Tahun 2025 sebanyak 9000 Triliun Batang Rokok Terhisap Pecandu

Share:

Masyarakat Indonesia Lebih Penting Beli Rokok Ketimbang Beras ---

INI sebuah realita yang tidak bisa dibantah, tetapi juga tidak bisa disepelekan. Saya berharap tulisan hasil ramuan dari berbagai sumber ini tidak menyinggung para perokok, tetapi sebagai kajian data-data saja. Jika ini diperlukan, seyogianya para pihak untuk mawas diri. Apa itu?

Kenyataan membuktikan warga miskin yang penghasilannya hanya Rp20 ribu hinga Rp50 ribu per hari adalah para pecandu yang akan menderita jika sehari tidak menghisap rokok. Membeli rokok jauh lebih penting dibanding beli beras untuk makan sekeluarga. "Mangan Ora Udud iku Enek", hanya Anda yang bisa menerjemahkan pemeo itu.

Sayangnya, hasil penelitian para ahli maupun dalam kehidupan sehari-hari, tidak pernah ditemukan perokok santun. Artinya, perokok berat tetapi sangat memperhatikan kepentingan orang lain. Asap rokok tidak mampu dia kendalikan agar tidak terhisap orang di sekitarnya, terutama balita.

Perokok Indonesia rata-rata menikmati hisapannya dan menyumbangkan penyakit pada orang lain. Tidak semua orang tahan terhadap asap rokok. Agama, Pancasila, Undang Undang, atau dogma apa pun nampaknya tidak akan mempan menyadarkan para perokok di bagian ini. Katanya, merokok itu menghilangkan stres. Walah, berarti Anda tiap hari stres dong.

Dalihnya, mati itu kan takdir Tuhan, banyak perokok yang berumur panjang kok, tidak sedikit bukan perokok lebih cepat mati. Tetapi ia lupa bahwa takdir juga bisa dijemput. Salah satu kematian akibat rokok itu adalah takdir yang dijemput, atau dicari sebab-sebab kematiannya.

Tuhan yang mengatur kematian manusia, kita tidak pernah tahu kematian itu memang sudah takdirnya, atau ia mati sebelum takdirnya. Itu hanya Tuhan dan malaikatnya yang faham. Lalu kemanakah arwah orang mati sebelum takdirnya? Nah itu lagi-lagi urusan Tuhan. Kehebatan ilmu manusia tidak akan sampai ke tingkat itu.

Para perokok kadang lupa, selain ia punyai hak azasi, orang lain pun punya hak untuk tidak menghirup secara terpaksa asap rokoknya. Untuk soal ini, pemerintah Indonesia belum konsern terhadap bahaya merokok dan asap rokok pada lingkungan sekitar.

Di RUU Omnibus Law saja tidak disebutkan satu pun Undang Undang soal rokok. Mungkin karena cukai rokok masih menempati urutan teratas pendapatan negara yang mencapai diatas Rp50 triliun per tahun.

Bagi kalangan eksekutif, legislatif, dan yudikatif merokok masih menjadi permakluman nasional. Namun di sisi lain saya bangga saat masuk ke sejumlah kantor apa pun di negeri ini yang memberlakukan larangan merokok.

Kepala kantor-kantor itu menyiapkan ruang khusus untuk para perokok. Coba lihat di Pengadilan Negeri Kelas I Bandung, misalnya, Anda akan menjumpai anjuran bahkan larangan merokok di sejumlah tempat. Disediakan ruang khusus untuk para perokok.

Tetapi di luar sana, masyarakat dengan bebasnya merokok di ruang publik dan sangat menggangu kenyamanan orang lain. Sampai di sini kita tidak bisa memaklumi rokok dalam konteks pergaulan, kesehatan, dan kenyamanan.

Saran saya, para produsen rokok seharusnya sudah cerdas menciptakan jenis rokok masa depan yang hanya bisa dinikmati para pecandu, tetapi asapnya tidak mengganggu orang di sekitarnya. Entah apalah namanya, mungkin rokok ramah lingkungan, rokok tanpa asap, atau rokok tanpa api, dll.

Perhatikanlah fakta-fakta yang mengejutkan berikut tentang rokok dan perokok di Indonesia dan dunia:

1. Sejauh ini, tembakau berada pada peringkat utama penyebab kematian yang dapat dicegah di dunia. Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4 juta kematian tahun 2006.

Ini berarti rata-rata satu kematian setiap 6,5 detik. Kematian pada tahun 2020 mendekati dua kali jumlah kematian pada 2006 lalu jika kebiasaan konsumsi rokok terus berlanjut. Ternyata memang saat ini terus berlanjut.

2. Diperkirakan, 900 juta (84 persen) perokok sedunia hidup di negara-negara berkembang atau transisi ekonomi termasuk di Indonesia. The Tobacco Atlas mencatat, ada lebih dari 10 juta batang rokok diisap setiap menit, tiap hari, di seluruh dunia oleh satu miliar laki-laki, dan 250 juta perempuan.

Sebanyak 50 persen total konsumsi rokok dunia dimiliki China, Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Indonesia. Bila kondisi ini berlanjut, jumlah total rokok yang dihisap tiap tahun mencapai 9.000 triliun rokok pada tahun 2025.

3. Di Asia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak jumlah perokok yang mencapai 146.860.000 jiwa. Namun, sampai saat ini Indonesia belum mempunyai Peraturan Perundangan untuk melarang anak merokok.

Akibat tidak adanya aturan yang tegas, dalam penelitian di empat kota yaitu Bandung, Padang, Yogyakarta dan Malang pada tahun 2004, prevalensi perokok usia 5-9 tahun meningkat drastis dari 0,6 persen (tahun 1995) jadi 2,8 persen (2004). Belum ada hasil penelitian untuk periode berikutnya, tetapi trennya meningkat lebih tinggi pada tahun 2020.

4. Peningkatan prevalensi merokok tertinggi berada pada interval usia 15-19 tahun dari 13,7 persen jadi 24,2 persen atau naik 77 persen dari tahun 1995. Menurut Survei Global Tembakau di Kalangan Remaja pada 1.490 murid SMP di Jakarta tahun 1999, terdapat 46,7 persen siswa yang pernah merokok dan 19 persen di antaranya mencoba sebelum usia 10 tahun.

Data yang ditulis Dharmayati Utoyo Lubis, Psikolog dari Fakultas Psikologi UI, anak-anak Indonesia umumnya mulai merokok di usia SMP memasuki masa remaja awal. Rata-rata alasannya coba-coba, gaya, dan cari sensasi.

5. Sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp20 ribu per hari. Tetapi mereka mampu menghadirkan rokok di mulutnya lantaran dicekoki teman-temannya yang lebih mampu.

6. Perokok di Indonesia 70 persen diantaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. Orang kaya dan selalu tersedia anggaran untuk beli rokok justru penyumbang rokok terbanyak kepada orang-orang miskin. Rokok baginya adalah mesin terbaik untuk menaklukan orang miskin.

7. Sekitar 12,9 persen bajet keluarga miskin untuk rokok dan untuk orang kaya hanya sembilan persen. Daya hisap orang miskin jauh lebih hebat ketimbang daya hisap orang kaya. Semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak kekayaannya, semakin faham rokok itu merugikan dirinya.

8. Mengutip dana Survei Ekonomi dan Kesehatan Nasional (Susenas), konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau di Indonesia menduduki ranking kedua (12,43 persen) setelah konsumsi beras (19.30 persen).

"Ini aneh tatkala masyarakat kian prihatin karena harga bahan pokok naik, justru konsumen rokok kian meningkat dan banyak".

9. Orang miskin di Indonesia mengalokasikan uangnya untuk rokok pada urutan kedua setelah membeli beras. Mengeluarkan uangnya untuk rokok enam kali lebih penting dari pendidikan dan kesehatan.

10. Pemilik perusahaan rokok PT Djarum, R. Budi Hartono, termasuk dalam 10 orang terkaya se-Asia Tenggara versi Majalah Forbes. Ia menempati posisi kesepuluh dengan total harta US$2,3 miliar, dalam daftar yang dikeluarkan Kamis 8 September 2005 lalu.

11. Sekitar 50% penderita kanker paru tidak mengetahui bahwa asap rokok merupakan penyebab penyakitnya.

12. Dari 12% anak-anak SD yang sudah diteliti pernah merasakan merokok dengan coba-coba. Kurang lebih setengahnya meneruskan kebiasaan merokok ini.

13. Besaran cukai rokok di Indonesia dinilai masih terlalu rendah. Tahun 2005 lalu besarnya cukai rokok 37 persen dari harga rokok. Bandingkan dengan India (72 persen), Thailand (63 persen), Jepang (61 persen). Berapakah cukai rokok saat ini di Indonesia?

14. Sebanyak 1.172 orang di Indonesia meninggal setiap hari akibat tembakau.

15. 100 persen pecandu narkoba merupakan perokok.

Di antara 15 fakta tadi, fakta nomor 5 benar-benar paling mengejutkan. "Tidak ada perokok yang terlalu miskin untuk membeli rokok". Tampaknya kata-kata itu ada benarnya. Mereka lebih memilih rokok dibandingkan kebutuhan pokok.

Saya hanya berharap tiga hal yang ingin diutarakan jika rokok masih ada:

Pertama, ada aturan orang boleh merokok di ruang publik tetapi ia sudah lulus pelatihan cara-cara merokok yang dibolehkan. Perokok sudah memiliki sertifikat Perokok Berbudi. Ia juga sudah lulus uji kekuatan magis cara mengendalikan kepulan asap rokok agar tidak terhirup orang lain.

Kedua, para produsen rokok harus menciptakan rokok modern yang tidak mengeluarkan asap. Rokok yang hanya bisa dinikmati perokok tanpa efek pada orang lain. Setiap batang rokok sudah melalui uji klinis tidak berbahaya bagi bukan si perokok terutama anak-anak. Mati karena rokok pun tidak mengajak-ajak orang lain, tidak pula menyumbangkan penyakit pada orang lain.

Ketiga, ada Undang Undang khusus yang mengatur mengenai produksi rokok, distribusi rokok, cara merokok, siapa saja yang boleh merokok, tempat mana saja yang boleh merokok, dan hal-hal penting dilengkapi sanksi bagi perokok yang melanggar aturan.

Perokok rata-rata sebagai upaya membunuh dirinya sendiri dan membunuh orang lain secara pelan-pelan, disadari atau tanpa disadari oleh si perokok. Untuk itu di dalam Undang Undang harus disebutkan jenis hukuman yang setimpal jika terbukti merugikan orang lain.

"Silahkan Anda mati karena rokokmu, tapi jangan sekali-kali mengajak orang mati karena rokokmu juga" - kata korban pecandu.[isur, dari berbagai sumber survey]

No comments