Dr H Badrudin MAg: Belajar Daring Lebih Banyak Dampak Negatifnya Ketimbang Positifnya | HARDIKNAS 2021

Share:

BANDUNG, intronews.my.id – Sejak diberlakukannya masa Darurat Covid-19 tangga 16 Maret 2020 lalu, dosen UIN Bandung pemilik gelar dua doktor sekaligus Dr H Badrudin MAg, mengaku belajar-mengajar online (Dalam Jaringan, Daring) lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya.

“Lebih banyak dampak negatifnya, ini bisa dirasakan oleh seluruh guru dan peserta didik,” ungkap Ketua Umum Perma Pendis Dr H Badrudin MAg kepada INTRONEWS, di Bandung Sabtu malam (1 Mei 2021), saat berdiskusi mengenai satu tahun belajar daring sambil memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Dengan adanya pembelajaran daring itu, kata Badrudin, memang guru dan peserta didik sama-sama belajar memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Namun jika dampak negatifnya lebih besar akan sangat mempengaruhi nasib pendidikan Indonesia di masa mendatang.

Dengan Belajar Daring, lanjut Badrudin, guru maupun peserta didik jadi biasa menggunakan Platform Group Whatsapp, Google Classroom, Moodle, dan aplikasi belajar online lainnya. Untuk pembelajaran secara sinkronus guru juga memanfaatkan media Google Meet, Zoom Cloud Meeting, dan Cisco Webex.

Namun demikian ada plus-minusnya. Dr Badrudin mengklasifikasi dampak dari belajar dalam jaringan atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat Covid-19 dalam dua kategori, yakni dampak positif dan dampak negatif.

“Masing-masing sangat mempengaruhi kebiasaan guru maupun peserta didik,” kata Badrudin yang ahli dalam Manajemen Pendidikan Islam ini.

Dampak positif sistem pembelajaran daring terhadap peserta didik:

1. Lebih hemat waktu, tenaga, biaya karena menjangkau jumlah audience lebih banyak;
2. Bahan ajar dikemas Dan disajikan sesuai standar yg dibakukan;
3. Komunikasi Lebih efektif;
4. Lebih disiplin waktu.

Dampak negatifnya:
1. Tidak semua peserta didik memiliki gadget dan kuota internet yang cukup;
2. Gangguan sinyal untuk daerah tertentu;
3. Kebijakan penggunaan learning managemen sistem tiap satuan pendidikan beragam;
4. Budaya belajar peserta didik yg bervariasi menyebabkan capaian pembelajaran tak merata;
5. Sebagian pendidik tidak konsisten dalam waktu pembelajaran;
6. Cepat Lelah dan membosankan;
7. Sulit mengajarkan materi keterampilan melalui sistem daring.

Diakuinya, di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sudah canggih sekalipun pembelajaran daring tetap membuat sebagian peserta didik maupun guru agak tersentak kaget. Ada kebiasaan baru yang cukup merepotkan, termasuk harus melibatkan orangtua dan biaya.

Daring berjalan dengan berbagai keterbatasan kemampuan, sarana dan prasarana handphone, laptop dan jaringan. Bagi guru dan peserta didik terbatas dalam kemampuan pemanfaatan teknologi membuat pelaksanaan pembelajaran daring harus tetap diupayakan maksimal. Tujuannya agar proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik tidak terganggu.

Pihaknya berharap cara pembelajaran daring yang dampak negatifnya lebih banyak tidak harus berlaku lama. “Bagaimana pun pembelajaran offline alias tatap muka di kelas jauh lebih berbobot ketimbang online. Semoga pandemic Covid-19 segera berakhir,” pungkas Badrudin.[isur]

No comments