Puluhan Nasabah Laporkan Pemilik KSP Indosurya Sebagai Kasus TPPU ke Bareskrim

Share:



Lawyer: Selamatkan Aset Nasabah Senilai Rp10 Triliun---

KALAU tidak diselamatkan aset nasabah (kreditur) senilai Rp10 Triliun di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta, maka uang dan aset lainnya sulit dikembalikan ke nasabah. Yang terjadi, bisa-bisa nasabah jadi stres berat. Perkara ini tidak main-main, nasabah bahkan ada yang menyimpan uangnya hingga miliaran rupiah. 

Selain berupaya melalui PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang), sebagian besar nasabah KSP Indosurya Cipta juga mengajukan kasus ini sebagai Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) ke Bareskrim Mabes Polri.

Kuasa Hukum para nasabah Dr. (Cand) Wardaniman Larosa, SH, MH, CLA, CTA dari Jagratara Merah Putih Law Firm Jakarta yang diketuai Brigjen Pol (P) ADV Drs Siswandi, saat dimintai keterangan terkait perkara ini, Sabtu (16 Mei 2020) berkeyakinan bahwa melalui laporan polisi ini dugaan TPPU aliran dana Rp10 Triliun milik nasabah akan semakin terang. 

Pihaknya mendesak Bareskrim Mabes Polri dan PPATK segera menginvestigasi dan menyita aset-aset KSP Indosurya Cipta termasuk aset-aset harta pribadi dan harta orang terdekat dari pemiliknya sepanjang terdapat indikasi aliran dana dari KSP Indosurya Cipta. 

Wardaniman Larosa pun memastikan dirinya akan membela dan mempertahankan hak-hak kliennya agar dapat segera diterima. 

“Kami akan membela hak nasabah yang merupakan klien kami dalam forum rapat-rapat, termasuk membuat laporan polisi atas dugaan Tindak Pidana Penipuan dan Penggelapan serta Tindak Pidana Pencucian Uang di Bareskrim Polri,” kata Wardaniman yang juga membuka Kantor Hukum di Mayapada Tower 1 Lantai 20, Kawasan Jln Jend Sudirman, Jakarta Selatan itu. 

Jumat 15 Mei 2020 lalu merupakan hari terakhir pendaftaran pengajuan tagihan PKPU bagi nasabah seperti yang diumumkan Tim Pengurus Koperasi pada 4 Mei 2020 lalu. Mereka, kata Wardaniman, berhak mendapatkan keadilan atas perkara ini. 

Namun sebagian lainnya mendaftarkan diri menggunakan email dan ekspedisi akibat ketatnya pemberlakuan PSBB di tengah mengganasnya Virus Corona (COVID-19). Kata Wardaniman tidak masalah sepanjang bisa dilakukan demi kembalinya uang mereka. 

Kasus ini mencuat di pemberitaan media dan mencengangkan banyak pihak karena jumlah uang nasabah yang gagal dibayarkan mencapai Rp10 triliun. Sangat fantastis seperti kasus Pandawa. Tim Kuasa hukum nasabah terus berupaya agar harta KSP Indosurya dan Harta Pribadi pemilik supaya disita sepanjang terdapat dugaan TPPU. 

Dalam pemberitaan itu disebutkan, tidak ada transparansi jumlah dana yang terkumpul dari para nasabah. Bahkan harta kekayaan pemilik KSP itu pun tidak diketahui seberapa besarnya. "Hanya Owner, Dirut, dan Tuhan saja yang tahu," kata salah seorang karyawan KSP Indosurya Cipta yang tidak bersedia ditulis identitasnya. 

Jika dihitung kasar, keahlian marketing KSP meraup uang nasabah setiap bulannya mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah. Pada tahun 2018 saja dana yang terkumpul di KSP itu mencapai Rp10 triliun. 

Namun belakangan diketahui bahwa KSP ini jeblok, gagal membayar kewajiban terhadap nasabahnya. Bahkan dampaknya lebih buruk lagi dengan mem-PHK sejumlah karyawannya  tanpa diberi pesangon. Alasannya koperasi tidak memiliki bisnis yang menguntungkan. 

Menurut Wardaniman, kalau dia tidak bayar, maka otomatis pailit, sebaliknya kalau skema perdamaian tercapai, maka akan gugur keinginan untuk pailit. "Saya berharap tidak ada lagi kasus bunuh diri nasabah yang simpanannya hingga mencapai Rp1,5 miliar," tandasnya.[isur]

No comments