20 Tahun Lagi Cirebon-Indramayu Krisis Air Minum | Mata Air Rusak Ditimbun Perumahan

Share:


CIREBON - Ini prediksi mengerikan meski 'kemungkinan' kita saat itu sudah pada tiada, 20 tahun lagi Cirebon-Indramayu akan mengalami krisis air minum. Debit air bersih menurun drastis, air bawah tanah (ABT) tidak lagi bisa diandalkan untuk MCK apalagi minum.

"Air gunung kering karena sejumlah mata air rusak oleh ulah manusia, termasuk garangnya betonisasi di sejumlah ruas jalan desa. Mata air hilang, air mata pun mencucur," ungkap Direktur Eksekutif YBLH (Yayasan Buruh dan Lingkungan Hidup) Yoyon Suharyono, ditemui saat ia bersama para RT-RW dan Kepala Desa di Ciawi Gajah Kecamatan Beber, Kab. Cirebon, awal pekan di bulan Februari 2020.

Yoyon Sang Pencetus 'Sejuta Pohon Jati' pada pemerintahan kabupaten Cirebon dipimpin Sutisna (2003) itu, kini kembali bersuara soal gambaran mengerikan di masa mendatang akibat 'kebijakan miring' para penguasa masa kini dan yang akan datang, keteledoran masyarakat, dan garangnya para pengusaha terhadap alam sekitar.

Masuk akal jika pemanfaat air sekarang tidak pernah bicara mata air, seperti pertanian, peternakan, perhotelan, pemanfaat air kemasan, dll. Kata Yoyon, orang sudah gila sekarang diberi air banyak malah menangis, gagal panen, gagal perikanan.

"Air kemasan, apartemen, hotel dan perumahan lainnya hanya bicara profit. Jadi, tidak ada yang bicara masalah mata air. Tapi kalau kekeringan, krisis air, nangis. Kalau musim hujan kebanjiran, juga nangis," ungkap Yoyon.

Hitungan sederhana Yoyon, Cirebon kini sedang mengalami krisis mata air. Mata air rusak dan tidak ada yang peduli rumah air. "Kalau ini dibiarkan maka 20 tahun ke depan (2040) penduduk di Kota dan Kabupaten Cirebon, termasuk Kab. Indramayu akan mengalami kriris air minum. Mereka kesulitan mendapatkan air minum," tandasnya.

Untuk menyelamatkan mata air tersebut Yoyon Suharyono bersama pengurus RT-RW dan desa/kelurahan di Kab. Cirebon dan Kuningan kini sibuk melakukan konservasi selamatkan mata air. 
 
Yoyon bersama Dirjen Penataan Kerusakan dan Pencemaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Karliyansyah, melakukan kegiatan konservasi sumber mata air di RW 05 Kelurahan Kemantren Kec. Sumber, dan Desa Kamarang Kec Greged Kab Cirebon.

"Alhamdulillah evaluasi hasil sidak KLHK tentang konservasi mata air sepakat untuk menambah debit mata air yang sekarang berkurang bahkan hilang, akan ada harapan menambah debit air," kata Yoyon.

Yoyon juga menemukan hal menarik dalam upaya konservasi mata air ini, yakni kuwu atau kepala desa di Ciawi Gajah Kecamatan Beber, Kab Cirebon, sengaja membuat Peraturan Desa (Perdes) untuk konservasi dan pemanfaatan mata air. Bahkan melalui Perdes itu air kemasan kini masuk Bumdes. "Sebagai rujukan desa yang memiliki mata air," pungkas Yoyon.(isur)

No comments