Siswandi dan Rekan Desak Polda Kaltim Usut Pelaku Pembuat Surat dan Tandatangan Palsu Kliennya

Share:


INTRONEWS - Brigjen Pol (P) ADV Drs Siswandi dan rekan selaku pendamping dan kuasa hukum pengusaha tambang batubara Tan Drama, mendesak Polda Kalimantan Timur (Kaltim) mengusut tuntas pemalsu surat dan tandatangan kliennya. Pihaknya juga sudah melayangkan surat somasi.

Pernyataan Siswandi dan rekan dialamatkan kepada Kapolda Kalimantan Timur yang baru Irjen Pol Drs Herry Rudolf Nahak MSi yang menggantikan Kapolda lama Irjen Pol Drs Muktiono SH MH. 

"Kami mohon Kapolda yang baru atensi terhadap kasus yang menimpa klien kami, sebab kasus ini sudah dilaporkan sejak setahun lalu," kata Siswandi kepada pers melalui android, di Jakarta, Senin 28 September 2020.   

Bersama Siswandi sederet purnawirawan perwira tinggi Polri seperti Irjen Pol (P) DR Anas Yusuf, Irjen Pol (P) ADV Drs Harwiyanto SH MHum, Brigjen Pol (P) ADV Drs Anthoni Hutabarat, Brigjen Pol (P) ADV Drs Rusman, mendampingi Tan Drama yang tandatangannya dipalsukan oknum bernama Mario.

Termasuk sejumlah pengacara sekaliber ADV Drs Firman Hutabarat SH, Wardaniman Larosa SH MH CLA, Ahmad Hasni Fahmi SH CLA, Richard Yonathan Nelwan SH MH, Timbul Jaya SH dan Pipin Carolina Barus SH, juga ikut mendampingi Tan Drama. 

Para jawara peradilan itu berasal dari Lembaga Bantuan Hukum Panji Keadilan Mulia Agung Perkasa (LBH PKMAP) yang berkantor di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, turut mendampingi pada kasus ini.

 Anatomi Kasusnya

Siswandi menceritakan ulang secara gamblang anatomi kasus yang menimpa kliennya, Tan Drama, seperti yang dikutip dari mediasuara.com.

Pengusaha tambang batubara, Tan Drama, terpaksa menempuh jalur hukum. Ia dirugikan akibat terbitnya surat permohonan pembatalan dan revisi terhadap IUP-OP dari PT Integra Prima Coal. Perusahaan tersebut menggunakan kop surat dengan tandatangan yang diduga dipalsukan oknum bernama Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais alias  Mario.

Penuturan Tan Drama, PT Integra Prima Coal yang didirikan tahun 2006 awalnya adalah miliknya, sesuai akte pendirian, Notaris B Andy Widyanto Nomor 17 Tanggal 29 September 2006.

Seiring berjalan waktu, Saham perusahaan ini dijual (dilakukan pelepasan hak)  kepada PT Kutai Integra Indonesia dan atas nama Irwan Baramuli. Terbukti adanya penerbitan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa oleh Notaris B Andy Widyanto SH dengan surat Nomor 6 Tanggal 18 Agustus 2014.

Sejak pelepasan hak itu, Tan Drama dan pemegang saham lainnya (Mulyadi) praktis sudah tidak terlibat lagi dalam kepengurusan maupun segala bentuk kegiatan PT Integra Prima Coal.

“Sejak itu saya sudah melepaskan seluruh wewenang saya di perusahaan itu kepada PT Kutai Integra Indonesia dan Irwan Baramuli, dalam hal ini sudah berada di bawah pimpinan Irwan Baramuli,” ujar Tan Drama, kepada pers di Jakarta, Senin 28 September 2020 .

Muncul Surat Palsu

Pada Desember 2019 lalu, Irwan Baramuli ingin meningkatkan status perusahaannya. Namun dalam proses peningkatan status perusahaan tersebut mendapatkan hambatan. Yakni, ditemukannya surat Permohonan Pembatalan dan Revisi terhadap IUP-OP dari PT Integra Prima Coal dan ditandatangani oleh Tan Drama selaku pemilik perusahaan.

Tan Drama kaget, kok bisa ada surat tersebut. Menurut Tan Drama, surat permohonan pembatalan itu jelas-jelas palsu, dan kop surat serta tandatangan di surat kuasa itu juga dipastikan palsu.

“Bagaimana mungkin saya melakukannya, 'kan perusahaan itu sudah saya jual sahamnya sepenuhnya kepada Irwan Baramuli tahun 2014 lalu. Otomatis saya 'kan tidak punya hak apa-apa lagi. Namun anehnya kenapa ada surat tersebut muncul. Padahal saya tidak pernah melakukan itu. Saya yakin surat itu palsu. Kop suratnya palsu dan tandatangan saya juga dipalsukan,” papar Tan Drama.

Setelah terbitnya surat Permohonan Pembatalan dan Revisi terhahadap IUP-OP dari PT Integra Prima Coal dengan nomor: PT IPC No 9/IPC/XII/2019. Akibat adanya surat tersebut, terbit Akta dan Penetapan berupa Akta Notaris Martina SH Nomor 31 Tanggal 21 September 2018, dan penetapan Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda Nomor 2/PEN-JS/FP/2020/PTUN/SMD.

Merasakan dirugikan, Tan Drama mengambil langkah dengan menggandeng Lembaga Bantuan Hukum bernama Panji Keadilan Mulia Agung Perkasa (LBH PKMAP). Salah satu diantara kuasa hukumnya itu adalah salah purnawirawan perwira tinggi Polri, Brigjen Pol (P) ADV Drs Siswandi.

Bersama LBH PKMAP inilah Tan Drama menempuh jalur hukum dengan mengirim surat sanggahan atas surat somasi kepada Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, CQ-Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Kaltim tertanggal 5 Maret 2020.

Lalu terbit Surat Pemberitahuan Pemalsuan Surat Permohonan Gugatan atas nama PT Integra Prima Coal terhadap Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Kalimantan Timur tertanggal 6 Maret 2020. Dalam waktu dekat Tan Drama juga berencana membuat laporan polisi ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Timur tentang pemalsuan tandatangan dirinya.

Surat Kuasa Palsu

Dikatakan Tan Drama, di akhir Januari 2020 lalu, pemilik  PT Integra  Prima coal ingin memperpanjang ijin operasi produksi. Pada saat pengurusan izin di PTSP, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Kaltim, tiba-tiba muncul lagi surat yang mengatasnamakan Tan Drama.

“Jadi intinya surat itu memohon kepada gubernur, CQ Kantor PTSP untuk permohonan PT Integra Prima Coal dibatalkan. Tapi surat itu palsu. Jadi nama saya, tandatangan dan kop suratnya semua palsu. Pokoknya beda sekali dengan tandantangan saya. Surat itu terbit Desember 2019, kalau nggak salah 3 Desember.” papar Tan Drama.

Dengan adanya surat kuasa palsu itu, lanjut Tan Drama, pemilik PT Integra Prima Coal yang baru tersebut akhirnya tidak bisa meningkatkan izinnya. Sebab harus melalui persidangan di PTUN Samarinda. Dari sini menurut banyak hal yang baru lagi.

“Jadi ada keluar surat kuasa dari kami bertiga selaku pemilik yang lama, yaitu saya, Mulyadi dan Ebenneser yang memberikan kuasa kepada Mario pada tahun 2010 dan dilegalisir oleh Notaris. Tapi itu palsu semua. Tanda tanganganya beda semua. Nah, pada saat kami kirim somasi, si Notaris sudah merasa ketakutan sekali. Padahal kita nggak pernah ketemu notarisnya,” imbuhnya.

Menurut Tan Drama, dirinya merasa dirugikan dengan adanya surat kuasa palsu itu. Sebab ia bersama dua rekannya sebagai pemilik PT Integra Prima Coal menjadi korban surat kuasa palsu yang dilakukan oleh Mario.

“Yang isinya itu kami bertiga selaku pemilik perusahaan yang lama memberikan surat kuasa kepada Mario. Dan itu kami laporkan pemalsuan. Karena memang surat kuasanya benar-benar palsu,” imbuhnya.

Tan Drama juga menyampaikan tentang Surat Kuasa untuk Pengadilan Tata Usaha Negera (PTUN) Samarinda yang juga diduga palsu yang dilakukan oleh oknum Mario. Sejauh ini Tan Drama dengan Mario hanya sebatas tahu dan tidak mengenal lebih jauh tentang Mario.

“Karena 'kan di lokasi tambang Integra itu ada kelompok tani. Pada saat perusahaan melakukan sosialisasi,  Mario inilah salah satu anggota kelompok tani itu,” ujarnya.

Mario Seorang Petani

Ia khawatir, dengan adanya surat kuasa palsu itu jika penuntutan berjalan dan menang di PTUN Samarinda, hal ini harus kembali lagi ke awal. “Ya kita nanti khawatirnya kalau penuntutan ini jalan dan menang di PTUN. Berarti itu 'kan harus kembali lagi ke pemilik lama. Sedangkan pemilik lama ini 'kan akbat si Mario buat surat kuasa palsu, yang memberikan kuasa kepada dia untuk menjual dan hal-hal lainnya. Berarti 'kan nanti keuntungan ada pada dia dong. Bahaya sekalikan ini,” ujarnya.

Tan Drama geram bahkan beberapa kali mengatakan, sejak perusahaannya dijual pada tahun 2014 silam sudah tidak ada masalah lagi. “Jadi ketika saya jual perusahaan kami itu, semua clear. Sudah tidak ada apa-apa lagi,” tandasnya.

 

Tan Drama Dilaporkan

Namun akhir Januari 2020 lalu, tiba-tiba Tan Drama dilaporkan terkait dengan surat kuasa yang dilakukan Mario. Di sini Tan Drama dengan tegas mengatakan bahwa surat kuasa itu palsu.

“Waduh, saya lihat di surat kuasa itu tandatangan saya salah nih. Palsu nih. Kemudian ada keluar lagi surat kuasa dari kami bertiga pemilik Integra yang lama, yang awal, Mulyadi dan Ebben Hesser memberikan kuasa kepada Mario. Dan itu palsu semua. Dan notarisnya sudah kita somasi sudah ketakutan sekali tuh. Tapi dia bilang kami bertiga tidak pernah ketemu dengan ibu notaris. Bagaimana ibu bisa klarifikasi kalau itu kami, dan tandatangannya beda semua,” tutur Tan Drama dengan nada kesal.

PT Integra Prima Coal ini sendiri berdiri dari tahun 2008. Di mana pemegang sahamnya ada 3 orang. Diantaranya Tan Drama, Mulyadi dan Ebben Hesser (almarhum) yang berlokasi Loa Kulu dan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada tahun 2014 izinya dijual kepada Irwan Baramuli dan PT Kutai Integra Indonesia. Jadi saat dijual pemegang sahamnya ada semua. Sehingga saat dijual sama sekali tidak ada masalah dalam melakukan transaksi penjualan izin tambang kala itu.

LBH PKMAP melayangkan Somasi atau Surat Peringatan ke-2 kepada Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais alias Mario bernomor 019/III/PKMAP/2020 Tanggal 17 Maret 2020. Surat Somasi itu ditembuskan juga ke Gubernur Kalimantan Timur dan Kapolda Kalimantan Timur.

Dalam Surat Somasi itu salah satunya disebutkan di poin nomor 2 yang isinya: "Sehubungan dengan hal tersebut di atas, klien kami juga tidak pernah memberikan kuasa kepada siapa pun, baik dalam bentuk tertulis maupun lisan untuk mewakili melakukan tindakan-tindakan hukum, termasuk kepada Saudara Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais."[isur]

No comments