Dudang Gojali: Pengurus NU Harus Introspeksi Terkait Ekosistem Perekonomian Umat

Share:

INTRONEWS -  Umat Islam, khususnya Nahdliyin, harus membangun ekosistem baru dalam aspek perekonomian umat. Ekosistem baru itu nantinya menghubungkan petani, industri pengolahan, hingga pedagang di pasaran.

Demikian kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bandung, Dr Dudang Gojali, saat dihubungi lewat android mengenai ketahanan ekonomi umat, di Bandung, akhir September 2020.

Kondisi saat ini, seperti dilansir para ahli ekonomi, Indonesia dikuasai satu persen golongan sehingga umat Islam (muslim) perlu mengejar ketertinggalan. Caranya dengan membangun ekosistem baru yang terhubung dari hulu ke hilir. Ekosistem baru itu bertujuan meningkatkan perekonomian umat.

Data ril di lapangan, masyarakat muslim terlalu banyak yang tidak menguasai pengetahuan ekonomi. Ini akibat terbangunnya pemeo (paradigma) masyarakat yang menganggap mengurusi ekonomi sama dengan mengurusi dunia. Sedangkan mengurusi dunia itu tergolong hubbud dunya (Terlalu Cinta Dunia). Ini juga terlalu dianggap tabu.

“Paradigma mengesampingkan urusan ekonomi yang terpapar hubbud dunya itu perlu dikikis, karena kita hidup di dunia, sedangkan dunia merupakan persiapan menuju kehidupan akhirat,” ungkap Dudang.

Menurut Dudang, pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam misalya, memiliki peran penting merekonstruksi ulang paradigma yang telah melekat di masyarakat itu. Kita harus ubah pemikiran masyarakat bahwa menguasai ilmu ekonomi itu teramat penting.

Meski masih relatif baru, FEBI UIN Bandung punya tugas penting mengarahkan mahasiswa kelak bukan hanya menjadi pekerja tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat. FEBI meringankan persoalan pengetahuan menjadi praktik di masyarakat, supaya bisa masuk dan mengisi ruang-ruang ekonomi. "Karena terdapat potensi ekonomi di masyarakat yang bisa kita kendalikan," tandas Dudang.

Jika harus introspeksi, sambung Dudang, apakah para pengurus Nahdlatul Ulama sudah membina perekonomian umat di Indonesia? Dudang malah mempertanyakan kinerja pengurus NU terkait persoalan perekonomian masyarakat kelas bawah. Umat Islam perlu bangkit untuk menopang kehidupan ekonomi yang halal dan lebih baik.

“Memangnya NU tersambung dengan masyarakat? Pada ruang ekonomi? Saya rasa tidak. Para pengurusnya sering mengadakan pertemuan dengan pejabat, kapan mengadakan pertemuan dengan rakyat? Ini kritik saya pada kita sebagai pengurus NU agar bisa lebih dekat dengan masyarakat,” tandasnya.[isur/-red]

Sumber pendukung: jabar.nu.or.id

No comments