Pemilik BB Narkoba di Bawah SEMA Harus Diasesmen | Pencerahan Ketum GPAN Kepada Penyidik

Share:

foto: GPAN

Ketua Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) Brigjen Pol Purn. Drs. Siswandi menyampaikan pencerahan terhadap penyidik yang melakukan penyidikan bagi tersangka yang wajib diasesmen. Selain Barang Bukti (BB) di bawah ketentuan seperti yang tercantum dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA), BB itu pun dipakai untuk dirinya sendiri. Hasil test urine pun positif.

Ini ulasan Siswandi:
Sedikit catatan tentang asesmen untuk tersangka narkoba. Tema itu selalu menjadi diskusi dalam ruang sidang asesmen, sebelumnya hanya memeriksa aspek medis semata berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2011 Tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, di lakukan di BNN atau IPWL.

Dalam perjalanannya, model asesmen itu banyak disalahgunakan oleh IPWL swasta, sehingga validitasnya dipertanyakan. Untuk menyempurnakan asesmen itu lahirlah Perber 2014 bahwa asesmen tidak hanya aspek medis tetapi juga harus aspek hukum. Karenanya lahirlah team asesmen terpadu (TAT) yang berada di seluruh BNNK dan BNNP. Hasil rekomendasi  TAT tersebut lebih lengkap karena ada aspek medis dan hukum.

Lantas, siapa yang bermohon asesmen tersangka atau keluarganya ke penyidik untuk dilanjutkan ke BNN? Kapan waktu asesmen? Waktu ideal 6 hari sejak ditangkap. Tapi ini tidak mudah.

Menurut saya, asesmen bisa dimohonkan di tingkat penyidikan, penuntutan, persidangan sebelum tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Kenapa demikian, sebab hakikat rekom asesmen hanyalah memperkuat posisi tersangka atau terdakwa divonis rehab.

Otoritas untuk menentukan vonis rehab tetap di tangan hakim. Kewajiban penyidik adalah menyajikan berkas secara lengkap dan komprehensif. Kalau barang bukti sabu di tangan tersangka kurang dari 1 gram ganja kurang 5 gram, ekstasi kurang dari 2.4 gram ya bantu diasesmenlah... Toh di BNN sudah ada anggarannya alias gratis.[dituli ulang oleh Isur]

No comments