TAHUN 2020 STUNGTA PEMUSNAH SAMPAH SUDAH LAYAK GUNA | PELAKU BANK SAMPAH IKUT TERBANTU



BANDUNG - Mulai tahun 2020 nanti, teknologi pemusnah sampah ramah lingkungan berupa Incenerator Smokeless alias STUNGTA, segera beroperasi. Selain karena sudah diuji teknologi oleh BSN (Badan Stadardisasi Nasional) juga mengedepankan sistem KAMISAMA, Kawasan Minimasi Sampah Mandiri.  

Informasi paling mutakhir, dari berbagai sudut pandang kepentingan publik, STUNGTA dan KAMISAMA sangat diterima instansi dan stakeholder termasuk masyarakat. Mulai tahun 2020 ada titik cerah tim ahli dari Hejo Tekno mengurangi beban penumpukan sampah di TPA.

Dari kantor Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Kamis (5 Desember 2019) dilaporkan adanya pertemuan penting membahas persoalan minimasi sampah. Hadir Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Tim Hejo Tekno, Badan Standardisasi Nasional, Disperkim Jabar, puluhan wartawan televisi dan online.

Yang cukup menarik, Gerakan Hejo yang merupakan markas besar Hejo Tekno berkolaborasi dengan pelaku seni kreatif (fashion) dalam meningkatkan nilai terhadap kegiatan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Hadir juga Dindin seniman dan perancang busana berbasis barang bekas daur ulang.

Dalam pertemuan itu juga terkuak, Teknologi Incinerator berbasis thermal dapat menjadi bagian solusi dari setiap program serta kegiatan pemerintah dan masyarakat dalam pemusnahan sampah.

“Hampir dua tahun, kami tiba pada pertemuan ini. Hari ini Stungta, si pemusnah sampah ramah lingkungan yang telah lolos uji dari berbagai lembaga terkait, diapresiasi oleh berbagai pihak,” begitulah kata Betha kurniawan, CEO Hejo Tekno, kepada puluhan wartawan selepas berdiskusi intensif di lantai 3 Gedung BPKAD Jl. Kawaluyaan Indah Raya No. 6 Bandung.

Saat itu Betha Kurniawan memperkenalkan kinerja mesin Stungta ke berbagai kalangan di lokasi. Sementara menurut Teguh Adha, General Affair Hejo Tekno, kinerja dan sosok teknologi Stungta didiskusikan segala kemungkinan, termasuk penerapannya demi menanggulangi rmasalah sampah di Jawa Barat.

Kehadiran Stungta berkolaborasi dengan metoda TPS (Tempat Pengumpulan Sampah) 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Sekarang menjadi TPS3R+, via olahan Stungta bisa menjadikan sampah volumenya tinggal 5% saja.

"Residunya berupa karbon. Ini bermanfaat sebagai pengganti galian pasir. Bahan baku bata ringan atau hebel, TPS3R jadi punyai nilai tambah,” jelas Betha Kurniawan.

Ada pesan penting saat berdiskusi dengan Bambang Rianto Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat di ruangan rapat Kadis.  “Harapannya, Stungta karya anak bangsa yang dalam beberapa tahun terakhir ini rajin memperbaharui sistem, hingga beberapa langkah lagi berlabel SNI dari Badan Standar Nasional, dapat kompak bekerja dengan TPS3R selama ini,” kata Kadis.

Sedangkan Kepala Bidang Infrastruktur Permukiman Disperkim Jabar Lucky Ruswandi, sesaat melihat kinerja mesin Stungta di lapangan mengapresiasi kinerja mesin ini mengatakan: ”Produk ini semoga menjadi contoh solusi bagi permaslahan sampah di Indonesia. Termasuk dalam hal pengolahan yang disiniergikan dengan pengelolaan hulu hingga hilir sampah.”

Dari diskusi tersebut hadir Zulhamidi dari Kantor Layanan BSN (Badan Standardisasi Nasional) yang berkantor di Bekasi. Ia menanggapi antusiasme para calon pengguna teknologi Stungta, merasa gembira barang yang selama ini diujinya telah diapresiasi secara luas di masyarakat. “Sebentar lagi, pada 2020 awal ini, akan tuntas keabsahan penggunaannya di lapangan.”

Cukup menarik dalam perkenalan mesin Stungta ini, dalam praktiknya kelak TPS3R itu akan disinergikan dengan pihak pemanfaat sampah dari pihak kalangan perancang busana berbasis material hasil olah sampah 3 R.

Dua model professional sempat berlenggak-lenggok menunjukkan busana yang hampir 100% berasal dari olahan sampah 3R, baik di area selama berdiskusi maupun saat meninjau kinerja Stungta di lapangan.

”Kami di Cisarua Lembang sejak 2008 sudah menggeluti busana hasil 3R ini. Nanti pada setiap lokasi KaMiSaMa (Kawasan Minimasi Sampah Mandiri), kita bisa memberdayakan para pengelolanya. Inilah kolaborasi Stungta dengan kami,” kata perancang busana pasangan Dindin (34) dan Iliyin Nur Oktavia (29) ini.

Terakhir, menurut H. Maman, Ketua RW 08 Desa Kertajaya, Padalarang Kabupaten Bandung Barat yang hadir di pertemuan ini, dan dalam waktu dekat awal tahun 2020 warganya telah menyiapkan lahan untuk penempatan mesin Stungta melalui CSR dari Pertamina, menyatakan.

”Ribuan warga kami sepertinya, tak sabar ingin segera Stungta hadir di tempat kami. Percayalah, bila ini terjadi warga di wilayah kami akan lebih sejahtera hidupnya, tak terbebani oleh masalah sampah,” tandas H. Maman. (Harri Safiari & Isur)

No comments

Powered by Blogger.