Prof Ah Fathonih: Belajar Daring Terkendala Kualitas dan Akses | HARDIKNAS 2021

Share:

BANDUNG, intronews.my.id - Menyikapi satu tahun terakhir masa pandemi covid 19 terhadap dunia pendidikan, wakil rektor III Bidang kemahasiswaan dan alumni UIN Bandung Prof Dr Ah Fathonih meminta kemendikbud ristek menggenjot kualitas guru dan peserta didik.

Dalam catatan profesor yang satu ini, dua hal yang menjadi persoalan mendasar pendidikan di Indonesia, yakni soal Kualitas soal Akses.

“Untuk soal kualitas pendidikan di kita yang perlu digenjot oleh Kemendikbud Ristek terutama guru dan peserta didik,” ungkap Prof Ah Fathonih kepada Intronews di Bandung, Sabtu malam 1 Mei 2021, sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional yang selalu dikenang setiap tanggal 2 Mei.  

Sedangkan soal akses, sambungnya, juga menjadi persoalan kita bersama saat ini. “Hari ini akses pendiikan 12 tahun belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh rakyat,” tandas guru besar yang akrab disapa Prof Tonih ini.

Tak kalah penting persoalan pendidikan hari ini terkait pembelajaran daring (Dalam Jaringan) alias online banyak menghadapi kendala di musim pandemic Covid-19. Baik itu akses jaringan maupun tingkat kejenuhan peserta didik.

“Masalahnya, tidak ada inovasi dan akselerasi di era saat ini oleh para guru dan juga dosen,” tandas Prof Fathonih yang juga ketua Gugus Tugas penanganan Covid-19 di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Oleh karena itu, kata dia, pemerintah harus kerja ekstra menangani sektor pendidikan. Hari ini dampak pandemi banyak anak-anak putus sekolah karena faktor biaya akibat orangtuanya di-PHK atau tidak ada biaya.

Sementara bagi dunia perguruan tinggi dampaknya langsung dirasakan para mahasiswa. Mereka kuliah bisa daring, namun dalam menunjang dan mengembamgkan bakat dan minat seringkali mengalami kesulitan.

“Karena mereka tidak bisa akselerasi di luar jaringan (luring) alias offline,” ungkap Prof Fathonih yang mantan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Bandung ini.

Dalam kesulitan yang belum pernah dialami mahasiswa sepenjang sejarah pembelajaran perguruan tinggi, “adaptasi kegiatan kemahasiswaan sebuah keharusan,” pungkasnya.[isur]

No comments