KETUM GPAN SETUJU NIAT PEMERINTAH MEREHABILITAS 21.540 NARAPIDANA NARKOTIKA

Share:


JAKARTA - Melalui Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI Sri Puguh Budi Utami, Jumat (6/12/2019), mulai tahun 2020 pemerintah akan merehabilitasi 21.540 Warga Binaan Pemasyarakatan Narkotika. Atas dasar itu di 49 Lapas, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), dan RS Pengayoman, persiapan pun sudah disusun sejak saat ini.

Ini berita baik dan harapan bagi banyak pihak, khususnya Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN), yang selama ini gencar menyuarakan rehabilitasi untuk pecandu dan korban narkotika. Ketua Umum GPAN Brigjen Pol (Purn) Drs. Siswandi mengatakan, pernyataan Kemenkumham RI itu memberikan angin segar terhadap penanggulangan penyalahguna narkoba yang dibui di penjara.

"Sudah saatnya mengedepankan kewenangan untuk merehabiltasi para penyalahguna dan pecandu narkoba," tandas Siswandi kepada pers di Jakarta, Sabtu (7/12/2019). Dikatakan, sesuai catatan lebih dari 260.000 napi kejahatan dipenjara di Indonesia, dari jumlah tersebut 120.000 orang adalah napi narkoba.

Sebanyak 40% dari 120.000 atau sekitar 48.000 napi tersebut adalah para penyalahguna narkoba yang dikriminalkan. Mereka haruslah direhabilitasi. Ketua Umum GPAN sangat mendukung jika Pemerintah akan merehabilitasi 21.540 napi narkoba. Ini sesuai amanat UU 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. "Semoga sisanya segera direhabilitasi juga," harap Siswandi.

Punya Tiga Nyawa
Disamping apresiasi terhadap upaya pemerintah tersebut, Siswandi yang hari itu terlibat dalam pertemuan dibentuknya LBH Panji Keadilan GPAN, mendesak pemerintah dan usulan DPR agar menindak tegas para bandar sindikat narkoba agar dihukum mati. 

GPAN mencatat ada 90 Narapidana Narkoba yang sudah divonis hukuman mati. "Namun sampai saat ini tidak dilakukan EKSEKUSI. Ini menjadi polemik di masyarakat," tandas Siswandi didampingi mantan Kepala BNN Dr. Anang Iskandar.

 
Tatkala aparat mengungkap kartel sindikat narkoba dengan barang bukti ratusan ribu kilogram bahkan berton-ton serta berjuta-juta butir pil ekstasi, semua memberikan apresiasi kepada BNN maupun Polri.

Selanjutnya, di persidangan jaksa penuntut umum (JPU) menuntut HUKUMAN MATI atas terdakwa narkoba. Semua mengacungkan jempol, bahkan hakim pun memvonis mati. Semua orang tentu saja merasa sangat puas. Namun kelanjutannya apa? 

"Yang dihukum mati kagak mati-mati tuh. Apakah kita menunggu sampai mereka-merka itu berbuat dan mengendalikan narkoba dari lapas lagi dan ketangkep lagi. Dihukum mati lagi. Lagian aneh 'kan, hanya di republik ini napi narkoba bisa MATI sampai 3 kali," kata Siswandi yang mencontohkan kasus Fredi Budiman yang sampai vonis mati tiga kali, baru dieksekusi

Siswandi yang mantan petinggi Mabes Polri ini pun berharap semua komponen anak bangsa. waspada Indonesia sudah mengalami BENCANA NARKOBA. "Tahun 2020 semoga menjadi awal yang baik untuk para pecandu dan korban narkoba agar bertobat dan berobat," pungkasnya.[isur]

No comments