DR ILYAS DAN SISWANDI SEPENDAPAT TIO PAKUSADEWO DIREHABILITASI | ADA HARAPAN MENJADI BAIK

Share:

DR. Ilyas (kiri) Brigjen Pol Purn ADV Drs Siswandi (kanan) ---  

SETELAH tertangkapnya aktor senior Irwan Susetio Pakusadewo (Tio Pakusadewo) untuk yang kesekian kalinya dalam kasus narkoba, memacu para ahli, pengamat dan aktivis anti narkoba ikut berpikir. Tio sulit lepas dari ketergantungan narkoba karena beberapa alasan, terutama karena Tio dihukum penjara, seharusnya masuk panti rehabilitasi untuk diobati.

 

Analisa Ketua Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) Brigjen Pol (P) ADV Drs Siswandi, Tio Pakusadewo sepuluh kali dibui pun dapat dipastikan tidak akan berhenti dari ketergantungannya terhadap narkoba.

 

"Energi kita akan dihabiskan untuk ngurus orang seperti Tio Pakusadewo. Singkat kata, Tio harus berobat agar bertobat dari penyalahgunaan narkoba, dan tempatnya ya direhab," tandas Siswandi kepada pers melalui android, Rabu (15/04/2020).

 

Sependapat dengan Siswandi, pada hari yang sama pemerhati masalah narkoba Dr Ilyas mengatakan, dirinya bahkan pernah menjadi saksi untuk kasus Tio Pakusadewo. "Sebelum saya bersaksi, dia bersumpah tidak akan make lagi," kata Dr Ilyas.

 

Ditegaskannya, "sumpah lisan dari para pecandu buat saya masuk kuping kanang keluar kiri. Kenapa percaya orang sudah rusak jaringan syaratnya....?".

 

Saat mencermati pasca penangkapan Tio Pakusadewo, lanjut Dr Ilyas, ada yang menggelitik dari keterangan pers, diduga Tio kecanduan karena seminggu dua kali menggunakan narkoba. Pertanyaannya, apakah tidak membaca rekam medik yang tertuang dalam rekom asesmen BNN?

 

Soal Tio Pakusadewo tidak ada yang aneh dan tidak menarik dari segi pemberitaan. Bahkan tidak ada nilai yang baru dari pemberitaan tersebut. "Justru saya balik bertanya, kenapa  perlakuannya harus menjalani proses hukum? Kenapa ditangkap paksa, masukan ke tempat rehab," kata Dr Ilyas.

 

Di panti rehabilitasi minimal masih ada harapan baik. Kalau diproses hukum, kemudian disidangkan, dan divonis penjara, manfaat apa dari pecandu yang dibui? Untuk menyadarkan tidak mungkin sadar.

 

"Dihubungkan dengan curhatan Menkumham di ILC TVOne penghuni lapas dan rutan setengahnya adalah perkara narkotika, apa yang salah? Apakah Undang Undangnya salah? Kalau semua mau jujur, yang salah regulasi narkotika di Indonesia tidak dipedomani," tandas Dr Ilyas.  

 

Yang dipedomani hanya rangkaian kalimat pada pasal 111,112,113,114,132 dipahami tekstualnya dalam Undang Undang Narkotika. Tidak membacanya secara utuh konsteksnya.

 

"Hari ini yang penting tetep jaga diri dari serangan virus Corona. Jangan sampai terkena. Tunduk dan patuh kepada anjuran medis dan negara serta berdoa mendekat ke sang khalik," ujar Dr Ilyas.

 

Sementara anjuran untuk Tio Pakusadewo dan pecandu narkoba lainnya, "hanya buang energi mereka pecandu dipaksa karantina di tempat rehabilitasi. Itu hebat bukan di bui ...," pungkas Dr Ilyas.[isur]

No comments