KETUM GPAN BERHARAP PRESIDEN JOKOWI-MA'RUF TINDAK TEGAS SINDIKAT NARKOBA | SEGERA EKSEKUSI MATI

Share:


GEMBONG dan konco-konconya seperti bandar maupun pengedar narkoba, semuanya adalah musuh bangsa Indonesia. Musuh generasi kita dan selanjutnya. Tidak ada maaf bagi mereka, sebab akibat ulah mereka itulah banyak generasi menjadi korban dan pecandu.

Salah-salah, akibat perbuatan mereka juga korban dan pecandu terpaksa harus dipenjara. Seharusnya, sesuai Undang Undang No 35 Tahun 2009 tentang narkoba, korban dan pecandu itu harus direhabilitasi sebagai bentuk hukuman.

Paling akhir dari kisah drama penangkapan korban dan pecandu narkoba adalah Nunung Srimulat. Ketua  Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (Ketum GPAN) Brigjen Pol. Drs. Siswandi berharab Nunung setelah hasil asesment segera direhabilitasi. Apalagi hasil Puslabfor Mabes Polri, Nunung terindikasi sudah 13 bulan mengonsumsi narkoba dan hasil tes urine positif serta barang bukti Sabu 0,36 gram (di bawah Surat Edaran mahkamah Agung - SEMA).

"Jangan ragu penyidik segera merehabilitasi, jangan ragu memberikan putusan untuk segera merehabilitasi karena rehabilitasi merupakan hukumunan. Mudah-mudahan minggu ini sudah direhabilitasi," ungkap Siswandi kepada sejumlah awak media di Jakarta, Kamis (1 Agustus 2019).  

Di sisi lain, Siswandi berharap besar kepada presiden dan wakil presiden terpilih pemenang Pilpres 2019 Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin untuk mengeluarkan eksresi berupa kebijakan luar biasa untuk para gembong dan bandar narkoba. Maksudnya agar Indonesia bersih narkoba. Berikut petikan wawancara dengan Brigjen Pol. Drs. Siswandi terkait harapan terhadap presiden terpilih.

1. Terpilihnya kembali Jokowi dan Ma'aruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden, bagimana dengan komitmennya terhadap pemberantasan narkoba kedepannya?

Presiden Jokowi periode 5 tahun jadi presiden yakni 2014-2019 pernah mengatakan, Indonesia Darurat Narkoba. Pemberantasan terhadap narkoba sudah bukan ratusan kilogram lagi, namun sudah berton-ton dan berjuta-juta pil ETC. Mengerikan, suplay ke indonesia. Dan Indonesia surga dunia terhadap peredaran narkoba. Semakin aparat baik Polri maupun BNN mengungkap, semakin banyak peredaran masuk ke Indonesia.

2. Di manakah  akar masalahnya?

Sudah pasti akar persoalannya karena kurang tegasnya penindakannya terhadap gembong-gembong narkoba. Diharapkan kedepanya 2019-2024 presiden dan wakilnya, tindakan tegas seperti pelaksanaan eksekusi mati jangan ditunda-tunda apalagi eksekusinya berjilid.

3. Sebagai ktua umum GPAN, apa pesan Anda untuk kepemimpin Jokowi ke depan tentang pemberantasan narkoba?

Kami berharap, presiden lakukan tindakan tegas tanpa pandang bulu, WNA mana pun, para penyelundupnya segera eksekusi mati.

3. Bagaimana juga untuk hukuman bagi bandar-bandar besar narkoba yang sampai saat ini masih menggantung hukumannya. Bagaiman juga nasib para pengguna, apakah tetap dihukum, atau bagaimana nanti ke depannya?

Negara RI menganut negara berdasarkan hukum. Patuh dan taat pada hukum. Panglima tertinggi adalah hukum. Laksanakan putusan hukumnya. Yang hukuman mati segera eksekusi.

Bagi para korban penyalah guna dan pecandu narkoba, tempatnya bukan penjara melainkan panti rehabilitasi. Jangan dikriminalisasi, sebab tempat mereka bukan di penjara.

4. Siapakah yang pantas untuk menjadi pembantu beliau (presiden) yang betul-betul tegas untuk memberantas bandar-bandar narkoba ini dari Indonesia?

Yang punya komitmen terhadap pencegahan, rehabilitasi maupun pemberantasannya. Berantas suplaynya.
Tekan pangsanya/ Marketnya. Rehabilitasi korban dan pecandunya.

5. Apa harapan dan keinginan Anda untuk Indonesia bersih dari narkoba?

Komitmen Semua aparat yang diberi wewenang dalam Undang Undang, jangan egosekroral. Narkoba musuh kita semua. Katakan Tidak Pada Narkoba!!

Lakukan tindakan tegas terhadap bandar/ sindikatnya, jangan ragu-ragu. Rehabilitasi para korban maupun pecandunya.[IS]

No comments