Serpihan Al Quran Dilemparkan Hingga Berubahlah Menjadi Kura Kura Belawa

Share:

CIREBON, Jawa Barat, memiliki situs dan tempat wisata khas dan unik. Salah satunya kura-kura aneh, Kura Kura Belawa. Kura-kura itu hidup dan berasal dari Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Nama Belawa berasal dari nama tokoh kiai terkenal bergelar Syekh Belawa.

Di punggung Kura Kura Belawa nampak bintik-bintik putih mirip tulisan arab (Al Quran). Kura Kura ini hidup tak lazim seperti umumnya kura kura lain. Warnanya hitam pekat, tempurung tidak membentuk setengah lingkaran namun berbentuk rata.

Namun demikian kura-kura ini bisa hidup tenang di lima kolam, dan populasinya kini ada 500-600 ekor. Penduduk setempat menyebutnya "Kuya" (bahasa Sunda), karena kura kura ini pun mengilhami sebuah blok bernama Blok Cikuya, di sudut Desa Belawa, tempat kura kura ini hidup hingga kini.

Setiap tahun kura kura Belawa bertelur di sekitar semak belukar, telurnya sebesar bola pingpong. Masyarakat setempat mengonsumsi telor Kura Kura Belawa, karena mereka tahu kadar proteinnya sangat tinggi dan bisa mencerdaskan otak terutama untuk anak-anak.

Kehidupan Kura Kura Belawa sangat nyaman, terutama karena di Desa Belawa ada empat blok yang memiliki struktur tanah perbukitan seluas 450 hektare, berpenduduk sekitar 5000 orang yang juga ikut menjamin kehidupan Kura Kura Belawa.

Warga dari luar Cirebon mungkin belum tahu dimana Desa Belawa itu. Sebenarnya Desa Belawa sangat dekat dengan Desa Gumulung Tonggoh, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon. Kalau dari sebelah utara berbatasan dengan Desa Panongan. Dari arah Selatan berbatasan dengan Desa Ciawi Gajah. Dari Timur berbatasan Desa Cipeujeuh Kulon, sedangkan dari sebelah Barat berbatasan dengan Desa Wangkelang.

Keunikan Kura Kura Belawa sama uniknya dengan sejarah berdirinya Desa Belawa dan Blok Cikuya sendiri. Tokoh masyarakat Cirebon Direktur YBLH, Yoyon Suharyono, bersama para tokoh masyarakat Desa Belawa memaparkan kisah turun temurun perihal Al Quran yang menjelma menjadi kura kura.

Benar tidaknya urutan cerita ini, menurut Yoyon, adalah kepercayaan masarakat yang diceritakan turun temurun. Konon Desa Belawa, khususnya Blok Cikuya, dulunya desa ini berbentuk perbukitan tepat di sebelah Tenggara Kasultanan Kacirebonan.

Entah tahun berapa, daerah Cirebon pernah kedatangan seorang syekh dari Timur Jauh (Persia/Gujarat) bernama Syekh Mandekur. Saat akan salat zuhur, ia mencari-cari sumber mata air atau kolam untuk berwudhu. Tapi tidak berhasil dan akhirnya menanyakan ke seorang tokoh yang sudah lebih dulu datang ke daerah itu, bernama Syekh Belawa.

Syekh Belawa mengantarkanya ke sebuah pohon rindang. Lalu Syekh Belawa memukulkan tongkatnya ke tanah. Dengan kekuasaan Tuhan, menyemburlah sumber mata air, hingga kini sumber mata air itu berbentuk sumur dan dinamakan Sumur Pamuruyan. Selanjutnya Syekh Belawa mengijinkan Syekh Mandekur menetap di sekitar sumur dan kolam, dan memberi Al Quran agar dibaca Syeh Mandekur.

Asal Kura Kura Belawa

Di sebuah kerajaan yang jauh di timur Kesultanan Kacirebonan, terdapat sebuah Kerajaan Pajang Islam di Jawa Tengah, abad ke-XII yang makmur dan aman. Kondisi negeri Pajang tiba-tiba merana setelah lahir putra mahkota bernama Jaka Saliwah. Wajahnya aneh, satu sisi berwarna merah, sisi lainnya putih. Istana pun menjadi malu.

Menginjak dewasa Jaka Saliwah diperintah Raja mencari Tuhan. Perintah itu hanyalah syarat untuk menyembuhkan penyakit unik di wajah Jaka Saliwah. Putra mahkota ini sangat senang, tanpa pikir panjang ia pun berangkat mencari Tuhan.

Berbulan-bulan Jaka Saliwah berkelana. Tibalah di sebuah desa yang belakangan disebut Desa Belawa. Orang yang pertama ia temui adalah Syekh Mandekur di areal Cikuya. Jaka Saliwah bertemu syekh yang sedang salat di atas batu hitam besar yang sudah agak rata akibat tekanan tubuhnya.

Usai Syekh Mandekur salat, Jaka Saliwah memperkenalkan diri sambil menanyakan keberadaan Tuhan-Nya. Dengan lantang Jaka yang bermuka merah-putih ini mengutarakan maksudnya. Syekh Mandekur agak terkejut.

Di pikiran Syekh Mandekur, jangankan anak muda ini, setingkat Syekh saja yang taat beribadah belum pernah melihat Tuhan. Namun tiba-tiba seorang pemuda menanyakan dimana Tuhan berada dan ingin ketemu.

Akhirnya Syekh Mandekur dengan sedikit kelakar menyuruh Jaka Saliwah berangkat ke arah Barat. Menurut Syekh Mandekur, Jaka Saliwah pasti akan bertemu Tuhan di sebelah Barat. Namun Syekh mengatakan hal itu saking heran dengan pertanyaan Jaka Saliwah.

"Dan jangan lupa tolong tanyakan kepada Tuhan, apakah saya ini ahli surga atau ahli neraka," kata Syekh Mandekur sambil guyon. Jaka Saliwah kemudian berangkat menuju arah Barat. Di perjalanan Jaka bertemu seorang kakek dan bertanya bagaimana dia bisa menemui Tuhan.

Kakek berkata, "Coba ki Sanak panjat pohon bambu itu, karena mungkin Tuhan berada di ujung pohon bambu," kata sang kakek.

Tanpa pikir panjang Jaka Saliwah memanjat pohon bambu hingga pucuk paling atas. Namun ia terjatuh sampai pingsan, tapi dalam pingsannya Jaka Saliwah bermimpi berada di alam akhirat, antara surga dan neraka.

Disana Jaka menanyakan soal Syekh Mandekur. Tuhan di alam akhirat menjawab bahwa Syekh Mandekur adalah ahli neraka, tidak layak masuk surga.

Jaka tak lama menikmati pingsannya, sebab keburu siuman. Saat bercermin di sebuah kolam yang airnya sangat bening, dengan izin Tuhan, wajah Jaka Saliwah nampak berubah seperti wajah manusia pada umumnya.

Jaka sangat senang, dan ia memutuskan kembali ke Kerajaan Pajang Islam. Saat pulang Jaka sempat lewat Desa Belawa, tempatnya Syekh Mandekur. Jaka Saliwah bertemu Syekh Mandekur dan memberitahukan jawaban dari alam akhirat. 

Syekh Mandekur kaget. Namun saking kesalnya ia melemparkan serpihan Al-Quran berukuran kecil pemberian Syekh Belawa ke kolam, dan anehnya Al Quran tersebut semuanya berubah menjadi kura-kura berwarna hitam pekat.

Syekh Mandekur kemudian menjadi kufur. Jaka Saliwah hanya cuek dengan kejadian itu, selanjutnya ia kembali ke kerajaannya. Banyak penduduk menceritakan bahwa sejarah kura kura berasal dari Al Quran. Dulunya Al Quran pemberian Syekh Belawa kepada Syekh Mandekur.

Sementara areal yang dulunya pernah disingahi Jaka Saliwah, Syekh Mandekur, dan Syekh Belawa, daerah tersebut kini telah menjadi sebuah desa yang diberi nama Desa Belawa. Kura Kura Belawa, artinya serpihan Al Quran milik Syekh Belawa.(isur, dari berbagai sumber)

No comments