Belajar Ikhlas Belajar Berbaik Sangka Kepada-Nya

Share:

BELAJAR ikhlas awalnya memang berat. Coba kita mulai dari sesuatu yang paling kecil dan mudah sampai akhirnya terbiasa. Belajar mengikhlaskan sesuatu melatih diri menerima kenyataan. Semuanya milik Allah SWT. Dia Pemilik semuanya. Kita hanya meminjam. Tiada daya dan upaya, semuanya milik Allah.

Ketika kehilangan sesuatu yang pernah susah payah kita dapatkan, hal paling manusiawi yang sering kita alami adalah menangis, marah, kecewa dan sedih. Tentu saja sangat menyakitkan dan menuding tidak adil.

Serasa pantas untuk mendapatkannya, tetapi dia malah pergi, hilang, dan tak kembali. Ketika kita merasa kitalah yang berhak memilikinya tapi orang lain merebutnya. Lumrah saja kita merasa sedih. Marah atau pun kecewa.

Tapi satu kali saja kita coba ikhlaskan hati saat kehilangan ballpoint kesayangan. Mungkin kebersamaan dengannya sudah habis waktu, mungkin ada yang lebih membutuhkannya daripada kamu. Coba ikhlaskan. Asal jangan harga dirimu, jangan budi pekerti, sopan santun, dan bukan imanmu yang hilang.

Ketika kita punya kekasih, seorang tambatan hati, kita telah berusaha sebaik mungkin agar dia bisa menjadi pendamping selamanya, tapi ketika dia memutuskan untuk pergi dari kita mengapa kita harus sakit hati? Ikhlaskan saja. Ada pengganti yang lebih baik yang telah Allah siapkan untuk kita.

Mungkin dia bukan yang terbaik untuk kita. Mungkin Allah telah memilihkan seorang yang lain yang jauh lebih baik dan berarti daripada dia. Berpikirlah positif. Makanya, ketika mencintai seseorang , lakukan juga dengan ikhlas. Jangan perhitungkan berapa jumlah kasih sayang yang kau berikan.

Jangan kita ukur dalamnya cinta yang dipersembahkan, karena jika satu saat nanti dia pergi dari kita, kita pun akan ikhlas menerima kenyataan itu. Tak ada yang perlu ditangisi. Anggap saja telah melakukan sesuatu yang baik. Sungguh kita telah mengikhlaskan kenyataan itu.

Kita akan merasa diri menjadi begitu luhur, menjadi betapa bijaksana, tidak ada lagi rasa dendam yang menyesak di dada. Bukankah semua itu untuk kita juga. Jika dada kita sesak karena tak bisa menerima kenyataan, kita juga yang sakit.

Jika dendam dipelihara di hati, justru kita juga yang menjadi jatuh tersungkur. Sementara yang pergi dari kita tak mau lagi menoleh ke belakang. Sementara hidup kita masih harus terus bergulir ke depan.

Jadi tidak perlu cemas. Milik itu sudah ada bagiannya masing-masing. Telah diatur dalam sebuah diary perjalanan hidup kita. Jadi mengapa harus merisaukan yang hilang, yang pergi, dan yang direnggut dari kita.

Kehilangan motor kesayangan, coba ikhlaskan, tak lama lagi kita akan mendapatkan motor baru yang lebih keren. Kalau pun tidak kembali kepada kita, maka motor itu sesungguhnya milik orang lain yang dititipkan kepada kita. Beruntung kita sudah mencoba merawat motor itu.

Sebuah maklumat Tuhan menegaskan, "...bersyukurlah kepada-Nya niscaya akan diberikan yang lebih dahsyat dan menggembirakan. Tetapi jika tidak menerima kenyataan itu (ingkar), maka DIA akan memberimu penderitaan yang lebih menyakitkan..." (QS. Ibrahim: 7-8)

Mungkin kita menangis kehilangan sesuatu, tapi cukuplah sampai hari ini. Besok pagi masih ada lagi yang lebih baik. Ikhlaskanlah, dan percayalah! Allah akan selalu memberikan yang terbaik buat kita bila kita berbaik sangka kepada-Nya.[isur, komunitas yahoogroups.com]

No comments