Dahsyat ...!! Jamu AVC 100 Persen Sembuhkan Pasien Covid-19

Share:

INTRONEWS - Para peneliti NU yang tergabung dalam Tim Peneliti dan Penemu Independen Afiliasi Nahdlatul Ulama (TPPI-ANU) berhasil menemukan jamu Anti Virus Corona (AVC).

Jamu yang telah diuji klinis itu diklaim berhasil menyembuhkan tiga pasien positif Covid-19 di BPSDM Jawa Barat yang dijadikan tempat karantina mandiri dan di Rumah Sakit Dustira Cimahi.

Seperti yang dirilis laman www.nu.or.id, TPPI-ANU yang diwakili Asep Rukmana tersebut, AVC yang berupa jamu herbal itu berkomposisi mantap. Jamu AVC dikemas dalam ples kecil dan akan dibagikan ke seluruh rumahsakit yang merawat pasien Covid-19 secara nasional.

Dengan AVC ini virus Corona tidak mampu bekerja maksimal menghancurkan sel, karena AVC dapat mencegah sekaligus mengobati dalam waktu yang bersamaan. Saat AVC diminum berkala oleh pasien Covid-19, dia bekerjasama dengan Mitochondria. Mitokondria itu memiliki sistem genetik sendiri yang berbeda dengan sistem genetik inti.

Menurut kamus wikipedia, Mitochondria itu organel tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel makhluk hidup, selain fungsi seluler lain, seperti metabolisme asam lemak, biosintesis pirimidina, homeostasis kalsium, transduksi sinyal seluler, dan penghasil energi.

Mungkin istilahnya sulit kita cerna, tetapi itu bukti ilmiah tentang Mitochondria yang dijadikan mitra AVC melawan virus Corona. Yang pasti, AVC bekerja lebih aktif membantu Mitochondria merplikasi dirinya. Kerjasama AVC dengan Mitochondria itu menghasilkan energi yang berlipat ganda dan dahsyat.

Timbul kekebalan tubuh yang berlipat ganda, bahkan regenerasi sel tubuh menjadi sangat cepat. Energi itu menciptakan kesaktian sel sehingga mampu melawan Covid-19 yang hendak menyerang sel-sel lainnya. Dalam waktu singkat, tubuh menjadi pulih, bugar dan segar karena virus corona sudah lari tunggang langgang dari tubuh pasien.

“Alhamdulillah, setelah tiga hari pengobatan dengan intens menggunakan jamu AVC ini, hasilnya 100% berhasil, 3 pasien tersebut dipastikan negatif pada tes Swab ke-1 dan ke-2,” kata Ketua I TPPI-ANU Asep Rukmana. Berita ini terus dikembangkan dan dikutip sejumlah media online lainnya hingga saat ini.

Dalam laman itu dijelaskan, TPPI-ANU memaparkan khasiat jamu AVC kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Sekretariat Daerah Biro Pelayanan dan Pengembangan Sosial serta Dinas Kesehatan yang kemudian pihaknya diberikan izin untuk menguji coba pencegahan dan pengobatan kepada pasien Covid-19.

Untuk memastikan kehebatan jamu AVC ini selanjutnya uji pencegahan kepada pejabat ASN Pemprov Jawa Barat yang secara sukarela menggunakan jamu AVC. Baru kemudian kepada 3 pasien Covid-19 tadi.

Banyak yang bertanya siapa sebenarnya para peneliti NU yang tergabung dalam TPPI-ANU itu? Kata Asep, TPPI-ANU merupakan kumpulan peneliti dan penemu Nahdliyin yang berasal dari Forum Pondok Pesantren (FPP) Jawa Barat, PW Pergunu Jawa Barat, HISSNU (Himmah Silaturrahim Santri Nusantara) Jawa Barat dan Pesantren Pagelaran 3 Subang.

TPPI-ANU dibentuk pada Januari 2020 yang bertujuan menemukan ramuan herbal untuk pengobatan penyakit-penyakit yang belum ada obatnya saat ini, seperti lupus, HIV/AIDS dan lain-lain.

100% Bahan Alami  

Ketua II TPPI-ANU Arie Gifary menambahkan, jamu AVC merupakan hasil kerja keras segenap anggota tim peneliti TPPI-ANU selama berbulan-bulan, dengan dukungan dari berbagai pihak terkait yang secara keilmuan memiliki kapasitas dan kapabilitas.

Jamu ini terbuat dari 100 persen bahan alami yang mempunyai banyak khasiat dan diketahui tidak memiliki efek samping dalam penggunaannya sehingga aman untuk dikonsumsi.

Semua dedikasi dan kerja keras ini didorong rasa keprihatinan dan kepedulian yang sama, yakni belum adanya kepastian mengenai berakhirnya pandemi ini, sementara vaksin belum juga ditemukan. Peneliti NU itu mengerahkan kemampuan keilmuannya untuk ikut andil mencegah kejahatan virus Corona yang mematikan itu.

Kinerja TPPI-ANU mendapat respon positif dari Pemprov Jawa Barat. Bahkan, Pemprov Jabar berkomitmen akan membantu proses perizinan BPOM di Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional (Kestrad) Kementerian Kesehatan.


Para peneliti TPPI-ANU berharap, semua pihak bisa mendukung ikhtiar ini agar jamu AVC bisa segera disebarluaskan dan dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah pandemi Covid-19.

Testimoni Pasien
Tidak akan jelas jika tidak ada pernyataan pasien Covid-19 yang pernah mencoba kedahsyatan Jamu AVC. Berikut beberapa testimoni dari pasien Covid-19:

ISKANDAR KADIR. Ia pegawai di Dinas Perhubungan Jabar yang erat kaitannya dengan pencegahan penyebaran virus corona di Provinsi Jawa Barat. Iskandar Kadir pertama kalinya dites swab pada 17 Maret 2020, bersamaan pada saat itu banyak pejabat di kementerian perhubungan dinyatakan positif covid-19, termasuk menteri perhubungan. Sehingga, yang langsung bertemu secara fisik diwajibkan untuk ikut serta dalam swab test.

Swab tes pertama, hasilnya Iskandar dinyatakan negatif. Selaku bidang perkeretaapian yang bertanggung jawab terhadap moda transportasi perkeretaapian Provinsi Jawa Barat dilaksanakanlah tes swab massal di stasiun KRL Bogor. Tes massal berkaitan dengan upaya pemetaan penyebaran virus corona terhadap penumpang KRL Jabodetabek. 


Sepulang dari tes massal tersebut di perjalanan tubuh Iskandar terasa kurang enak. Ia hubungi isterinya di rumah, dan ia sampaikan bahwa dirinya harus diisolasi sehingga minta disiapkan kamar terpisah.

Sesampai di rumah, Iskandar melaksanakan protokol covid dengan ketat, melepaskan semua pakaian, mencuci, kemudian isolasi di kamar yang terpisah. Setelah beberapa hari tubuhnya merasa masih tidak nyaman, batuk dan semakin terasa menekan di dada, hidung tersumbat, kerongkongan radang, tetapi badan tidak panas.

Iskandar masih tetap beraktivitas seperti biasa. Ia menghubungi rekannya di laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Ia bersyukur dan sangat berterima kasih respon dari teman-teman di lab kesehatan itu luar biasa. Iskandar segera diminta kesana dan dilaksanakan tes swab pada 30 April 2020. Kemudian pada 3 Mei 2020 ia secara informal mendapatkan informasi bahwa dirinya dinyatakan positif Corona.

Pada 4 Mei 2020 surat resminya dikirimkan ke kantornya, dan ia langsung diisolasi di RS Darurat untuk penanganan Corona ini di BPSDM Bandung. Pada waktu itu dari Dinas Kesehatan membantu menawarkan obat herbal yang diharapkan dapat dengan cepat menyembuhkan Covid-19 ini.

Iskandar mencoba obat herbal tersebut dengan botol kecil. Ia meminumnya dua kali sehari sekitar 6 botol selama tiga hari. Ajaib, hasil tes swab yang pertama sejak ia dinyatakan positif, pada 11 Mei 2020 hasilnya negatif. Seminggu setelah dirawat di BPSDM ini Iskandar sudah dinyatakan negatif dari Covid-19.

KUSWANTO, 38 tahun, staf di Kementerian Pertahanan, salah satu petugas paramedis, staf di RS Angkatan Darat, baru keluar dan sudah lima minggu lamanya dikarantina dengan terinveksi Covid-19. Lima kali swab tes selama karantina hasilnya selalu Positif.

Ia disarankan rekan-rekannya agar mengonsumsi obat herbal AVC selama tiga hari. Ajaib juga pada swab tes keenam hasilnya negatif, dan dua hari berikutnya juga hasilnya negatif. Kuswanto bersyukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada yang memberikan obat AVC ini. Ia berharap obat ini bermanfaat bagi yang lain juga.[isur]

No comments