Pilih Nonton Yutub atau TV di Rumah? | Web TV Mulai Geser TV Frekuensi

Share:

MESKI terkena hujatan lantaran hasil inovasi teknologi rendahan, tapi China percaya diri bisa menguasai jaringan internet dunia. Gadget yang diciptakannya dan dijual bebas di Indonesia membawa perubahan pada tontonan masyarakat negeri berkode +62 ini.

Televisi analog dan digital tidak lagi menjadi tontonan favorit, karena segera tergeser oleh tv berbasis web alias WebTV berjejaring medsos (yutub, fesbuk, instagram, whatsapp, dll). Berkat produk China itu, HP pun rata-rata berbasis android yang tentu saja sangat mudah mengakses TV Online.

Saya sebagai praktisi televisi analog agak was-was sekaligus terperangah, kemudian segera bangkit untuk mendirikan WebTV ini. Sebab, tidak ada yang akan memungkiri, waktu terus berjalan inovasi makin cerdas. Bila kita tak bisa berinovasi, kita akan tertinggal jauh. Inovasi internet sangat cepat berubah. Jika tidak mau belajar, kita hanya mendapat ilmu yang usang dan ketinggalan segalanya, termasuk ketinggalan rejeki.

Penghambat terbesar kita untuk belajar internet, karena kita lebih senang dengan cara kita sendiri untuk menggunakan internet sebagai alat jualan maupun bersenang-senang. Tanpa kita sadari masyarakat telah berubah, politik mulai berubah, strategi marketing berubah, internet pun jelas-jelas sudah berubah drastis.

Kita tidak bisa bertahan dengan menyewakan video tape, sementara orang lain sudah dapat mendownloadnya secara gratis di internet. Kita akan kalah bersaing, hanya mengandalkan penyebaran brosur. Sementara orang lain dapat beriklan di sosial media. Jadi, yang kita butuhkan untuk bertahan di era ini adalah sebuah inovasi.

Ingat, teknologi mengalami perkembangan setiap tahun. Website, kedepan juga akan berkembang. Sekarang masih bertahan pada basis teks, namun suatu saat website akan berubah menjadi berbasis video. Orang tidak lagi berkerumun di konten tekstual, tapi tak lama lagi akan berkerumun di konten video. Di luar negeri, internet sudah berjalan cepat, sudah pada beralih ke video base. Insya Allah Indonesia sudah memulai.

Seharusnya kita sudah siap-siap untuk menghadapi era masa depan, saat semua orang lebih suka menonton ketimbang membaca. Kita tidak bisa bertahan dengan konsep web berbasis tekstual, sementara orang lain sudah menggunakan video di internet. Saat ini banyak produsen televisi yang memproduksi SmartTV yang bisa terhubung ke internet. Sebut saja itu live streaming siaran yang berpola tayang.

Kondisinya, para produsen TV tentu sudah mempersiapkan diri untuk masa WebTV antara 1-2 tahun kedepan. Bahkan sebagian perusahaan dan konsultan media kini sudah memiliki WebTV. Kalo kita bisa membuat WebTV, punya WebTV, bisa bikin konten WebTV, bayangkan kita sudah punya perusahaan Media TV sendiri. Media TV dengan biaya jauh lebih murah dibanding bikin TV konvensional skala lokal sekalipun.[isur]

No comments