Covid-19 Bisa Dimusnahkan dengan Bakteriofag | Virus lawan Virus




Perkembangbiakan virus sangat cepat dalam jumlah sangat besar sehingga kalau ia dibiarkan berkembang biak, hanya dalam waktu dua bulan saja semua permukaan bumi akan ditutupinya hingga ke dalam tanah beberapa meter. Jika ini terjadi, kehidupan semua makhluk hidup akan hancur dan habis dari permukaan bumi. Tak ada lagi kehidupan bagi penghuni planet bumi kecuali bakteri itu sendiri.

Biar gampang virus yang dimaksud adalah sejenis bakteri jahat pemusnah massal. Banyak orang menyebutnya wabah, tha'un, mikroba, virus, bakteri, dll. Di muka bumi ini hanya ada dua jenis bakteri yang hidup dan berkembang biak, yakni bakteri jahat dan bakteri baik. Bakteri jahat hanya bisa musnah jika dimakan oleh bakteri baik. Begitulah Allah telah menciptakan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Virus Corona (COVID-19) yang menghebohkan Wuhan, China, tidak lebih dari keganasan bakteri jahat. penyebarannya sangat cepat dan membuat kepanikan umat manusia di seantero bumi.  

Rupanya serbuan Virus Corona yang kini melanda hampir seluruh benua itu ditakutkan oleh seluruh penghuni bumi, sehingga wajar jika para pimpinan di seluruh negara menjadi panik dan mengeluarkan kebijakan darurat. Padahal sebenarnya tidak harus selebay itu juga. Toh wabah berupa Virus Corona Disease 19 (Covid-19) juga sejenis bakteri yang sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Di dunia ini ada satu daerah yang tidak pernah diserang wabah penyakit, yakni Kota Madinah, meskipun wabah itu sebenarnya pernah menyerang Jazirah Arab pada tahun 1926. Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa Kota Madinah yang dimuliakan Allah itu pada setiap sudut dan pintu masuknya dijaga malaikat, maka Dajjal dan Wabah tidak bisa masuk ke dalamnya. Ini berdasarkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Al Bukhari.  

Dari cerita Umar bin Khatab yang hendak memasuki daerah Syam, dikabarkan bahwa Syam sedang terkena wabah bakteri jahat. Sayidina Umar yang baru tiba di perbatasan Syam itu akhirnya kembali ke Madinah atas petunjuk Rosulullah yang disampaikan kembali oleh Ubaidillah. Kesimpulan dari sikap Umar bin Khattab waktu itu, ia tidak jadi masuk ke daerah yang diketahui sedang diserang wabah penyakit. Umar kembali ke Kota Madinah yang dijaga ketat para malaikat.

Rosulullah bersabda, jangan masuk ke daerah yang diketahui sedang diserang wabah, sebaliknya jangan lari dari daerah itu jika daerahmu sudah kadung diserang wabah. Ketakutan warga terinfeksi virus dan berhamburannya penduduk untuk lari ke daerah lain, hanya akan menambah penyebaran virus, bakteri, atau wabah itu semakin cepat.  

Wabah telah terjadi ratusan kali di bumi ini. Corona Virus Disease 19 (Covid-19) yang berupa bakteri jahat pemusnah massal juga sudah ada di bumi ini untuk membuat keseimbangan alam. Orang zaman dahulu menyebutnya tha'un.

Pertanyaannya, bagaimana agar wabah itu tidak menyebar lebih cepat? Maka diberlakukan sistem isolasi diri untuk tidak melakukan kagiatan massal, kurangi titik kumpul berlebihan dalam kurun waktu beberapa belas hari. Dengan cara itu wabah, mikroba, virus, atau bakteri tidak akan aktif karena tidak ada yang menyebarkannya.

Tentu saja sikap masyarakat tidak harus berlama-lama mengurung diri di tempat tidurnya, tetapi ada sikap lain yang harus dilakukan seperti membersihkan diri dari segala kotoran, yakni kotoran fisik dan kotoran hati maupun pikiran. Selanjutnya kita memohon kepada Allah agar diturunkan para malaikat penjaga untuk menghalau bakteri di setiap sudut daerah kita, termasuk menjaga setiap manusia. Dari sini umat Islam sudah tahu apa yang harus diperbuat.

Berbagai spekulasi pengobatan muncul tatkala Virus Corona untuk pertama kalinya menyerang Wuhan (China) dan menyebar ke seluruh benua termasuk Indonesia. Temuan ilmuwan medis di China tentang obat malaria bernama Chloroquine memang cukup berpengaruh. Bahkan ramuan-ramuan tradisional seperti jahe merah, bawang putih, pisang, dll juga tidak ada salahnya untuk dicoba.

Sebenarnya Allah telah menciptakan pemangsa atau pembunuh bakteri tersebut dari jenis bakteri juga, yakni Bakteriofag. Ia membunuh bakteri jahat (virus) itu dengan cepat sesuai kecepatan perkembangbiakan virus tersebut. Dengan demikian bakteri itu akan tetap ada di muka bumi ini dalam jumlah yang seimbang, tidak lebih tidak kurang.

Bagaimana agar Bakteriofag itu muncul dan membantai Virus Corona yang menjadi wabah saat ini? Tentu saja hidup bersih dan mengonsumsi makanan dan minuman sehat, halal, dan baik adalah solusi terbaik. Pada beberapa penelitian menyebutkan, Virus Corona menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sama seperti HIV AIDS. Hanya saja Virus Corona penyebarannya sangat cepat dan lebih ganas.

Banyak meminum air mineral akan memperkuat daya tahan tubuh, perbanyak mengonsumsi vitamin C, makanan dengan gizi seimbang, rajin berolahraga, tidak mengonsumsi makanan ekstrem, sangat membantu terhindar dari serbuan Virus Corona.

Memperbanyak jumlah bakteri baik (Bakteriofag) dalam tubuh kita akan menghalau bakteri jahat (virus) dalam tubuh kita yang akan immun secara otomatis. Virus Jahat itu akan dimakan oleh Bakteriofag. Istilah yang populer di masyarakat "Musuh dari Musuhku adalah Temanku". Temanku yang dimaksud adalah Bakteriofag.

Di kalangan umat muslim sudah biasa mendengar pepatah ilahi yang menyebutkan, sesungguhnya kebatilan (kejahatan) itu akan musnah. “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (al-Isra’: 18). Intinya, bakteri jahat akan musnah oleh bakteri baik (Bakteriofag).

Secara ilmiah kita harus memahami faktanya bahwa peranan Bakteriofag dalam kehidupan antara lain, untuk membuat antitoksin; untuk melemahkan bakteri; dan untuk reproduksi vaksin. Bakterofag juga berperan aktif sebagai virus yang melumpuhkan bakteri (Virus lawan Virus). Bakteriofag lebih kuat dari antibiotik. Bakteriofag sanggup menghancurkan sel tumor. Bakteriofag adalah virus yang kita inginkan manfaatnya.

Agar kita tahu saja, Bakteriofag dapat ditemukan di tanah, di air, maupun pada beberapa produk makanan (daging, sayuran, produk susu). Kita membedakan fag ini menjadi virus dan temperatur yang memiliki cara kerja berbeda. Di mana virus menembus masuk dari dinding seluler bakteri, dan bermultiplikasi secara cepat tanpa berintegrasi dengan DNA sel inang, sementara temperatur meningkatkan suhu bakteri dengan berintegrasi dengan DNA sel inang. Dalam aplikasi antibakteri, kemampuan melisiskan sel tanpa DNA ini yang direkomendasikan.

Penggunaan Bakteriofag sebagai agen antibakteria untuk melawan pathogen-patogen, ini menjadi alternatif menarik bagi kita yang panik dengan serbuan Virus Corona. Dalam kondisi khusus Bakteriofag sangat efektif untuk menghilangkan pathogen-pathogen dalam saluran pencernaan.

Sekadar contoh, kenapa orang tua jaman dulu minum air keran tapi gak kena diare? Jawabannya simpel. Di dalam air keran itu ada virus Bakteriofag yang kalau diminum malah menyebabkan bakteri penyebab diare dan penyakit sejenis malah mati.

Contoh lainnya, Ernest Hanbury Hankin pernah meneliti ada orang yang meminum air Sungai Gangga dan Yamuna di India bisa sembuh dari penyakit kolera. Kemudian ahli bakteriologi (Frederick Twort) sampai membuat postulat mengenai hal ini, namun sayangnya terhenti gegara perang dunia pertama.

Jadi, kesimpulannya kita mampu mengundang Bakteriofag dan memohon pertolongan Allah untuk mendatangkan malaikat penjaga daerah kita dari serangan Virus Corona. Diri kita sendiri lah yang mampu menghalau serangan Virus Corona, dan diri kita juga yang sanggup mengobati (dengan pertolongan Allah). Intinya, obatnya adalah prilaku kita sendiri. Don't Panic

Sumber:  
-Ensiklopedia Mukjizat Ilmiah Hadits Nabi, karangan Dr. Ahmad Syawqi Ibrahim, Jilid 6, halaman 196
-Hijaz, Terjemah Tafsir Per Kata, terbitan SYGMA Creative Media Corp. Bandung, cetakan 28 November 2007  
- Laman https://www.gurupendidikan.co.id/bakteriofag/


  

No comments

Powered by Blogger.