Kabur, Cara Mutakhir Bandar Narkoba Terpidana Mati | Siswandi: Kok Bisa?

Share:

INTRONEWS - Terpidana mati gembong narkoba, Cai Changpan, berhasil kabur melalui gorong-gorong dari Lapas kelas I Tangerang. Ini pukulan telak bagi petugas yang dianggap teledor.

Ketua Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) Brigjen Pol Pur ADV Drs Siswandi geleng-geleng kepala. Menurutnya, kok bisa ya warga negara asing yang divonis mati akibat kasus narkoba itu kabur dengan sangat mudah.

Upaya kabur diduga sudah direncanakan sebelumnya. Sebab, dari cara dia kabur terbilang rapi dan lepas dari pengawasan petugas. "Pengawasan harusnya ketat, kok bisa kabur?" tandas Siswandi saat dihubungi melalui seluler di Jakarta, Senin 21 September 2020.

Seperti dilansir sejumlah media online beberapa hari terakhir ini, bandar narkotika itu kabur dengan cara menggali lubang dari kamar tahanannya hingga tembus ke bagian belakang sel tahanan dan gorong-gorong.

Menurut mantan petinggi BNN dan Mabes Polri ini, itulah uniknya di Indonesia. Terpidana mati narkoba di Indonesia masih bisa hidup bebas dengan berbagai upaya, salah satunya dengan permohonan Grasi dan PK sehingga menjadi 12 tahun penjara.

"Kabur, itulah usaha terakhirnya. Menang Mafia Narkoba. Apa Benar Indonesia Darurat Narkoba?" tanya Siswandi dengan nada kesal.

Ketum GPAN ini sangat keras menyikapi terhadap hukuman mati kasus narkoba. Saat ini lebih 100 narapidana hukuman mati. "Puaskah tatkalah mafia narkoba ditangkap BNN dan Polri kemudian didakwa JPU (Jaksa Penuntut Umum) hukuman mati dan divonis hakim dengan hukuman Mati?" kata pemilik kumis tebal ini.

Menurutnya, kita jangan puas dan jangan bangga, karena hukuman mati hanyalah sebagai Lipstik Belaka. Kalau bicara tentang narkoba di dunia, hanya di Indonesia saja yang bisa mati sampai 3 kali, seperti yang dialami hukuman mati Fredi Budiman.

"Ketangkap pertama hukuman mati. Ketangkap lagi kedua kalinya hukuman mati. Ketangkap ketiga kalinya juga hukuman mati, barulah dieksekusi. Ada apa gerangan nunggu begitu kah yang lain?" papar mantan perwira tinggi polisi yang kini berprofesi sebagai advokat itu.

Di Indonesia benar-benar longgar terhadap napi narkoba terpidana mati. Buktinya mereka masih bisa mengupayakan beberapa cara, yakni:

1. Mengendalikan jaringan narkoba kembali;

2. Upaya Grasi dan PK sehingga berkurang jadi belasan tahun;

3. Kabur.

"Memang, mafia narkoba sangat merdeka di Indonesia," tandas Siswandi.

Bertolak belakang dengan pecandu yang seharusnya divonis rehabilitasi. Kasus Tio Pakusadewo, terciduk menggunakan narkoba dengan barang bukti dibawah ukuran standar.

"Hukumannya kok penjara. Dia meratap di sel tahanan, sementara gembong yang divonis mati malah bisa mendapat keringanan hukuman, yang akhirnya kabur dan menikmati alam bebas. Dimana keadilan?" tandas Siswandi.[isur]

No comments