[YOUTUBE] Akibat Bansos Dipotong, Warga Desa Cijambu Cipongkor KBB Meradang

Share:



 Akibat Bansos Dipotong, Warga Desa Cijambu Cipongkor KBB Meradang

Sobat intro,
Tatar Parahyangan memang sangat indah dipandang mata. Tanahnya subur, cai cur cor dimana-mana, sawah terbentang, sungai dan danau memanjakan penduduk di sekitarnya. Tim liputan sengaja menyusuri satu desa di Kab Bandung Barat, tepatnya di Desa Cijambu Kecamatan Cipongkor. Luas wilayahnya 527.450 km², serta  berpenduduk 7 ribu jiwa di tahun 2020, di sini terdapat 1.800-an KK, terbagi dalam 28 RT dan 7 RW, serta ada 4 Dusun. Desa Cijambu kini bepredikat desa maju dibawah kepemimpinan Kepala Desa Ayi Muhidin. 

Dibalik keindahan Desa Cijambu, terdapat satu persoalan yang hampir sama dengan desa-desa lainnya di seantero Jawa Barat. Ada kasus pemotongan Bansos di desa Cijambu saat desa ini pun terimbas pandemic Covid-19… seperti apakah kasusnya,,,? Simak liputan selengkapnya… 

Tim liputan menelusuri dampak pemberitaan KPK yang memeriksa Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna dalam kasus Bansos Covid-19, yakni Warga Desa Cijambu Kecamatan Cipongkor KBB yang kirsuh akibat pemotongan bantuan Covid-19. Siapa pelakunya, kita telusuri lebih lanjut.

Memang tidak ada kaitan secara lagsung kasus bupati dengan masalah warga Cijambu, tetapi warga menyangka ini urusan yang sama. Seharusnya warga per kepala keluarga pada bulan Juni 2020 menerima bansos Rp1,8 juta untuk 3 bulan masing-masing Rp600 ribu.

Warga mengaku bantuan dipotong oleh Ibu RT. Sementara yang Rp1,5 juta lagi dibawa kembali oleh RT ke Dusun, lalu disetor ke Desa untuk nambal-nambal yang tak kebagian dus (paket bantuan non tunai).

Seperti dituturkan Baekah, Nursipa, dan Saadah warga Nangewer Dusun II Desa Cijambu, Cipongkor, KBB, penyebab pemotongan dana Bansos @Rp300 ribu dari total Rp1,8 juta itu, karena mereka sudah mendapat PKH. Tapi, hanya Baekah yang tak dapat PKH. Mereka terpaksa harus meridokan pemotongan tersebut sambil pasrah tak berdaya.

SB: Baekah | Korban Pemotongan Bansos Covid-19 

Tim liputan menemui mantan kepala dusun periode 2016–2021, Arman Sapta Permana, di Dusun IV Desa Cijambu. Menurutnya, saat pencairan bantuan dari Kemensos pada Juli 2020, turun tambahan pencaian lain dari bantuan provinsi, PKH, dan sebagainya, dengan ketentuan tidak boleh ada penerimaan bantuan dobel. 

SB: Arman Sapta Permana | Mantan Kadus IV Desa Cijambu, Cipongkor, KBB 

Tim liputan kemudian menemui Sekertaris Desa Cijambu, Yusup Supriatna. Menurutnya, ide awal pencairan dana Bansos Covid-19 dari Kemensos ini justru datangnya dari para Kadus dan unsur tokoh masyarakat, RW serta RT setempat. Namun dalam pelaksanaannya terjadi mis komunikasi. 

SB: Yusup Supriatna | Sekretaris Desa Cijambu, Cipongkor, KBB 

Tim liputan menemui salah satu warga Nangewer Dusun II suami dari Saadah, namanya Oyon (46), yang saat ditemui sedang memberi makan kambing kecilnya. Katanya, ini bukan pembagian, namun itung-itung kuli mengambilkan uang Rp1,8 juta dari petugas Pos. Katanya ada 7 orang yang dipotong bansosnya, semuanya hanya dapat masing-masing Rp300 ribu, dari yang seharusnya diterima Rp1,8 juta.

SB: OYON | WARGA CIJAMBU, SUAMI SAADAH

Tim liputan melakukan kontak video call antar daerah dengan Kepala Desa Cijambu Ayi Muhidin. Pada prinsipnya, tidak boleh bantuan dobel. Warga lain harus kebagian. Kades menyebutnya ini sebagai kearipan lokal, sebagai upaya pemerataan bagi warga yang tidak kebagian bantuan seperti PKH, BPNT, TKS, DTKS dan Non DTKS.

SB: Ayi Muhidin | Kepala Desa Cijambu, Cipongkor, KBB

umlah hasil pemotongan itu seluruhnya mencapai Rp48 juta. Apakah jumlah ini disalurkan kepada warga lain yang belum kebagian? Inilah yang belum diketahui warga penerima yang mendapat potongan. Diharapkan pemotongan bansos tersebut bersifat transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Harri Safiari/Isur Suryana melaporkan dari Cipongkor KBB//

No comments