Setiap Kantor Desa Perlu Dibangun Satu Pendopo Mitigasi Bencana

Share:


INI saran yang cukup brilian dan inspirasif dari Direktur Eksekutif Yayasan Buruh dan Lingkungan Hidup (YBLH) Yoyon Suharyono. Dibutuhkan setidaknya satu Pendopo Mitigasi Bencana (Pemina) di setiap kantor desa. Semacam tempat berkumpulnya warga yang menjadi korban untuk mengantisipasi darurat bencana. 

Saat berdiskusi dengan redaksi melalui aplikasi android, Kamis (11 Maret 2021), Yoyon Suharyono yang popular dengan sebutan pencetus Sejuta Pohon Jati di Kabupaten Cirebon itu setiap desa di Kab. Cirebon sudah siap dan tanggap darurat bencana. 

Yoyon sepakat kalau Kabupaten Cirebon dijuluki daerah rawan bencana di dua musim. “Langganan banjir, longsor, angin puting beliung disertai petir di musim hujan. Kebakaran, kekeringan maupun angin kencang pembawa wabah penyakit di musim kemarau,” ungkap Yoyon.

Kab Cirebon akan menjadi percontohan desa dengan siaga bencana. Warga akan terlatih dengan kebiasaan mengantisipasi bencana dan menata prilaku warga membiasakan diri tanggap bencana yang datang setiap saat.

Namun sebagai desa yang siapa bencana diperlukan kesiapan dari aparat untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengungsi akibat bencana tersebut. “Harus ada titik kumpul evakuasi di kantor desa, maka kita namakan Pendopo Mitigasi Bencana,” ungkap Yoyon.

Kantor desa tidak hanya berfungsi pemerintahan, pelayanan, maupun berbagai kegiatan ekonomi masyarakat, kata Yoyon, desa juga multisektor termasuk keperluan antisipasi bahaya. “Jika bencana menimpa, aparat desa tidak kerepotan membenahi titik evakuasi dan dapur umum,” tambah Yoyon.

Pendopo Mitigasi Bencana diperlukan sebagai posko bantuan dan berkumpulnya para korban yang dievakuasi. Di Pemina itu disediakan tempat mandi cuci kakus (MCK) yang bias digunakan oleh paling tidak 30 orang.

Anggaran yang diperlukan untuk pendirian Pemida itu bisa dari dana bantuan provinsi maupun dari pusat. Pemina dilengkapi dengan keperluan masyarakat, dapur umun dan tempat tidur, termasuk dibuat sarana bermain anak-anak korban bencana sekaligus untuk trauma healing.

“Jika mengandalkan anggaran dari pemda Kab Cirebon tentu tidak akan mampu, karena ada sekitar 412 desa,” kata Yoyon.

Yoyon menandaskan bahwa ini upaya meminimalisir potensi bencana. Meski sudah kejadian pun mitigasi bencana diperlukan untuk membantu para korban.

Seperti yang ia kutip dari Wikipedia, Mitigasi bencana adalah segala upaya untuk mengurangi risiko bencana. Program mitigasi bencana dapat dilakukan melalui pembangunan secara fisik maupun peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Seperti keumuman di Indonesia, ketika terjadi bencana barulah para pihak beramai-ramai membuat posko tempat evakuasi maupun posko distribusi bantuan. Padahal siaga lebih baik daripada sibuk setelah kejadian.

“Jika ada Pemina, para pihak akan terfokus memberi bantuan dalam bentuk materi maupun spiritual di Pendopo. Tidak akan sulit mendata, dan distribusi bantuan pun akan terfokus,” kata Yoyon sambil menambahkan, seringkali bantuan dari berbagai donatur tidak tersalurkan dengan akurat.

Pendopo Mitigasi Bencana harus ada di depan bale desa supaya mudah memantaunya. Jadi, kata Yoyon, tidak perlu bikin tenda, memanfaatkan GOR, sekolahan, atau tempat lainnya. Pusatkan saja ke Pendopo Mitigasi Bencana. “Minimal luasnya 25x25 meter untuk setiap Pendopo Mitigasi Bencana,” ujar Yoyon.

Seperti sering kita lihat, pendopo di kecamatan luasnya sangat kecil untuk sebuah tempat berkumpulnya para korban, tetapi kalau pendopo itu ada di tiap desa akan sangat representatif.

“Kita urusin Cirebon dulu lah, kalau daerah lain masa bodo bukan urusan kita. Kalau Cirebon sudah implementasi, maka silahkan daerah lain mau ikutan juga gak apa-apa,” pungkas Yoyon diselingi candaan.[isur]

No comments