Samuh: Geliat Islam di Barat Bikin Gerah Presiden Prancis | Hikmat: Macron Itu Tidak Berpikir Dewasa

Share:

INTRONEWS - Dunia sedang ramai membicarakan kontroversi pemikiran Presiden Prancis Emmanuel Macron. Sebagian besar negara berpenduduk muslim terbanyak memboikot seluruh produk Prancis, tak terkecuali Turki.

Kontroversi itu, sang presiden Macron berkomentar secara pribadi soal pemenggalan seorang guru sejarah di Prancis yang menampilkan karikatur Nabi Muhammad SAW kepada para siswanya. Guru itu oleh Macron dianggap benar karena sudah mengajarkan kebebasan berekspresi dan kepercayaan.

Sontak saja, banyak negara menyerukan pemboikotan produk asal Prancis bentuk kecaman. Paling seru dari aksi pemboikotan itu adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Bahkan Erdogan menyeru rakyatnya boikot produk Prancis di siaran televisi nasional.

Erdogan pun menyerukan para pemimpin dunia untuk melindungi kaum muslimin jika ada penindasan di Prancis.

Dari dalam negeri dilaporkan, Menkopolhukam Prof Mahfud MD dalam cuitan twitternya memanggil Dubes Prancis di Indonesia untuk menyatakan RI Kecam Presiden Macron Soal Karikatur Nabi Muhammad SAW.

Kata Mahfud, Presiden Sammuel Macron harus tahu bahwa agama Islam adalah agama rahmah, tapi pemeluk agama apa pun akan marah kalau agamanya dihina. Kalau tak paham itu berarti dia mengalami krisis gagal paham.

Kalangan kampus yang paling kental dengan pendalaman Islam, UIN Bandung, juga tidak tinggal diam melihat aksi 'nakal' Presiden Prancis itu. Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Bandung Prof Dr H Asep Saepul Muhtadi MS menilai, sekurang-kurangnya ada dua faktor penyebab reaksi dunia Islam terhadap Presiden Prancis itu.

"Pertama, soal sensitivitas isu yang sedang menzaman saat ini. Kedua, sensitivitas primordial, dimana Islam, disadari atau pun tidak, tengah bergeliat tumbuh terutama di negara-negara barat," ungkap profesor yang akrab disapa Kang Samuh itu, Kamis (29 Oktober 2020).

Samuh melihat jumlah pemeluk agama Islam di Eropa khususnya di Prancis semakin banyak, bukan tidak mungkin kondisi itu menjadi kegelisahan tersendiri bagi Emmanuel Macron.

Para pengamat politik lainnya melihat sisi lain dari prilaku Macron. Isu agama dapat meningkatkan ratting popularitas Macron di Pemilu Prancis 2022 mendatang.

Pengamat Komunikasi Politik UIN Bandung Dr Hikmat MAg menilai ada ketidakdewasaan cara berfikir dari seorang pemimpin Prancis. Yang sangat disesali bukan dari ketidaktahuan suatu ajaran yang benar. "Justru yang saya takutkan ada sebuah agenda besar terhadap Islam," tandas Hikmat.

Inilah kata Dr Hikmat, dosen Sosiologi FISIP UIN Bandung, ketidakmatangan dan tidak dewasanya seorang pemimpin, Sang Presiden, yang mencoba menggiring opini masyarakat dunia dan masyarakatnya untuk berpikir sama dengan sang pemimpin. "Padahal rakyat Prancis tidak seperti itu," tambah Hikmat.

Di sisi lain Hikmat menegaskan ketidakdewasaan sekaligus ketidaksiapan Macron untuk hidup dalam keberagaman. Sikap dan pandangan terhadap kasus-kasus radikalisme dengan menjenaralisi dari satu kasus.

"Bukankah pada setiap agama atau etnis selalu ada tindakan seperti itu. Tapi kenapa Islam yg disudutkan?" pungkas Hikmat yang juga wakil rektor di Universitas Islam Sukabumi ini.

Permintaan komentar juga dilayangkan ke wakil rektor I UIN Bandung Prof Rosihon Anwar mengenai sikap Macron yang menghina Nabi Muhammad SAW. Rosihon mengaku sudah mengirimkan tulisan ke Republika. "Mudah-mudahan besok dimuat," kata Rosihon melalui siaran whatsapp.[isur]

No comments