Siswandi Geram, Oknum Perwira Polisi Kurir Sabu Itu Pantasnya Dihukum Mati

Share:

 
INTRONEWS - Seperti mendengar gledek di siang bolong, kaget yang tak alang kepalang, seorang perwira polisi berpangkat komisaris (kompol) dikabarkan terlibat penyalahgunaan narkoba jenis sabu.

Ketua Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) Brigjen Pol Purn ADV Drs Siswandi benar-benar prihatin dan sangat menyayangkan kejadian tersebut. Terlontar dari mulutnya jika pelakunya seorang polisi apalagi perwira, maka imbalan yang pantas untuk dia adalah hukuman mati.

Kepada pers, Sabtu pagi 24 Oktober 2020, pria tegap yang sejak dulu membina kalangan artis papan atas ini menyebut oknum kompol tersebut sebagai Penghianat Bangsa. "Pantas dihukum mati," tandasnya. Kata dia, abdi negara yang terlibat jaringan narkoba tidak layak untuk seorang polisi, memalukan.

Sejak Siswandi bertugas membidangi masalah narkoba di Mabes Polri, begitu pun saat menjadi petinggi BNN, ia bersusah payah memberantas peredara narkoba. Bahkan sampai saat ini masih terus berkiprah di penegakan hukum khususnya penyalahgunaan narkoba.

Siswandi berharap justru penyalahgunaan narkoba seharusnya tidak dilakukan oleh perwira polisi. "Ini malah kejadian meskipun di Riau. Benar-benar memalukan," tandasnya lagi.

Berita memalukan yang ia terima itu penangkapan seorang oknum perwira yang bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kompol Iman Ziadi Zaid SH (55 tahun). Jabatannya Kasi Ident Ditreskrimum Polda Riau.

Rupanya Iman Ziadi tidak sendiri, ia ditemani Hendry Winata (51 tahun) seorang wiraswasta, warga di Jalan Permata Perum Villa Permata Indah Blok E Nomor 25, Payung Sekaki Pekanbaru.

Mereka ditangkap polisi di jalan Soekarno-Hatta, Kota Pekanbaru, atas kasus tindak Pidana narkotika, Jumat malam (23/10/2020). Memang masih baru. Namun berita itu pun sudah sampai ke Kapolri Jenderal Idham Azis.

Kata Kapolri, perwira polisi yang terlibat kasus penyalahgunaan narkoba seharusnya mendapat hukuman mati. Kapolri meminta anggotanya menghindari kasus serupa.

Kenapa harus hukuman mati? Kata Kapolri, karena perwira polisi sudah tahu undang-undang dan tahu hukum. Pada acara pemusnahan narkoba Kapolri mengingatkan seluruh Direktur Narkoba di tiap Polda memastikan pengamanan barang bukti. 

Dari tangan kedua pelaku diamankan barang bukti 16 kilogram sabu. Peran oknum perwira polisi dalam bisnis haram itu sebagai kurir narkotika. Dalam aksi penangkapan pelaku yang tertembak di bagian lengan dan punggung. Pelaku lainnya Hendry Winata terluka di kepala akibat tabrakan mobil.

Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Sidomulyo Timur, Marpoyan Damai sempat macet karena warga berkerumun saat menyaksikan penangkapan pelaku.

Proses Penangkapan

Dari keterangan polisi, Jumat 23 Oktober 2020 sekira pukul 16.00 wib, polisi mendapat informasi akan ada transaksi narkoba jenis sabu di wilayah Kota Pekanbaru. Polisi segera membentuk tim guna menyelidiki Jalan Arengka 1 Pekanbaru.

Setelah mengetahui ciri-ciri pelaku, pada pukul 19.00 wib tim membuntuti kendaraan yang dipakai tersangka sebuah Opel Blazer warna Hitam bernopol BM 1306 VW melintas melewati Jalan Arengka 1 dan berbelok ke arah Jalan Arifin ahmad.

Setelah beberapa lama menunggu, mobil berbalik arah ke jalan Sudirman sehingga tim melakukan pengejaran. Salah satu tersangka membuang tas di jalan dan langsung diamankan. Tim lain tetap mengejar mobil tersangka.

Setelah beberapa saat tersangka kabur, petugas menembak ke arah dalam mobil beberapa kali serta menabrak mobil tersangka di Jalan Soekarno Hatta (Arengka 1) persis di depan Showroom Arengka Auto Mall Pekanbaru.

Pelaku terpaksa dilumpuhkan karena berusaha lari. Mereka dibawa ke RS Bhayangkara Pekanbaru untuk mendapat perawatan medis. Kedua pelaku dirawat di ruang IGD dan dijaga sejumlah polisi berseragam dan pakaian sipil.

Seorang pria bertato dengan tangan diikat sempat dibawa keluar oleh petugas kepolisian menggunakan kursi roda. Kepala pria tersebut diperban akibat terluka. Ia berusaha menutupi wajahnya saat diambil gambarnya oleh para wartawan.[isur/rls]

No comments