NGINTIP PROSES SUKSESI UIN SGD BANDUNG | BISIK MAHASISWA #2019 GANTI REKTOR

Share:

TIDAK banyak yang tahu seperti apa proses penilaian Tim Seleksi Kemenag RI untuk calon rektor UIN SGD Bandung. Yang pasti, enam kandidat rektor sudah ada di tangan Menteri Agama. Adem-adem tentrem, begitulah ungkapan orangtua dulu menggambarkan situasi kampus UIN Bandung saat ini.

Keenam calon dimaksud antara lain: 
1. Prof Dr Aan Hasanah (Guru Besar Ilmu Pendidikan Psikologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan)
2. Prof Dr Agus Salim Mansyur (Guru Besar Ilmu Kurikulum Fakultas Adab dan Humaniora)
3. Prof Dr Mahmud (Guru Besar Ilmu Pendidikan Sosial Fakultas Tarbiyah dan Keguruan)
4. Prof Dr Moh. Najib (Guru Besar Ilmu Hadits Fakultas Syariah dan Hukum)
5. Prof Dr Muhtar Solihin (Guru Besar Ilmu Tasawuf Fakultas Ushuluddin)
6. Prof Dr Rosihon Anwar (Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin)

Bisik-bisik sebagian kalangan kampus menyebutkan, kepemimpinan Prof Mahmud rektor saat ini dianggap kurang greget. Seperti tidak ada kemajuan. Sementara bisik-bisik sebagian kelompok lainnya menyatakan segudang prestasi Profesor Mahmud yang menggelindingkan teori 'Wahyu Memandu Ilmu' itu.

Jika harus dirinci nampaknya tidak akan tertuang seluruhnya di tulisan ini prestasi Profesor Mahmud. Seperti yang dapat dipantau, Prof Mahmud adalah rektor UIN yang sejak 2015 berupaya menggiring status akreditasi UIN Bandung menjadi A dari BAN PT yang dicapai pada akhir masa jabatannya di tahun 2019.

Itu tidak mudah. Prof Mahmud juga sukses mengawal dan menyelesaikan pembangunan kampus II di Jalan Soekarno-Hatta yang sekarang dihuni mahasiswa Pascasarjana dan Fakultas Tarbiyah & Keguruan, begitu pun ia sukses membangun kampus III khusus mahasiswa pentahfiz Quran di Cileunyi Kab Bandung. Masih banyak keberhasilan Prof Mahmud lainnya yang piagam dan plakatnya terpampang di ruang utama Aljamiah al Islamiyah ini.

Namun demikian keberhasilan UIN Bandung versi rektorat ternyata tidak berbanding sejajar dengan pelayanan terhadap mahasiswanya. Sejumlah mahasiswa menyatakan, tidak ada pengaruh yang signifikan dari kepemimpinan Prof Mahmud.

Salah satu mahasiswi UIN Bandung, sebut saja Riska YI menilai, selama dirinya menjadi mahasiswa UIN Bandung, dia tidak merasakan ada yang luar biasa atas kepemimpinan Profesor Mahmud, bahkan biasa-biasa saja.

Soal sosok yang pantas menjadi rektor UIN Bandung, mahasiswi berparas ayu ini menghendaki rektor nanti memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk bersuara. Riska tidak mau rektor yang membungkam kebebasan berpendapat para mahasiswanya.

"Mau rektor yang memberikan peluang bagi mahasiswa buat bersuara, transparan soal dana kampus, dan sosok yang dekat dengan mahasiswa," ungkap Riska tanpa beban.

Dengan perubahan sistem pemilihan yang tidak lagi dilakukan Senat Universitas, Riska mewakili ribuan mahasiswa lainnya mengaku bergembira karena Tim Seleksi Kemenag dan Menteri Agama sendiri bisa mendengar keluh-kesah dan keinginan para mahasiswa atas rektor lama menyongsong rektor barunya itu.

Seperti diketahui, penetapan dan pengangkatan rektor perguruan tinggi keagamaan yang diselenggarakan pemerintah akan dilakukan oleh menteri agama (menag), bukan lagi melalui pemungutan suara (voting) senat universitas. Ketentuan baru ini tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 68 Tahun 2015.

Seperti menaruh perasaan dendam atas sistem pemilihan rektor sebelumnya, para mahasiswa kini berani bersuara meski tidak melalui aksi massa. Mereka ada yang menulis puisi, essai, analisa, bahkan unek-unek agar Menteri Agama tidak salah memilih rektor baru UIN Bandung periode 2019-2023.

Paling lantang dari suara mahasiswa itu adalah "Rektor Bersih yang Tidak Korup, Tidak Kolusi, Tidak Nepotisme (Tidak KKN)". Kalau calon rektor nanti terindikasi melakukan praktek KKN secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Menteri Agama diminta segera menganulir para calon dimaksud. "Kita butuh rektor yang hebat, tapi bersih," kata mahasiswa pascasarjana yang hanya ingin namanya diinisial HG.

Visi Kampus Unggul
Sedikit melongok isi dari visi yang dilontarkan Prof Mahmud yang dituangkan dalam naskah visi-misi kepemimpinannya periode berikut. Naskah itu akan menjadi alasan Prof Mahmud memimpin kembali rektorat UIN SGD Bandung masa bakti 2019-2023.

Kata Prof Mahmud dalam naskah visi-misinya: Visi kepemimpinan yang akan menjadi pijakan dalam memimpin UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah mewujudkan perguruan tinggi Islam yang unggul dan kompetitif di era revolusi industri 4.0 berbasis wahyu memandu ilmu.

Sementara itu Prof Mahmud juga menuangkan misi yang akan ia kerjakan pada periode kepemimpinan berikutnya. Misinya hampir sama dengan yang ia dengungkan saat ia menjadi calon rektor periode 2015-2019.

Namun ada yang unik dari suksesi rektor UIN Bandung ini. Istilah Wahyu Memandu Ilmu yang viral sejak kepemimpinan Prof Mahmud periode itu, kini menjadi motto kandidat lainnya di pemilihan rektor UIN Bandung kali ini, yakni Prof Agus Salim. Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung itu bahkan menuangkan mottonya di naskah visi-misi yang ia kirim ke Tim Seleksi Kemenag RI di Jakarta. Curi ide kah? [IS]

Dari berbagai sumber
Foto: uinsgd.ac.id
_______________________ 
BERIKUTNYA: Siap-siap Telusuri Kasus Dugaan Korupsi Sertifikasi Guru Libatkan Pejabat UIN Bandung ...!!!

No comments