Lurah Sukapura Malinasari Kaget dan Salut Ada Bank Sampah “Tikukur“ di RW 01

Share:

Iskandar: Juallah Sampah Pada Tempatnya ---


BANDUNG
, intronews.my.id – Lurah Sukapura Malinasari S.Kom (topi KORPRI dalam foto) , sengaja datang ke gedung Bank Sampah di Gg Duren RT 02 RW 01, Kelurahan Sukapura, Kiaracodong, Bandung. Kedatangan Ibu Lurah disertai kekagumannya ternyata di daerahnya sudah dibangun sebuah gedung bank, namanya Bank Sampah Tikukur.

Mungkin kita mengira gedung bank itu mewah dan dilayani para CS cantik, tetapi bank sampah hanya sebuah gedung kecil dengan tumpukan karung berisi sampah non-organik yang sudah dipilah. 

Sebut saja Bank Sampah Tikukur yang beroperasi di Gg. Duren RT 02 RW 01, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, satu-satunya bank sampah di Kelurahan Sukapura yang menjadi pusat percontohan kreativitas anak bangsa. Sederhana tetapi bernuansa internasional, karena bank sampah ikut ambil bagian menyelamatkan kehidupan umat manusia.

Kenapa namanya Tikukur? Kalau dipanjangkan akan berarti Ti Urang Ku Kurang Keur Urang (Dari Kita Oleh Kita Untuk Kita), sampah yang  berasal dari daerah sendiri, diprakarsai Ketua RT 02 Rasyakin sekaligus sebagai direktur Bank Sampah Tikukur dengan donasi tempat di sebuah gudang kosong milik H Nandang.

Sampah yang dapat ditukar dengan uang itu tentunya hasil pemilahan masyarakat dari rumah masing-masing maupun dari tumpukan sampah yang tadinya akan dibuang ke TPS. Antara lain ember bekas, bermacam-macam plastik minuman, semua jenis plastik keresek, berbagai jenis kertas, beragam jenis logam, botol, bahkan karpet plastik, karung, minyak jelantah, aki motor juga bisa ditukar dengan harga yang pantas.

Lurah Sukapura Malinasari S.Kom  (ketiga dari kiri) berfose bersama pengurus RW 01, ibu-ibu PKK, pengurus RT02, Ketua RW01 Iskandar, dan direktur Bank Sampah Tikukur, usai meresmikan bank Sampah Tikukur, Bandung, Minggu (04 April 2021).  Foto: kangisur

Soal harga jualnya bervariasi, mulai dari Rp50 hingga Rp31.000 per kilogramnya, tergantung jenis barang yang dijual. Tembaga sejenis kawat tembaga dan tembaga padat terbilang sampah paling mahal dijual di sini.

Ibu Lurah Sukapura, Malinasari S.Kom, cukup terpana sekaligus bangga warganya punya kreativitas yang sangat mendukung pengurangan sampah non-organik yang bisanya selalu membuat masalah banjir.

“Masyarakat tidak lagi membuang sampah plastik ke selokan. Bahkan dengan begini masyarakat pun jadi enggan membuang sampah yang bernilai rupiah. Membuang sampah ke TPS sama dengan membuang uang,” ungkap Lurah Sukapura yang energik dan paling getol bertemu warganya ini, Minggu 4 April 2021.

Didampingi Ketua RW 01 Iskandar, Ibu Lurah yang gemar mengenakan sepatu ket ini secara terbuka meresmikan Bank Sampah Tikukur disaksikan ibu-ibu PKK, Linmas Sukapura, pengurus RW 01 dan sejumlah pengurus RT lainnya.

Dengan dibukanya secara resmi oleh Ibu Lurah, Bank Sampah ini pun terbuka untuk warga mana pun, khususnya warga RW01, untuk menjual sampah non-organiknya ke Bank Sampah Tikukur. Kata Ibu Lurah sampah non-organik jangan dibuang sembarangan apalagi dibakar karena akan melanggar Undang Undang Sampah No 18 Tahun 2008.

“Ini contoh yang hebat, akan sangat bagus jika lahir lagi bank sampah lainnya di Kelurahan Sukapura. Maka sebagian persoalan sampah akan teratasi,” ungkap Lurah Malinasari yang mengaitkan keselarasan inisiatif warga ini dengan Program Kang Kisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) seperti yang dicanangkan Walikota Bandung Oded M Danial.

Yang merasa sangat terbantu dengan Bank Sampah Tikukur ini terutama Ketua RW 01 Sukapura, Iskandar. Ide awalnya bagaimana sampah di wilayah RW-nya bisa teratasi. Sebab ketika terpilih sebagai ketua RW 01 itu Iskandar selain memikirkan cara mengurangi dampak pandemi Covid-9 juga bingung mengurus soal sampah.

“Gak dibuang terus menumpuk, kalau dibuang menambah beban TPS dan TPA sampah. Keinginan lama obrolan dengan Bpk Drs Suryana (Ketua Bidang Lingkungan Hidup RW01 -red) cara mengatasi masalah lingkungan, tercetus oleh ide dan inisiatif Ketua RT 02 Pak Rasyakin mendirikan Bank Sampah. Ah.. ini kebetulan sekali, mungkin ini salah satu solusi soal sampah dan ekonomi kerakyatan sekaligus,” ungkap Iskandar dengan ekspresi bangga.

Rencanya ke depan, Iskandar dan jajarannya akan ikut mengampanyekan Bank Sampah Tikukur kepada warganya di seluruh kepengurusan RT 01 sampai RT 09. Setidaknya, kata Iskandar, sampah jadi uang dan juga sebuah solusi mengatasi krisis pendapatan warga akibat virus corona.

“Juallah sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah sembarangan, karena Anda sembarangan membuang uang ke selokan,” tandas Iskandar sambil melempar senyum. Kelak Bank Sampah tidak hanya stay di tempat tetapi akan jemput bola membeli sampah non-organik yang sudah dipilah masyarakat.[isur]

No comments