BNNP Jabar Sinyalir 50 Desa Paling Rawan Peredaran Narkoba | Ormas GH Siap Berantas

Share:

INTRONEWS - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Barat mendeteksi sedikitnya 50 desa di tatar pasundan rawan peredaran narkoba (narkotika, obat terlarang, dan bahan adiktif). Meski masih kecil dibanding 5.312 desa se-Jabar, namun potensi merusak dan membahayakan generasi muda sangat kuat.   

Tidak hanya kalangan remaja, kini narkoba juga dikonsumsi anak-anak usia SD dalam berbagai bentuk dan varian. Jika tidak ditangani secara serius bukan tidak mungkin potensi penyebarannya makin hebat dan meluas ke desa-desa lainnya. Dengan kondisi tersebut Presiden Jokowi pernah menyatakan Indonesia Darurat Narkoba.

"Perlu kerjasama membangun aktivitas pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba oleh semua unsur di desa, termasuk di dalamnya PKK, Posyandu, RT-RW, tokoh agama, tokoh masyarakat/adat, dan Karang Taruna," ungkap Kepala BNNP Jawa Barat Brigjen Pol Sufyan Syarif saat menerima kunjungan Ketua Umum DPP Gerakan Hejo Eka Santosa dan rombongan di kantornya, Senin 28 September 2020.

Sufyan Syarif sambil memperkenalkan kinerja BNN dalam pembinaannya mengaku perlunya sinergitas dengan para pihak agar Program Desa Bersinar (Bersih Narkoba) yang dicetuskan BNNP Jabar dapat terwujud.  

Ia menekankan pentingnya regulasi dari pihak pemerintah yang ditindakanjuti sejumlah kebijakan yang bisa menjadi kearifan lokal di tingkat desa. Sufyan yakin Gerakan Hejo punya perpanjangan tangan di tingkat desa termasuk keterlibatan BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat)  Jabar yang disentil Eka Santosa dalam pertemuan tersebut.

Saat ini Sufyan Syarif dan timnya di BNNP Jabar sedang bersemangat mewujudkan program Desa Bersinar itu. Dalam praktiknya, pelaksanaan program dan kegiatan pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba mesti dilakukan semua unsur di desa.

”Makanya kami gandeng Kang Eka selaku tokoh yang banyak dikenal warga di pelosok Jabar,” kata Sufyan Syarif. Pihaknya juga mengagendakan dalam waktu dekat sejumlah kerjasama dengan Gerakan Hejo dan BOMA Jabar.

Sementara itu Eka Santosa menyitir ungkapan dalam  bahasa sunda, mobok manggih gorowong. Sudah sejak lama para aktivis lingkungan dan budaya serta para olot (tetua adat) merasa prihatin atas merebaknya peredaran narkoba di segala lapisan masyarakat di kota maupun di desa.

Eka mengaku komunitasnya memiliki keinginan dan tenaga yang cukup jika diminta BNN untuk ikut serta memberantas peredaran narkoba. Siap lahir batin memberi pembinaan kepada generasi muda agar tidak terpengaruh narkoba, termasuk melawan agitasi mafia dan para bandar narkoba di Jawa Barat.

"Kali ini bertemu BNN Jawa Barat, rasanya langkah kita akan semakin padu mencegah penyelahgunaan narkoba," kata Eka Santosa kepada pers sesaat setelah pertemuan tersebut.[isur/HS]

No comments