terima sangat mudah dan tidak sepadan dengan risiko yang harus mereka hadapi ketika tertangkap," katanya.
  
Termasuk mudahnya merekrut kurir yang juga sangat mudah direkrut dengan iming-iming bepergian ke luar negeri untuk mencari nafkah, sehingga hal itu mudahnya membentuk jaringan kejahatan narkoba yang terorganisir dan sangat rapi serta melibatkan banyak orang.

"Sistem kurir membuat tidak hanya antarkurir tidak saling mengenal, juga antara kurir dengan bosnya tidak pernah terjadi pertemuan. Kurir hanya mengenal orang yang merekrutnya sehingga ketika tertangkap jaringan terputus," tambahnya

Dia menjelaskan, faktor lainnya yang bisa menunjang penyebaran luas narkoba, yakni tingginya harga jual, mudahnya mencari tempat tinggal, tingginya jumlah penduduk, penerapan sanksi hukum yang kurang maksimal, kurang memiliki kepastian hukum, terbatasnya peralatan dan kurangnya SDM, lemahnya pengawasan di pintu masuk serta tingginya ego sektoral.


"Melihat kenyataan tersebut diperlukan good will dan political will dari seluruh elemen untuk memberantas peredaran narkoba dari peluang tersebarnya narkoba tersebut jelas terlihat bahwa Indonesia sangat sulit keluar dari cengkraman narkoba. Masih memerlukan upaya keras tegas dan terus-menerus untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba," paparnya.

Sementara itu, Asisten Daerah Pemerintahan dan Kesra Sekretariat Daerah Kota Cirebon, Agus Mulyadi mengatakan, Pemerintah Kota Cirebon sudah melakukan upaya penanganan narkoba dengan melalui beragam SKPD terkait.

"Seperti Dinas Kesehatan melakukan kontrol terhadap warga yang terkena dampak. Rumah Sakit pun sudah mengadakan terapi khusus pengguna narkoba, juga dinas pendidikan yang sering melakukan sosialisasi ke sekolah sekolah," katanya.

Agus mengakui, Jawa Barat memang terbilang tinggi untuk pengguna narkoba, maka diperlukan upaya sinergitas untuk penanganan tersebut. Di BNN misalnya, seperti apa kita dorong upaya BNN di Pemkot tadi. Seperti yang sudah bilang SKPD mana saja yang tugasnya terkait kemudian di komisi penanggulangan AIDS juga harus ada sinergitas, sebab pengguna narkoba sangat terkait erat dengan penyakit seksual yaitu HIV AIDS," kata agus.(C-10/C-09)

Sumber : Koran Kabar Cirebon
Penulis Pengantar : Isur Suryana

No comments