Ganja Boleh untuk Keperluan Medis? | Simak Hasil Diskusi Mahasiswa UIN Bandung dengan Para Ahli

Share:


BANDUNG - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ushuluddin Cabang Kabupaten Bandung bekerjasama dengan Lingkar Ganja Nusantara (LGN) Regional Bandung, BNN Provinsi Jawa Barat dan Fokus Institute menggelar diskusi Tanaman Ganja bertajuk "Ganja dalam Stigma Masyarakat" yang berlangsung di Perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (04/03/2020).

Mirasari, dr., Ph.D (Dosen Fakultas Kedokteran Unisba), M. F. Zaky Mubarok, S. Ag (Direktur Eksekutif Fokus Institute), Fikri Akbar, (LGN Bandung), Firli Farhatun Nisa dan Jajang Batrut Tamam (Penyuluh Ahli Narkotika BNN Provinsi Jawa Barat) tampil menjadi narasumber yang membahas tanaman ganja dalam multiperspektif.

Dalam sambutannya, Deni Abdul Malik, Ketua Panitia penyelenggara menjelaskan kegiatan ini untuk mencari dan memecahkan berbagai kemelut serta permasalahan yang sedang berlangsung di masyarakat.

Menurutnya, polemik ganja untuk kepentingan medis masih dibenturkan dengan stigma yang negatif yang berkembang di masyarakat, "dengan hadirnya diskusi ini diharapkan mahasiswa dan masyarakat bisa merubah wawasan dan pandangan serta mengenal aspek positif terhadap tanaman ganja," tegasnya.

Fikri Akbar, LGN Bandung menyebutkan, tanaman ganja secara historis sudah lama dipakai sejak abad ke-X, sehingga dipandang mesti ada banyak kajian dan penelitian serius untuk pemanfaatannya secara medis.

"Tanaman ganja terbukti mempunyai khasiat medis yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis, sehingga diperlukan penelitian mendalam soal ini untuk memanfaatkan tanaman ganja secara medis," paparnya.

Mirasari, dr., Ph.D menyebutkan, tanaman ganja memiliki dampak positif dan negatif terhadap manusia secara umum, sehingga mesti banyak penelitian yang menjunjung persoalan ganja secara detail dan menyeluruh.

Berbeda dengan Jajang dan Firly perwakilan BNN Prov Jabar, tanaman ganja tidak boleh digunakan (dikonsumsi) atas dasar atau alasan apa pun. "Kami tidak bisa apa-apa, kami bergerak atas dasar Undang-Undang, kalo Undang-Undang melarang ya berarti tidak boleh apa pun alasannya," tandasnya.

Sedangkan M.F. Zaky Mubarok mencoba memecahkan kemelut yang sedang berkembang dengan analisis yudisial sebagai gerbang awal pemanfaatan ganja untuk kepentingan medis. Ia menilai, untuk memanfaatkan tanaman ganja secara medis mesti dilakukan riset dan kajian mendalam; selain itu, untuk memuluskan penelitian mesti melakukan JR Undang-Undang No 35 Tahun 2019 khususnya pasal 8 ke MK (Mahkamah Konstitusi)

"Kalau UU-nya sudah beres, penelitian pun akan berjalan mulus. Silahkan jihad (berjuang) konsitusi di MK sebagai wujud dan ekspresi warga negara yang taat hukum," tandasnya.

Rencananya, setelah diskusi yang berlangsung khidmat, yang dihadiri oleh puluhan orang dari perwakilan lintas organisasi dan komunitas ini, pihak LGN Regional Bandung, kata Fikri Akbar akan melakukan yudicial review ke Mahkamah Konsitusi.

"Dalam beberapa waktu kedepan kita akan lakulan yudicial review karena tanama ganja memiliki manfaat secara medis. Meskipun banyak yang menyalah gunakannya, sehingga dicitrakan negatif," pungkasnya.[rls/IS]

No comments