Mengenang Kejayaan Sandal Barepan Cirebon | Priben Nasibmu Sekarang, Jeh?

Share:

WAKTU itu, sekitar tahun 1940-an, mata Blodog, di Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, tak tega melihat ban bekas berserakan di bengkel ban dan pabrik-pabrik pembuat karet dan ban milik Belanda dan Cina.

Yang ia pikirkan, bagaimana limbah karet ban bisa menjadi barang berguna, setidaknya mengurangi limbah karet. Sebab kalau dibakar akan menimbulkan pencemaran udara dan menyesakkan paru-paru orang lain.

Kebetulan saat itu Blodog tidak memakai alas kaki apa pun, ia yang tak lepas membawa pisau kerat segera mengerat satu ban, dan dibikinnya sandal sederhana dari karet ban bekas. Ia sendiri yang mencoba memakainya, rupanya terasa nyaman di kakinya.

Besoknya, Blodog yang kemana-mana sering bersama temannya, Bondol, kembali mencari ban bekas yang banyak berserakan di sekitar pabrik. Ia kumpulkan ban bekas dan ia bikin beragam sandal.

Awalnya iseng-iseng saja, namun untuk menyumbangkan buah idenya ke kaki orang lain ternyata cukup brilian. Salah seorang tetangganya diminta mencoba memakai sandal buatannya. Hasil karyanya ternyata dipuji sang tetangga.

Blodog pun mendapat banyak pujian dari tetangganya yang lain atas hasil karyanya, bahkan ia diberi upah atas hasil penjualan sandal kreasinya (untuk pertama kalinya) seharga satu rupiah (Rp1), atau harganya di bawah harga satu liter beras zaman itu.

Maklum orang kampung, Blodog yang sering kemana-mana bersama Bondol, menjuluki sandalnya dengan sebutan Sandal Anti Slip. Waktu itu sedang musim hujan dan tidak ada jalan beraspal (apalagi dibeton) sehingga becek dan lengket di kaki.

Di pikiran Blodog dan Bondol, orang pasti sangat memerlukan alas kaki kuat dan nyaman. Sandal buatan Blodog dan Bondol kemudian menjadi andalan di musim hujan dan
sandal ngetren di musim kemarau.

Sandal buatan pertamanya berwarna hitam, maklum warna ban sejak dulu tidak ada warna lain, satu kampung di Kebarepan pun beramai-ramai membeli sandal buatan Blodog dan Bondol ini, selain murah juga meriah. Hingga akhirnya banyak warga sekitarnya yang tertarik untuk bisnis bikin sandal.

Sandal Lili

Muncul pula ide kreatif warga sekitar untuk membuat sandal bermerek lokal ini. Mereka pun membuat sandal Lili menjadi sandal ngetren tahun 1970-an. Pernis dan cat khusus pun didapat para pengrajin dari limbah-limbah juga.

Sandal buatan warga Kebarepan ini hampir rata-rata berasal dari limbah. Misalnya, karet, lem, kain, cat, dan benang. Untuk membentuk sandal itu diperlukan pisau tajam dan khas. Warga Kebarepan menggunakan pisau serut, pisau potong, dan pisau plong (pembentuk sandal).

Tahun 1980-an, sedikitnya ada 10 pengrajin (bos sendal) di sana. Kemudian muncul merek lokal sandal seperti Kojima yang terbuat dari spon (limbah pabrik sepatu dan sandal).

Masih sekitar tahun itu pula, hampir 50 persen warga Desa Kebarepan kecipratan rezeki dari bisnis sandal. Mereka kemudian membuat home industri (kerajinan) sandal yang lebih bermakna dengan istilah ekonomi kerakyatan.

Bahkan, warga yang berbisnis Sandal Barepan ini sudah mampu membeli mobil, rumah, dan peralatan lux lainnya, termasuk menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi.

Saat itu tidak ada warga pengangguran, karena semua potensi pekerja terserap ke sektor pembuatan Sandal Barepan. Satu pabrikan (home industri) setidaknya ada 25 orang bekerja di sana.

Kreasi rancangan dan motif sandal pun kemudian bermunculan, sehingga Sandal Barepan
menjadi lebih trendi dan banyak pilihan untuk semua
kalangan. Hal itu didukung kreativitas anak pengusaha yang sekolah di perguruan tinggi. Ide-ide cemerlang mengenai motif sandal sangat cepat berkembang saat itu.

Sejak tahun 1986, home industri di sini semakin mencuat dan sedikitnya 200 pengrajin ikut andil membuat sandal untuk mereka jual ke kawasan Cirebon, Jakarta, Bandung, Pulau Jawa dan Bali, bahkan ke Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Dipakai Aktor Bollywood

Saat booming industri rumahan Sandal Barepan, dalam posisi enam tahun saat itu pernah mendapat pesanan khusus (langganan) dari negeri Timur Tengah dan India. "Jadi waktu kita lihat di Film India orang memakai sandal rakyat, itulah sandal buatan industri Barepan," kata
Yayan Sugiyanto
(40 tahun) pengrajin sekaligus pengusaha Market Sandal Barepan.

Waktu tahun 2004 harga Sandal Barepan cukup murah, mulai seharga Rp4000 hingga Rp10.000 per pasang. Harganya dapat dijangkau oleh banyak kalangan. Sering pengecer pun menjualnya di emper-emper mesjid selepas salat jumat.

Saking murahnya, industri Sandal Barepan sering diminta memproduksi sandal untuk di hotel-hotel dalam partai besar. Memasuki era milenial ini perkembangan harga tentu sangat pesat, namun belum ada kabar termutakhir mengenai harga Sandal Barepan ini.

Jika mulai diciptakannya sandal ini pernah dipakai orang Belanda, maka zaman sekarang sandal barepan sering dipakai oleh pejabat daerah, provinsi, hingga pejabat negara sekali pun, termasuk dipakai para aktor Bollywood di India.

Memasuki musim lebaran dan tahun baru, Desa Barepan bisanya menjadi tren sandal Indonesia. Seorang seniman suara di Cirebon sempat membuat karya lagu "Sandal Barepan" yang dilantunkan dalam sebuah kaset rekaman oleh Pesinden Cirebonan, Hj Uun Kurniasih, isteri kedua dari tokoh Tarling Cirebon, H Abdul Adjib.

Namun kelesuan kembali menjalar sektor usaha kerakyatan ini disaat pabrik sandal modern di Bogor merajai iklan di televisi memasuki akhir tahun 1990-an. Sehingga pemasaran Sandal Barepan seolah tertindih trend Market Sandal Bogor.

Meski harganya cukup mahal, namun masyarakat modern lebih menyukai gengsinya, padahal nilai produknya sama dengan Sandal Barepan.

Tergeser Sandal Bogor

Ada titik-titik kelemahan yang terdapat di sektor usaha Sandal Barepan ketika sandal modern merajai iklan televisi, yakni pasar kurang menggeliat, sementara produksi lebih mengarah ke kuantitas barang, saling menjatuhkan harga di antara sesama pengrajin dan penjual. Disamping itu koperasinya tidak jalan, kondisi Sandal Barepan pun tidak jaya lagi.

Posisi terakhir memasuki tahun 2000 industri rumahan Sandal Barepan tinggal puluhan dari jumlah sekitar 200 pabrik. Lebih parahnya ketika telah memasuki tahun 2003-2004, dari puluhan pengrajin hanya tinggal empat pengrajin Sandal Barepan yang masih hidup dan bertahan.

Waktu itu yang masih hidup pabrik Mitsua milik H Tarsono, pabrik Yaseki milik Yayan Sugiyanto, pabrik Komodo Sandal milik H Bakri, dan pabrik Naegayo Sandal milik Rakinan.  Keempat pabrik rumahan Sandal Barepan ini berlokasi di Desa Kebarepan, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Mereka hampir berdekatan satu sama lain.

Pengakuan Yayan Sugiyanto, usaha Sandal Barepan bukan saja lesu tapi sudah Mati Suri. Ia dan tiga pengusaha Sandal Barepan lainnya harus berjuang dengan cara bersaing ketat membuat opini Sandal Barepan lebih ngetren dan bagus ketimbang Sandal Modern semisal Carvile, Nackerman, Bata, dll.

Waktu itu di tahun 2004, kata Yayan, untuk lebaran saja pesanan barang sama sekali nol persen. Hal yang sama disampaikan tiga pengusaha lainnya di tempat berbeda. Tapi bagi mereka, setiap usaha pasti ada rezekinya, tidak mati-mati amat.

Setelah Indonesia memasuki era milenial, apalagi dampak buruk secara ekonomi Covid-19, apakah usaha Sandal Barepan terkena imbas? "Iya masih ada, tapi hidup segan mati tak mau," kata Yoyon Suharyono, Direktur YBLH yang konsern terhadap pernasiban para pengrajin di Kaberapan Cirebon ini.(ISUR)

No comments