Farhan: Jangan Asal Share Berita, Amati Dulu Sumbernya Bisi Hoax

Share:

BANDUNG, intronews - Anggota Komisi I DPR RI, Muhammad Farhan, mengingatkan semua pihak akan kedahsyatan peran media massa yang berkembang pesat di zaman ini.

Menurutnya, media massa --terkhusus medsos-- membawa kita pada kegiatan dunia tanpa batas. Salah-salah jika tanpa pemahaman literasi yang kuat bisa menjebloskan kita pada ranah ketidakpastian.

Dalam seminar virtual (webinar) melalui aplikasi zoom yang diselenggarakan Prodi magister Ilmu Komunikasi Angkatan IX Pascasarjana Universitas Pasundan, Senin 25 Januari 2021, mantan presenter TV nasional itu menyarankan jurus jitu.

"Untuk bijak menangani berita hoax yang merajalela akhir-akhir ini, jangan asal share. Amati dulu dari mana itu sumbernya," ungkapnya disaksikan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam webinar yang dipandu MC Muftiah Yulismi seorang PNS Gedung Sate bertema “optimalilasi komunikasi politik dalam mewujudkan good governance di indonesia” tersebut Farhan menyebut medsos jika dipergunakan dengan baik manfaatnya sangat besar. Seseorang bisa tenar dalam waktu singkat.

Mantan praktisi di bidang komunikasi massa radio itu pun sempat membahas kesuksesan Ridwan Kamil ketika meraih menjadi Walikota Bandung ke-15 (2013–2018) yang tidak lepas dari peran media sosial alias media daring (dalam jaringan).

“Saat itu dalam kampanye Ridwan Kamil, tim suksesnya menggarap dengan cukup piawai celah pemanfaatan media sosial. Ini terbukti ampuh kala itu. Bolehlah ini bisa menjadi bahan kajian siapa pun,” kata Farhan.

Bagi para mahasiswa terutama di bidang politik, lanjut Farhan, mengapa tidak sesi keberhasilan Ridwan Kamil yang kini menjadi Gubernur Jabar, bisa menjadi bahan kajian lebih bijak.

Dalam dunia politik, peran media massa sangat penting. Posisi dan arah media tidak sangat terpengaruh oleh afiliasi para pemilik media di partai politik sekalipun. Farhan lebih sepakat jika media berpegang teguh kepada kode etik jurnalistik. "Agar selalu berada pada posisi netralitas sesuai porsinya," tandas Farhan.  

Dalam webinar ini selain pemaparan Muhamad Farhan juga hadir narasumber lain seperti Dr Eki Baihaki MSi dan Eka Santosa.

Menurut Muftiah Yulismi SPsi yang mengatur jalannya webinar ini bersyukur tiga narasumber piawai di bidangnya itu memiliki chemistry sangat kuat. Ketiganya menjelaskan pentingnya peran komunikasi politik secara normatif dengan runtun.

"Ini bekal penting bagi kami-kami yang sehari-hari akan dan sudah terjun di tengah masyarakat,” kata Muftiah Yulismi yang juga mahasiswa angkatan IX Magister Ilmu Komunikasi Unpas Bandung.

Menurut Muftiah Yulismi, saripati webinar ini adanya dialog cukup intensif di antara para peserta. Terjadi perwujudan Kampus Merdeka secara nyata. Aneka kiat mengimplementasikan sinergitas antara pemerintah (state), swasta (private sector), dan masyarakat (society) dalam membangun tatanan bernegara dan berbangsa.

"Inilah manfaat nyata bagi kami, bisa menambah wawasan, termasuk tantangan Pak Eka Santosa mewacanakan kembali ke UUD 1945. Bagi Kampus Merdeka tampaknya boleh-boleh saja,” ungkap Muftiah.

Dinamika komunikasi politik dalam konteks bagaimana mewujudkan Good Governance, dimata insan akademis khususnya pada Program Studi (Prodi) Magister Ilmu Komunikasi angkatan IX Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas) menjadi amat menarik.

“Saatnya, para mahasiswa harus belajar langsung dari para pakar maupun politisi yang berkelas. Kiranya, keterlibatan mewacanakan good governance bila dari datang dari para pihak yang pernah menjalankan maupun yang sedang mengembannya, dipastikan akan lain hasilnya.

Webinar membahas secara mendalam seperti dikatakan Dr Sutrisno SSos MSi selaku Kaprodi Ilmu Komunikasi Unpas dalam kata sambutannya di awal acara pembukaan.

Ketua Pelaksana webinar Dr Drs Yony Djogo SH MM Map MHFarid berharap para mahasiswanya serta pihak terkait lainnya yang tertarik dengan disiplin ilmu politik, dapat memaknai peran komunikasi politik.

"Dalam konteks praktik meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, atau khususnya pemilihan kepala daerah, misalnya," kata Yony yang juga menyebutkan tiga narasumber utama sebagai acuan pelajaran komunikasi politik itu.[isur/rls]

No comments