Dr Yudi Nurul Ihsan: Perlu Secepatnya Dibangun Industri Perikanan di Indonesia

Share:

INTRONEWS - (Bandung) - Semenjak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ditinggalkan nakhodanya akibat OTT KPK, jutaan pasang mata kini terkonsentrasi kepada sektor maritim Indonesia. Apa yang sebenarnya mereka lihat?

"Jika pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, industri, dan media duduk satu meja untuk mengelola kemaritiman kita secara profesional, Insya Allah rakyat sejahtera dan Indonesia maju," ungkap Dr sc agr Yudi Nurul Ihsan SPi MSi, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Selasa (1/12/2020).

Berdiskusi dengan sejumlah awak media di Gedung UTC Unpad Jln Ir H Djuanda No 4 Bandung kala itu, Yudi punya alasan jitu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lima elemen tadi penentu maju-mundurnya sektor perikanan dan kelautan akibat lemahnya komunikasi. Potensi laut Indonesia, menurut Pakar ahli dan ilmuwan bidang kelautan dan perikanan ini, sangat melimpah namun salah kelola.

Sayangnya kita terlalu lama memunggungi laut, sehingga potensi ekonomi yang melimpah seperti tidak terlihat. Padahal, sumber pendapatan dari laut sangat besar. Indonesia sampai saat ini tidak punya industri perikanan.

"Padahal sumber ekonomi yang dahsyat itu ada di ikan tangkap, ikan budidaya, dan ikan hias," ungkap Yudi. Akankah Indonesia bangkit dari keterpurukan ekonomi di sektor kelautan dan perikanan?

Yang menjadi perhatian saat ini, kata dekan yang akrab disapa Kang Yudi itu, perlunya dibangun industri perikanan nasional. Tidak hanya di darat, industri perikanan itu pun bisa dilakukan di tengah laut.

Kapal-kapal besar yang ditenggelamkan saat KKP dipimpin Susi Pudjiastuti, kata Yudi, bisa dimanfaatkan untuk tempat produksi ikan kemasan, seperti yang dilakukan nelayan di Jepang. "Daripada jadi bangkai yang tidak terurus, lagi pula merusak lingkungan," kata Yudi.

Yudi Nurul Ihsan saat berada di KJA prototype kampus Unpad Pangandaran

Yudi Nurul Ihsan saat berada di KJA prototype kampus Unpad Pangandaran ---

Obrolan dengan Kang Yudi makin seru, apalagi ia mengulas juga mengenai fungsi Balai Perikanan, budidaya lobster, udang, ikan tangkapan, ikan budidaya, dll. Alhasil, Yudi sangat prihatin regulasi pemerintah belum memprioritaskan maritim sebagai aset ekonomi masa depan.

Kita harus membangun industri pengolahan ikan karena ke depan masyakarat itu trennya frozen food, masakan yang siap saji, dan ikan itu memiliki nilai gizi tinggi untuk menambah imunitas, kecerdasan, dll.

Jika kita sudah bisa mendata kemampuan produksi ikan dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, Indonesia bisa menghitung kira-kira bisa menyiapkan industri pengolahan ikan sebesar apa.

Kalau itu sudah berhasil, kata Yudi, nilai tambah dari sektor perikanan akan cukup besar. Produk-produk pangan dari Indonesia begitu masuk Jepang langsung habis diserap pasar. Kasus ini terjadi di produk udang. 

Ada perusahaan besar di Indonesia sampai tidak punya produk untuk dijual di dalam negeri karena untuk ekspor saja masih kekurangan bahan baku. Begitu produk itu masuk ke Jepang langsung habis karena kualitas tinggi.

Logika Yudi, jika Indonesia sudah punya bahan baku cukup kuat dari perikanan budidaya dan perikanan tangkap, maka industri pengolahan ikan pun akan berkembang pesat. "Sayangnya, selama ini kita tidak membangun industri perikanan, kita cenderung menjual barang mentah, bahan baku, kemudian mengolahnya di luar negeri," sesal Yudi.

Jika kita punya sistem logistik yang baik ikan tidak mudah busuk, karena kunci dari sistem logistik adalah penyiapan sarana dan prasarana, seperti Mesin ABF (Air Blast Freezer) pembeku ikan dan chest freezer - penyimpan ikan.

Pelabuhan ikan juga dilengkapi alat seperti itu membuat produk ikan dari laut, baik perikanan tangkap dan budidaya bisa disimpan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Menyinggung soal lobster, yang Yudi pikirkan adalah membangun industri dari hulu ke hilir, baik perikanan tangkap, perikanan budidaya dan hilirnya membangun industri pengolahan perikanan. "Tren ke depan itu produk siap saji, frozen food," papar Yudi.

Sebagai akademisi Yudi menyarankan, pemerintah harus menyiapkan program pemulihan ekonomi dari sektor perikanan. Program itu berdasarkan pada distribusi kesejahteraan yang merata, dan program yang bisa menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Ini saja diperkuat, niscaya industri perikanan akan maju.

Yudi mengakui, industri di Wilayah Timur Indonesia belum kuat meski potensi baharinya sangat hebat. Untuk itu Yudi juga mengusulkan kepada pemerintah: membangun industri perikanan tangkap;  membangun tempat penyimpanan yang besar; dan mengerjasamakan industri besar dengan nelayan kecil.[isur]

No comments