Kisah Komjen Listyo Sigit Prabowo Itu Egaliter dan Sederhana | Penuturan Brigjen Pol Purn ADV Drs Siswandi

Share:

INI kisah menarik tentang sosok Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo, yang disebut-sebut sebagai calon tunggal Kapolri pengganti Jenderal Idham Azis. Tidak seperti kebanyakan perwira tinggi lainnya di Polri, Pak Sigit ini sosok pejabat paling sederhana.

Kisah ini diceritakan kembali oleh mantan petinggi Bareskrim Polri, Brigjen Pol Purn ADV Drs Siswandi. Mantan petinggi BNN ini pun mengisahkan kesederhanaan seorang Komjen Sigit.

Bintang di pundak sang jenderal itu bukanlah segala-galanya bagi Pak Sigit. Tutur kata hingga cara bergaul dengan semua orang pun sangat santun dan nada bicaranya tidak lebih tinggi dari lawan bicaranya, siapa pun orangnya.

Simak kisah selanjutnya dari penuturan Brigjen Pol Purn ADV Drs Siswandi tentang seseorang yang bertemu Komjen Sigit ini di suatu tempat...!!

Setelah check in saya menuju lounge executive, smoking room. Sambil merokok dan menikmati secangkir kopi, saya melihat ada seorang pria duduk tepat di depan saya. Dia berpakaian dinas polisi. Ada bintang di pundaknya. Entah mengapa dia tersenyum menatap saya. Saya mengangguk sebagai tanda hormat.

Tak berapa lama ada bule yang minta dia menggeser duduknya. Karena colokan listrik ada di samping pria itu. Bule itu mau charge baterai hapenya. Pria itu bukan hanya menggeser duduknya tetapi malah membantu bule itu mencolokan kabel ke listrik. Wajahnya tetap berhias senyum. Sempat terjadi dialog dalam bahasa inggris yang sempurna.

Saya tahu pria itu adalah Listyo Sigit Prabowo. Ketika itu dia Kapolda Banten (2016). Yang membuat saya respect adalah sikap sederhana dan ramahnya. Tidak ada kesan arogansi karena bintang di pundaknya. Ajudan pun hanya satu orang yang ikut dia traveling. Yang membuat saya terkejut dia terbang dengan economi class.

Keberadaannya di lounge executive airline bukan karena ticketnya tetapi lebih karena jabatannya. Karena itu pun dia tidak minta dihormati berlebihan. Justru dia menaruh hormat kepada penumpang yang ada di lounge executive yang punya ticket business class.

Walau awalnya ada penolakan dari MUI Banten alasan Sigit beragama Kristen, namun dalam melaksanakan tugasnya sebagai Kapolda, Sigit berhasil meyakinkan MUI bahwa dia jadi sahabat umat Islam di Banten.

Waktu ada demo 411 dan 212, Kapolda Banten mengirim team Brimob bukan yang bersenjata. Tetapi polisi yang tergabung dalam team Brimob Asmaulhusna. Jadi demo 411 dan 212 dihadapi dengan polisi yang berzikir.

Sigit memang bukanlah lulusan terbaik Akpol, peraih Adhi Makayasa seperti Tito Karnavian. Sepanjang karirnya sebagai Jenderal Polisi, Sigit hanya menjabat sebagai Kapolda Banten (2016-2018), bukan Polda kelas A seperti Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Metro Jaya.

Ketika dia jadi Kapolres Surakarta, dan Jokowi jadi Walikota, hubungan mereka sangat dekat. Itu lebih karena sikap Sigit yang rendah hati dan sederhana. Mereka berdua punya chemistry yang sama. Dan akhinya ketika Jokowi jadi Presiden, tentu wajar saja bila meminta Sigit jadi ajudan.

Dari lima calon Kapolri yang diajukan ke Jokowi, Sigit bukan yang terkaya. Yang terkaya adalah Arief Sulistyanto. Kekayaan Sigit hanya berupa tanah, bangunan, kendaraan dan harta bergerak lainnya menurut laporan LHKPN, totalnya kurang lebih Rp8 miliar.

Untuk ukuran Jenderal Polisi dan mantan Kapolda, itu kecil sekali. Mungkin itu juga bukti bahwa kesederhanaanya bukan hanya dari sikap tetapi juga dari perbuatannya.

Dan kini di situasi politik di tengah krisis ekonomi dan pandemi, tentu Jokowi butuh sahabatnya sebagai Kapolri untuk menghadapi tantangan keamanan dan ketertiban yang ada. Itu juga wajar bila Jokowi memilih Sigit sebagai calon tunggal Kapolri dan mengirimnya ke DPR untuk mengikuti proses fit and proper test.

Sigit memang bukan muslim. Tetapi negara ini bukan negara agama. Semua anak bangsa berhak mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin, termasuk jadi Kapolri. Kalau Sigit terpilih sebagai Kapolri oleh DPR maka dia Kapolri kedua yang Kristiani. Sebelumnya adalah Jenderal (purn) Widodo Budidarmo.[*]

No comments