Prediksi Tahun 2021 Banyak Pesohor Dibui Akibat Narkoba | Tapi Kok Eksekusi Mati Jalan di Tempat?

Share:

KETUA Umum Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN) Brigjen Pol Purn ADV Drs Siswandi memprediksi tahun 2021 banyak penyalah guna dan pecandu narkoba yang dipenjara, terutama para pesohor (Public Figure) yang belum bertobat dan berobat.

Menurut Siswandi kepada INTRONEWS, Kamis (31/12/2020), para pesohor itu bisa artis bisa juga pejabat. Masih maraknya tahun 2020 menjadi indikasi mereka masih mengomsumsi obat berbahaya termasuk jenis narkoba.

"Aparat lebih muda menyelidiki para mantan pengguna maupun pecandu. Database mereka itu aparat sudah mengantonginya," ungkap Siswandi yang juga mantan Direktur Penindakan Narkoba Bareskrim Polri.

Siswandi di akhir tahun 2020 ini mengingatkan kembali kepada para pesohor yang masih mengonsumsi narkoba, sebelum ditangkap petugas sebaiknya segera bertobat. Kepada yang masih sulit meninggalkan narkoba, segeralah berobat. "Rugi kalau sudah ketangkap," tandas Siswandi.

Jenderal pemilik kumis tebal ini menegaskan, kita bisa mencontoh senior-senior Srimulat seperti Kadir, Polo, Tessy, Doyok, Bagong, dan Tarzan yang kini menjadi Duta GPAN untuk pemberantasan narkoba.

Dalam beberapa momen penting di tahun 2020, Siswandi kerap mengumumkan inisial para selebritis yang akan ditangkap petugas terkait narkoba. Tetapi yang bersangkutan menganggap info itu tidak penting, sehingga setelah tertangkap, barulah menangis dan menyesali. "Terlambat, jadinya mereka dibui," imbuh Siswandi.

Eksekusi Hukuman Mati?
Mengenai penegakan hukum, ayah dari Aldo ini mengungkapkan kekecewaannya. Hukuman itu jalan di tempat, khususnya terhadap eksekusi hukuman mati. Belum dilaksanakan, sedangkan vonis hukuman mati terhadap bandar masih berjalan.

Kasasi dan Peninjauan Kembali (PK) terhadap yang sudah vonis hukuman mati pun menggulir terus. Para mafia yang mendapat hukuman mati akan berjuang terus, seperti Sang Mafia Mr Frank Amando yang mengajukan PK dari hukuman mati menjadi kurungan 12 tahun penjara. "Ini aneh bin ajaib," kata Siswandi kecewa.

Seperti pernah dilansir Metro TV, Selasa 4 Agustus 2019 lalu, PK narapidana hukuman mati menjadi 12 tahun, teringatlah kita kepada Frank Amando Warga Negara Asing (WNA) yang ditangkap Subdit 2 Ditnarkoba Bareskrim Polri 19 Oktober 2009.

Yang memimpin operasi penangkapan saat itu tiada lain Siswandi yang masih berpangkat kombes, di Park Royal Gatot Subroto Jakarta, dengan barang bukti (BB) 5,6 kg Sabu. Frank Amando sudah enam kali nyelundupkan narkoba ke Indonesia melalui jaringan Bangkok - Jakarta. 

Pada saat mengungkap sekaligus menangkap mafia ini pun Siswandi menggunakan strategi khusus menggelar operasi dengan Sandi Operasi Celana Pendek. Tepat pada hari ke-14 itu sindikat mafia narkoba Frank Amando pun terbongkar. Tersangka ditangkap oleh tangan Siswandi pada tahun 2009.

"Katakanlah 11 tahun yang lalu tatkala PK dari hukuman mati menjadi 12 tahun dengan Putusan Nomor 207 PK/pid.Sus/2020 tanggal 29 Juni 2020. Maka Frank Amando menunggu beberapa bulan lagi akan BEBAS," papar Siswandi kesal.

Dengan nada menyindir Siswandi pun mengatakan kepada Frank Amando, "Selamat anda berhasil mengendalikan oknum-oknum aparat di Republik Ini. Saya yakin anda akan kembali ke Indonesia dengan membawa narkoba yang lebih besar, sesuai buku yang saya tulis tahun 2011 dengan judul PANGSA NARKOTIKA DUNIA INDONESIA".

 

Siswandi juga menyatakan keprihatinan mengenai kualitas hukuman terhadap pelaku narkoba. Apalagi setelah pensiun dari kepolisian, Siswandi aktif di ormas anti narkoba dan kerap menganalisa berkas narkotika yang membuat dirinya dongkol.

Kata Siswandi, "sangat jelas" bahwa di tingkat penyidikan disengaja agar penyalahguna dan pecandu dihukum. Lihat saja dalam dakwaan, jarang pasal 127 yang didakwakan, selalu pasal 114 atau pasal 112 yang dipakai. "Gak tau kenapa, kok itu terus. Padahal jelas dia menyimpan untuk digunakan," kata Siswandi.

Pasal 127 itu ternyata mahal lho. Barang Bukti 0,6 gram saja divonis 6 tahun, sedangkan Barang Bukti 42 kg divonis 2 tahun. Dari perlakuan hukum itu kemudian melahirkan sinyalemen buruk. "Makanya enak jadi bandar daripada pengguna," tandas Siswandi sulit menyembunyikan kekcewaannya.

Tahun 2021 diharapkan ada diskresi pemerintah soal hukuman tegas kepada bandar, gembong, bahkan mafia narkoba yang divonis hukuman mati. Siswandi berharap Diskresi Presiden menyegerakan eksekusi hukuman mati tidak ditunda-tunda lagi.[isur]

No comments