DAMPAK COVID-19 TEKANAN BERAT BAGI PENDIDIKAN ANAK-ANAK DISABILITAS

Share:


"Tetapi Mereka Harus Mandiri dan Terus Belajar" ---

 

PASTINYA orangtua alami kesulitan menjadi guru pengganti bagi anak-anak kita di rumah pasca diberlakukan libur sekolah akibat Covid-19. Namun, situasi ini memaksa orangtua menjadi bisa. Sesibuk apa pun kita berupaya meluangkan waktu mendidik anak-anak mengikuti pelajaran sekolah via daring (online).

 

Murid SD se-Indonesia diajak belajar dengan menonton TVRI, begitu pun siswa SMP belajar menggunakan teknologi internet, SMA sederajat bahkan kalangan mahasiswa memanfaatkan aplikasi Zoom dan platform media sosial lainnya.

 

Yang menjadi kesulitan justru bagi anak-anak disabilitas dengan berbagai jenis hambatannya. Jangankan dalam kondisi terancam COVID-19, pada situasi normal saja mendidik anak-anak disabilitas kerap mengalami kesulitan perlu keahlian khusus dan kesabaran. Pasalnya, bagi anak-anak disabilitas alias anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) itu perlu sentuhan guru secara langsung yang tidak mungkin dilakukan disaat harus social dan physical distancing.  

 

Pengalaman menarik diungkapkan Direktur Yayasan Biruku Indonesia (YBI), Juju Sukmana, Senin (27/04/2020). Sebanyak 65 anak binaan berada di YBI, sedangkan 22 anak lainnya harus didatangi ke lokasi tempat tinggalnya. Agar Covid-19 tidak menyebar, maka belajar di YBI pun diliburkan sesuai anjuran pemerintah. Di sinilah mulai muncul kesulitan.

 

Dampak  selain ekonomi yang paling berat juga masalah pendidikan, pola kebiasaan anak serta pola mendidik anak disabilitas itu sulit dilaksanakan jarak jauh atau online.

 

"Agak berat buat anak disabilitas. Kejenuhan dan sosialisasi mereka terhambat lagi. Gak ada pilihan lain selain sabar," ungkap Juju Sukmana. YBI terbilang yayasan cukup aktif dalam pembinaan, parenting maupun event bagi anak disabilitas (ABK), terhenti seketika sejak pengumuman pemerintah.  

 

Cara Belajar Disabilitas

Juju Sukmana tidak menyerah dengan keadaan, anak-anak disabilitas binaannya harus tetap belajar supaya bisa mandiri. Untuk itu YBI memberi pengarahan kepada para orangtua ABK. Media yang digunakan disiapkan seadanya.

 

"Ya meskipun harus 10x mikir cari media yang bisa dimanfaatkan di rumah. Jadi kita memang wajib kreatif," papar Juju Sukmana. Semua jenis disabilitas harus bisa, pada akhirnya dengan upaya semaksimal mungkin cara itu pun cukup berhasil. Ibarat kata "tidak ada rotan, akar pun jadi".

 

Setiap kali pelajaran yang diberikan YBI kepada orangtua untuk disampaikan kepada ABK, pada periode tertentu mesti diketahui hasilnya. Sebagai bahan pertyimbangan, untuk mengetahui hasilna orangtua memotret hasil karya anak atau memvideokannya.

 

Pandai Beradaptasi

Munculnya Covid-19 memaksa semua orang untuk memahami dan harus belajar cepat menyesuaikan diri. Kata Juju, kita dilatih tanggap, cekatan dan mengasah kreatifitas, semua karena cinta dan tanggung jawab terhadap apa yang sedang kita bina.

 

Kesulitan lain tentunya dihadapkan pada persoalan ekonomi, isi perut. Namun YBI tidak meminta bantuan pemerintah. Sebisa mungkin berusaha mandiri. "Kasihan pemerintah, sudah repot. Biar kita berinisiatif," tandas Juju yang juga pernah mendirikan Rumah Autis di Bandung ini.

 

Ia dan pengurus YBI tidak menggalang dana, hanya saja posting memberikan sembako dari Kas yayasan untuk 15 paket sembako untuk diberikan kepada yang benar-benar susah (yatim dan janda-janda yang punya ABK). "Tak lama kemudian ada donasi masuk dengan sendirinya tanpa saya minta," kata Juju dengan penuh harapan.

 

"Alhamdulillah, 50 keluarga di yayasan insha Allah masing-masing mendapat 15 kg beras, minyak goreng, terigu, dan gula untuk satu bulan mudah-mudahan cukup. Baru mau ngajuin ke Baznas untuk pertengahan Mei 2020," paparnya.

 

Juju Sukmana berharap semoga wabah ini segera berlalu, namun semua kebiasaan baiknya jangan berlalu. Latih diri agar "mampu" beradaptasi dan mensiasati serta memanfaatkan waktu luang ini. "Merugi kita jika dari situasi ini kita tidak dapat apa-apa, tidak belajar apa-apa," pungkasnya.[isur]

No comments