Nih, Cara Jitu & Handal Mengenal Pakan Lobster Biar Tumbuh Cepat Woy ...

Share:

ADA-ADA saja ya, hidup berbangsa dan bernegara ahir-ahir ini, apa pasal? Rupanya, menyikapi pelarangan ekspor Benih Lobster (BL), lalu tiba-tiba dampak dari peristiwa menggegerkan dicokoknya Menteri Kelautan dan Perikanan pada tanggal 25 November 2020 bersama 6 personal lainnya, mau tak mau masyarakat semakin melek - budidaya salah satu hewan laut favorit di meja makan ini, seperti apa? Apa itu pakan budidaya lobster biar sehat dan berharga tinggi, Woy?

Nah, sekalian saja, saya perkenalkan cara jitu dan handal itu, di antaranya para pembudidaya harus bersiap untuk melakukan rekayasa dengan teknologi yang baik dan benar. Tujuannya, agar Survival Rate-nya tinggi, dan partumbuhannya baik. Paling tidak acuannya, seperti yang dilakukan oleh pembudidaya di Vietnam yang menjadi salahsatu tujuan ekspor BL, bisa kan?

Rahasianya, salah satu aspek yang harus dikuasai adalah fisiologi, dan teknik pakan lobster (Panulirus sp).

Sebelum memasuki bahasan mengenai kebutuhan gizi lobster, harus diketahui dulu, dimanakah posisi lobster dalam segitiga piramida food web (Gambar 1).

  

Gambar 1. Piramida Trophic Level di Laut, Lobster Masuk Pada Kategori Karnivora Tingkat Rendah

Berdasarkan Gambar 1 di atas, di alam lobster mengkonsumsi zooplankton, krill, hewan filter feeder, larva ikan dan lain lain. Tentu saja, disesuaikan dengan sifat lobster yang bersifat bentik, namun sesekali juga berenang di kolom air yang dangkal.

Pada Gambar 2 berikut adalah saluran cerna lobster.

Gambar 2. Saluran Cerna Lobster Air Laut

Apabila kita melihat saluran cerna lobster  (Gambar 2) diperkirakan bahwa semua pakan yang dimakan akan masuk ke perut/stomach, kemudian ke midgut, foregut dan hind gut, sebelum akhirnya keluar melalu anus. Secara umum peran stomach adalah sebagai kantong penyimpanan dan pencernaan awal, disini sudah dimulai penurunan ukuran pakan, juga pencernaan secara kimiawi yang ditandai dengan kehadiran cairan cerna dan enzim.  Pakan yang semula struktur dan molekulnya kompleks sudah disederhanakan, dan siap untuk diabsorpsi.

Selanjutnya pakan yang sudah dicerna masuk ke foregut, midgut, dan hindgut, disini terjadi proses pencernaan secara biologis yang ditandai dengan kehadiran jasad renik yang membantu proses pencernaan. Lalu terjadi proses absorpsi molekul molekul yang sudah dicerna menjadi lebih sederhana masuk ke pembuluh darah secara “transport aktif “ untuk disebarluaskan ke sel sel tubuh. Pakan yang tidak dapat dicerna dibawa ke anus untuk dikeluarkan.

Pakan yang tidak dicerna umumnya adalah material kompleks yang sulit dipecah secara fisik, kimiawi dan biologis, biasanya golongan karbohidrat/serat.

Apa pakan yang disukai lobster di alam? Berdasarkan analisis isi lambung dari lobster dari alam, terlihat bahwa yang menjadi ‘mangsa’ di alam adalah zooplankton, krill, hewan filter feeder, larva ikan yang mengandung banyak protein, mineral dan enzim.  Apabila kita berbudidaya lobster maka sebaiknya diberikan ikan rucah yang dicacah, udang kecil, cumi-cumi dan kerang yang dihancurkan dalam keadaan segar, sebanyak 10 persen dari bobot lobster per hari.

Lobster akan menyerang sesamanya apabila tidak diberi pakan yang cukup dan segar. Oleh sebab itu, lobster perlu diberi makanan segar dengan jumlah yang tepat dan waktu yang tepat, selain itu juga wadah budidaya lobster perlu ditambahkan shelter untuk bersembunyi.

Pemberian pakan dilakukan pada jam 9 pagi dan jam 4 sore, lalu pembersihan sisa pakan dilakukan setiap pagi dengan cara diserok. Pakan utamanya diberikan pada sore hari menjelang malam. Ikan yang akan diberikan untuk pakan sebaiknya ditempatkan pada suatu wadah supaya tidak hanyut keluar dari karamba. 

Untuk ikan pakan yang berukuran sedang (lemuru, layang, tongkol) bisa diikat pangkal ekornya dan digantungkan di sekitar shelter supaya mudah dijangkau oleh anakan udang karang. Pakan harus diberikan secara merata di dalam karamba untuk menghindari udang berkelahi karena berebut pakan.

Selain pakan berupa ikan rucah dan kerang hidup, anakan lobster  juga diberi pakan tambahan (supplement) berupa rumput laut jenis Gracilaria. Penambahan pakan supplement bisa meningkatkan berat badan dan kesehatan lobster.

Food Conversion Ratio (FCR) dari lobster adalah 9-18, dengan FCR lobster berkisar 9-18 (FCR 9 untuk lobster pasir hingga berukuran 300 gram, FCR 18 untuk lobster mutiara hingga berukuran 1kg), diperkirakan biaya pakan lobster berkisar 20-25 persen dari harga jual lobster. Dengan demikian, penjualan lobster masih menyisakan margin sebesar 75-80 persen untuk menyerap sedikit biaya operasional, dan pembudidaya masih berpotensi untuk menikmati 40-50 persen penjualan sebagai keuntungan. Hal ini membuktikan bahwa budidaya lobster memiliki potensi keuntungan yang luar biasa, Woy ...  (RR/HS)

Penulis:
Dr Rita Rostika, Kaprodi Perikanan K. Pangandaran dan Bendahara Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI)
Illustrasi foto awal: pixabay.com

No comments